15.0

501 49 6
                                    


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.

"Hah.. " 

"Ciara.." 

Radhea merebahkan tubuhnya di atas ranjang. 4 hari berlalu setelah kejadian siang itu namun Ciara sama sekali tak bisa di hubungi. Gadis itu menghilang begitu saja bahkan kedua orang tuanya pun tak tahu keberadaan anaknya dan hanya menyangka Ciara mengurung diri di kamar.

Ia memejamkan matanya mengingat perkataannya waktu itu tentang Ciara. Perkataan yang teramat buruk yang membuat Ciara menghilang juga Alea, kakak kandungnya memusuhinya sekarang. Ia menyesalinya, Radhea teramat membenci dirinya sendiri saat ini. 

Gadis itu bangkit dan bergegas keluar dari rumah. Menaiki sepedanya menuju sebuah tempat.

"Belum neng, bapak belum liat neng Ciara ataupun orang tuanya.." 

"Makasih pak" Radhea menatap sendu kearah rumah kosong milik keluarga Ciara.

Ia kembali membawa sepedanya melaju menuju taman tempat biasa ia dan Ciara menghabiskan waktu bersama. 

Setelah memarkirkan sepedanya, gadis itu terduduk di sebuah bangku yang biasa mereka tempati. Mengedarkan pandangan kemudian terdiam kala sebuah bayangan masalalu kembali teringat saat melihat ayunan di hadapannya.

"Jangan kenceng-kenceng dorongnya, Ara takut.." 

"Iya bawel.." 

Radhea mengalihkan kembali pandangannya pada sebuah perosotan yang tak jauh darinya.

"Ara, cepet turun yang lain nungguin tuh.."

"T-tapi Ara takut.."

"Cepet Ciaraa.."

Radhea terkekeh kecil mengingat wajah ketakutan Ciara saat akan menuruni perosotan.

Pandangannya kembali teralih pada sebuah pohon besar di sudut taman. Ia bangkit, berjalan kearahnya kemudian duduk bersandar di bawah pohon tersebut.

"Nangis aja, jangan so kuat Ciara.."

"Hiks.. hiks.."  Radhea memeluk Ciara dengan hangat, 

"J-jangan tinggalin Ara"

"Dhea disini, Dhea janji bakalan terus di sini buat Ara" 

"T-tapi Ara takut.." 

"Takut apa?"

"Ara takut suatu saat nanti Dhea nemuin orang yang lebih baik dari Ara dan Dhea pergi ninggalin Ara.." 

"Haha.. gak ada yang lebih baik dari Ara. Siapapun orangnya, Ciara tetap jadi sahabat terbaik dan orang terfavorit buat Radhea.." 

"Hiks.. hiks.. " 

"Ciara.. maafin Dhea hiks.."  Ia mulai menangis, semua kenangan bersama Ciara tak pernah sedikit pun ia lupakan.

Ciara selalu bisa membuatnya tertawa dan menjadi dirinya sendiri. Ciara tak pernah membiarkannya kesepian ataupun bersedih, Ciara tak pernah berkata buruk tentangnya ataupun membuatnya kesal. 

Namun mengapa ia tega membuat Ciara terluka hanya karena tak ingin di anggap buruk oleh teman-teman barunya?

Mengapa Radhea memperdulikan pandangan oranglain saat Ciara pun tak pernah memandangnya buruk?.

Dugh! 

Ia memukul dadanya sendiri. Ini sakit, teramat sakit saat ia menyadari bahwa ialah penyebab kesakitan gadis yang di sayanginya selama ini. 

Radhea merasa gagal menjaga senyuman manis favoritnya. Gadis itu membungkukkan tubuhnya kearah tanah dengan tangisan yang semakin memilukan.





Langit mulai gelap, Radhea telah menghentikan tangisannya. Ia berjalan kearah sepeda dan meninggalkan taman tersebut. 

Menyusuri jalanan yang sering di lalui Ciara hanya untuk berharap bahwa ia akan bertemu dengan gadis tersebut tanpa sengaja. Namun hingga ia sampai ke depan rumahnya, pengharapannya pun pupus.

Alea tengah berbincang ringan bersama Reka dan Syifa di ruang tamu, ketiganya melirik kearah pintu saat Radhea masuk dengan tatapan yang kosong dan kedua mata yang membengkak. 

"Dari mana?"  Radhea menghentikan langkahnya dan melirik pada Alea, masih dengan tatapan kosongnya kemudian berlalu begitu saja tanpa menjawab tanya sang kakak.

"Lo masih musuhan sama adik lo?"  Tanya Reka masih menatap kearah perginya Radhea.

"Bahkan kita tau kalo diantara kita, Radhea lah yang paling tersiksa" Ujar Syifa sendu.

"Tapi dia salah!"

"Lea.. Alasan apa yang bikin Radhea ngomong kayak gitu kan kita gak tau. Kita kesampingkan dulu masalah itu, sekarang kita harus perhatiin adik lo.."  Alea terdiam membenarkan apa yang teman-temannya ucapkan. 

Ia bangkit dari duduknya kemudian berjalan kearah kamar Radhea, Reka dan Syifa pun ikut bersamanya. 

Tangannya memutar kenop pintu dan membukanya. 
Ketiga gadis itu mematung melihat keadaan kamar Radhea yang berantakan dan gelap.
Alea masuk dan menyalakan lampu kamar.

Tatapannya teralih pada Radhea yang terduduk di pojok ranjang dengan tatapan yang masih kosong. 
Reka dan Syifa saling pandang kemudian ikut mendekati ranjang.

"Dhea.." 

"Radhea.." 

Namun Radhea sama sekali tak menanggapi, gadis itu masih asik menatap bingkai foto diatas nakas yang menampakan dirinya bersama Ciara tengah tersenyum riang. Syifa mengikuti arah pandang Radhea kemudian mengambil bingkai foto tersebut. 

"C-Ciara.." 

Syifa menyerahkan foto tersebut pada Radhea, gadis itu mengambilnya kemudian tersenyum dan memeluknya.

"Pulang, Ara.." 

Alea tak kuasa melihat tingkah sang adik, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Reka dan menangis dalam diam. 

"Radhea .."

"K-kak, Ciara masih marah sama aku? Aku mau minta maaf kak.."  Radhea kini menatap Alea dan menggenggam tangannya. 

Alea mengusap air matanya dan menatap sang adik.

"D-Dhea sayang Ara kak.. " 

"Kakak tau.. "  

"Suruh Ara pulang" 

"Ara bentar lagi pulang kok"

"Maafin Dhea.. Maafin Dhea.. " Gumam Radhea terus menerus seraya menatap kosong pada bingkai foto di tangannya. 

Syifa menyembunyikan tangisannya di balik punggung Reka, sedangkan Reka berusaha sekuat tenaga agar tak menangis. 


















HOMELESS (GxG) (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang