Ciara terlihat fokus dengan tugas yang baru saja di berikan oleh seorang guru, mengejar ketertinggalan nya di hari-hari kemarin. Seorang gadis dari belakang bangkunya mencondongkan tubuh kearahnya.
"Ciara.."
"Hmm?" Jawabnya seraya menoleh ke belakang.
"Soal nomor 13 tadi itu jawabannya A?"
"Iya,"
"Sialan, gue salah dong ishhh.." Kesal gadis tersebut, Ciara yang mendengarnya hanya tersenyum dan kembali membalikkan tubuh ke depan.
Tatapannya teralih saat mendengar suara tawa Radhea yang terdengar renyah. Senyumannya luntur seketika kala Radhea pun menatap kearahnya namun dengan cepat memutuskan kontak mata dengannya.
Gadis itu menghela nafas dan kembali mengalihkan pandangan pada beberapa gadis yang entah sejak kapan berada di hadapannya, bertanya tentang ujian dadakan di awal pelajaran tadi. Hingga terdengar suara bel tanda pelajaran berakhir, serentak para gadis yang mengerubungi Ciara pun kembali ke bangkunya masing-masing dan menghambur keluar kelas.
"Lo sama Ciara, putus??" Bisik Vio dari bangku belakang Radhea.
"Ck! pacaran aja kagak!"
"Cihh ngeles mulu si Dhea!" Timpal Thea diangguki Vio.
"Lah emang engga!"
"Kenapa gak pacaran?"
"Kalo di pikir-pikir kalian cocok sih. Lo cantik, Ara cantik. Couple goals hahaha.." Kini Monic yang berbicara, Vio dan Thea saling mendaratkan tepukan pada punggung Radhea.
"Ck! apaan sih!" Kesal Radhea, sementara ketiga gadis lain malah tertawa dan semakin asik mencandainya.
Ciara masih sibuk membenahi buku-bukunya, kelas kini terlihat lebih sepi karena murid lain telah meningalkan kelas dan pulang. Ia melirik Radhea yang masih asik mengobrol dengan ketiga teman barunya disana. Tak ingin mengganggu, Ciara bangkit hendak pergi darisana.
"Ciaraa.."
Langkahnya terhenti kala seseorang memanggilnya, ia membalikkan tubuh kearah suara tersebut.
"Mau pulang?" Ciara hanya mengangguk seraya melirik Radhea sekilas.
"Gak bareng pacarnya?"
"Vio! apaan sih!" Kesal Radhea yang jelas terdengar oleh Ciara.
"Ara bisa pulang sendiri!" Setelahnya Ciara pergi darisana meninggalkan jeritan-jeritan manja yang mencemooh dari ketiga gadis disana.
Ciara berjalan lemas dengan kedua tangan yang ia masukan kedalam saku jaket. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, namun ia memilih memaksakan sekolah setelah kemarin Radhea kembali menghubunginya. Meski tak sesuai dengan apa yang ia harapkan, setidaknya Ciara tak terlalu banyak ketinggalan pelajaran nantinya.
"Hah.. "
Gadis itu berhenti tepat di ambang koridor antara parkiran sepedanya. Ia menatap langit terang diatasnya dan terdiam penuh keraguan.
"Jangan terlalu cape sayang.."
Ia mengingat bagaimana petuah sang ibunda tadi pagi, namun nyatanya Ciara merasa kelelahan hanya karena melihat matahari terik apalagi jika harus bersepeda di bawah sengatan sinarnya.
Tatapannya masih kearah parkiran, menatap satu persatu deretan sepeda dan menyadari bahwa tak ada sepeda milik Radhea disana.
"Dhea gak bawa sepeda?" Gumamnya heran.
"Eh masih disini?" Ciara menoleh kaget saat seseorang merangkul pundaknya.
"Nungguin Radhea nih pasti?"
"Engga kok" Balas Ciara seraya membuang pandangan menyadari Radhea tengah menatapnya.
"Mau ikut kita?" Tawar Vio. Tanpa bertanya ataupun menjawab Ciara menggeleng tipis dan berjalan kearah sepedanya.
Vio, Thea, Radhea dan Monica menatap heran pada tingkah Ciara yang biasanya lebih hangat dari itu. Kemudian berjalan kearah mobil Thea dan mulai meninggalkan parkiran, melewati Ciara yang masih berdiri di samping sepedanya.
Ciara tersenyum teramat tipis mengetahui alasan Radhea tak memakai sepedanya. Ia menarik nafas panjang, menaiki sepedanya dan berlalu dari pelataran parkir sekolah.
"Bunda.. ayah.. Ara pulang.."
Hening.
Tak ada sedikitpun suara yang terdengar, tadi pagi kedua orangtuanya masih berada disini. Ciara menghela nafas lelah kemudian mendudukkan tubuhnya diatas sofa. Mengedarkan pandangan pada rumah megahnya, tatapannya terpaku pada sebuah bingkai foto besar di hadapannya.Foto yang berisikan ia, ayah dan bundanya yang tersenyum penuh kebahagiaan. Satu-satunya kenangan yang ia miliki sebelum ayah dan ibunya sibuk dengan bisnis mereka.
"Dari dulu ayah sama bunda selalu sibuk, tapi Ara gak pernah ngerasa sendirian.." Ujarnya menggebu lirih seraya mengingat Radhea.
"Tapi sekarang, Ara bener-bener kesepian!"
Ciara menundukkan kepala, airmatanya mengalir deras juga isakan yang semakin tak tertahan. Kemarin, ia masih memiliki Radhea sebagai penghilang sepinya tapi hari ini Ciara benar-benar sendirian. Bagaimana pun juga, Ciara membutuhkan seseorang untuk membagi semua yang ia rasakan, bukan malah menelan dan menahannya sendirian.
Gadis itu bangkit dan berjalan kearah dapur, merasa dahaga setelah berhasil menumpahkan kepedihannya. Meski tak sedikitpun terobati, setidaknya biarkan rumah kosong ini mendengar jeritan bathinnya.
"Ara.." Ciara terdiam dengan tangan yang masih menggenggam gelas, perlahan ia membalikkan tubuh.
"Radhea, ngapain-.."
Grep!
Ucapannya tersela oleh Radhea yang tiba-tiba saja berlari dan memeluknya erat. Ia masih dalam posisinya, entah mengapa enggan percaya bahwa Radhea kini memeluknya. Ciara terkesiap kala mendengar Radhea terisak.
"D-Dhea.."
"M-maafin Dhea hiks.."
"Kenapa?"
"Maaf, Dhea biarin Ara kesepian.. maaf hiks.."
Ciara bungkam, ia masih dalam mode terkejutnya karena kedatangan tiba-tiba gadis tersebut.
Radhea melepaskan pelukannya, menatap Ciara dengan air mata yang masih mengalir dari pelupuknya. Kedua tangannya terangkat menyentuh pipi Ciara kemudian menarik wajahnya dan mendaratkan kecupan di kening Ciara.
"Maaf .."

KAMU SEDANG MEMBACA
HOMELESS (GxG) (COMPLETED)
Teen Fiction"Aku kehilangan arah, ceria dan tawa. Yang lebih parah dari semua, aku kehilangan Rumah!"