19.0

513 40 0
                                    


"Tidak ada yang tau tentang penyakit Ciara bahkan kedua orangtuanya, apa kamu tau?"  Tanya dokter Hanna, Radhea menggeleng lemah membuat dokher Hanna menghela nafas dan memejamkan mata.

"Bagaimana bisa seorang gadis berusia 17 tahun menanggung semuanya sendirian?" Tanyanya dalam hati.

"A-Ara bisa sembuh kan dok?"  Dokter Hanna membuka matanya, menatap Radhea yang menunjukkan pengharapan padanya.

Ia terdiam, memikirkan tentang bagaimana perasaan gadis di hadapannya ini kala mendengar kebenarannya nanti. Bagaimana caranya menyampaikan bahwa takkan ada harapan yang bisa ia berikan dan hanya keajaiban Tuhan yang bisa menjawabnya.

"T-tolong sembuhkan Ciara dokter, saya mohon.." Dokter Hanna tersentak kala Radhea turun dari kursinya dan bersimpuh di hadapannya.

Dengan cepat ia menarik tubuh Radhea dan memeluknya.

"Berdoalah.." 

Hanya itu yang ia sampaikan, sang dokter tak ingin memberikan harapan lebih pada si gadis bahkan saat ia sendiri tak yakin dengan segala yang ia pikirkan.






Radhea berjalan lemah menyusuri trotoar, entah apa yang ia lakukan dan kemana arah yang ia tuju, gadis itu hanya tak ingin lagi merasakan sesak jika terus menatap wajah pucat Ciara.

Langkahnya terhenti, menatap sebuah kedai sederhana yang sering ia datangi bersama Ciara. Ia membawa kakinya melangkah masuk dan duduk di tempat biasa mereka.

"Silahkan, yang satunya belum datang ya?"  Tanya pelayan kedai seraya menyajikan 2 gelas es susu cokelat kegemaran mereka. 

Radhea hanya tersenyum tipis menimpalinya.
Perlahan ia meneguk minumannya, terdiam melihat gelas lainnya yang masih terisi penuh.
Radhea ingin sekali menangis, namun air matanya seakan mengering.

Ia lelah jika harus terus meratapi kesalahannya tanpa bisa memperbaikinya.
Tangannya mengambil gelas tersebut dan meneguknya hingga habis dan keluar dari sana, meneruskan langkah tanpa tujunya.

Entah sadar atau tidak, kini Radhea telah jauh berjalan dari rumah sakit. Langkah kakinya terhenti tepat di sebuah taman. Taman yang selalu ia datangi dan menyimpan berjuta kenangan bersama Ciara.

Ia terduduk di bangku taman, langit terlihat tak secerah tadi namun belum masuk waktu senja. Gadis itu mengedarkan pandangan, tak banyak orang disana membuatnya merasa tenang.

"Radhea.." 

Ia menoleh kala mendengar sebuah suara memanggil namanya. Gadis itu tertegun sesaat melihat bayangan Ciara tengah tersenyum manis kearahnya tepat di sebelahnya.

"Kamu pasti cape, sini rebahan.." 

Gadis itu tersenyum dan mengangguk kemudian merebahkan kepalanya diatas pangkuan Ciara. Ciara mengusap lembut kepala Radhea, membuatnya terbuai dan nyaman.

"Jangan tinggalin Dhea.."  Pintanya, Ciara tersenyum.

"Tidurlah, Ara disini.." 

Radhea ikut tersenyum kemudian memejamkan mata lelahnya dan tanpa sadar tertidur lelap.












Di rumah sakit.

Dokter Hanna bersama beberapa perawat terlihat panik dan berlari kearah ruangan Ciara. 
Reka yang tengah menjaga Ciara menekan tombol darurat kala melihat tubuh Ciara kembali kejang.

Gadis itu kini berdiri resah di depan pintu ruangan Ciara, menunggu Alea dan Syifa yang tengah membeli makanan di kantin rumah sakit.

"Reka.."

"C-Ciara.."  Gugup Reka ketakutan kala Alea dan Syifa menghampirinya.

Alea mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi nomor kedua orangtua Ciara, namun nihil nomor mereka tak aktif.

"Bisa-bisanya lebih mentingin bisnis daripada anak nya sendiri!!" Geramnya menggerutu, 

SREEET!

"Sus.. Susterr.. "  Panggilnya kala melihat seorang perawat keluar dari ruangan namun tergesa dan tak menghiraukan mereka.

Ketiga gadis tersebut menyadari bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, berulang kali beberapa perawat masuk dan keluar membawa alat-alat medis yang mereka sendiri tak tahu apa kegunaannya, membuat ketiganya semakin di hantui oleh pikiran negative.







Langit oranye berganti kelabu, Radhea masih disana. Meringkuk diatas bangku taman, masih nyaman dengan tidur lelapnya di pangkuan Ciara, pikirnya.
Hingga tiba-tiba ia terbangun dan langsung terduduk dengan nafas yang tak beraturan.

Ia mengedarkan pandangan mencari Ciara yang tadi ada bersamanya namun tak menemukannya, taman itu kini sepi.

Drrttt.. Drrttt.. 

Ponselnya berdering, ia mengeluarkannya dan kaget melihat banyak panggilan tak terjawab dari Alea, Reka dan Syifa. Panggilan terhenti kala ibu jarinya hendak menekan tombol hijau.

"Ciara.." Gumamnya dan kembali mengedarkan pandangan.

Drtttt.. Drttt..

Perhatiannya kembali teralih pada ponsel yang berdering, Radhea mengernyit melihat nomor tak di kenal yang kini memanggilnya. Ia menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya.

"Radhea.." 

"D-dokter Hanna.."  Seketika perasaanya tak enak, jantungnya berdegup tak karuan, keringat pun tiba-tiba bercucuran.

"Jika terlahir kembali, Ara harap bisa menjadi teman yang baik untuk Radhea yang pintar mencari topik pembicaraan."

"Aku sakit dan kesepian"

"Apa Ara semenjijikan itu??" 

"Ara sayang Dhea."

Semua kalimat yang tertulis di buku harian Ciara kembali memenuhi benaknya, kedua matanya bergetar dan bergulir resah, air mata semakin memupuk di pelupuknya.

"Ciara.."





















HOMELESS (GxG) (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang