21.0

1.1K 69 39
                                    

Beratus jam terlewati tanpa sedikitpun ceria yang menggenapi. Terlebih memang ia yang begitu jelas menutup hati.
Si gadis ceria yang seakan mati meski raganya utuh namun sesuatu dalam hidupnya lebur dan lantak.

Beberapa gadis terlihat mengelilinginya, berceloteh tentang tugas yang di berikan seorang guru secara berkelompok. Tak sedikitpun mengundang minat gadis yang sedari tadi menunjukkan wajah datar.

"Gimana kalo di rumah lo, Radhea?"  Radhea meliriknya datar.

"Gue gak punya rumah!"  Ujarnya tak kalah datar kemudian bangkit dan berjalan keluar dari kelas. 

Beberapa gadis masih menatap kearah perginya dengan perasaan yang tak karuan.

"Udah setahun berlalu, tapi dia masih terus kayak gitu.."

"Heem"

"Gue pun masih ngerasa bersalah."

"Gue juga.."

Bukankah penyelasan memang selalu datang belakangan?
Perasaan bersalah akan terus membayangi setiap langkah insan yang bertanggung jawab terhadapnya.



Radhea berjalan santai seorang diri, menyusuri koridor sekolah yang hampir sepi. Gadis itu menyumbat kedua lubang telinganya dengan headset dan selalu menunjukkan tatapan datar meski beberapa adik kelas berusaha menyapanya dengan ramah.

Tanpa perlu repot berbelok arah ke area parkir, ia keluar dari gerbang sekolah dan berjalan kaki menuju rumahnya.

Sang gadis memasuki gerbang rumah, ia berjalan pelan dan melirik sesaat kearah sepedanya yang terparkir di garasi. Tatapannya masih datar, kemudian melanjutkan langkah memasuki rumah.

Alea dan Reka tengah berbincang ringan di ruang tamu, pandangan mereka teralih kala melihat Radhea.

"Kamu baru pulang?" 

"Hmm.." Balas Radhea tak minat dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.

"Makan dulu Dhe.."  Alea berteriak namun sama sekali tak di hiraukan.

"Gue sedih banget liat Dhea.."  Ujarnya sendu, Reka mengusap punggungnya.

"Semenjak saat itu, dia bener-bener jadi oranglain. Radhea yang ceria berubah menjadi Radhea yang tertutup, kayak gak punya semangat hidup!"

"Lo paham kan keadaan adik lo, gak gampang buat bertahan di posisi Dhea.."

"Heem sih, tapi.."

"Kita hanya harus support dia dan mastiin dia baik-baik aja.."

"Dia sama sekali gak baik aja, Re!" 

"Gue ngerti, gak akan ada yang baik aja dengan perpisahan dan kehilangan. Tapi setidaknya, Radhea masih mau sekolah, makan dan gak ngelakuin hal bodoh itu udah pencapaian baik. Siapa tau besok atau lusa, Radhea bisa ikhlas dan kembali jadi dirinya sendiri.."

"Semoga" 

Lagi dan lagi, mereka hanya bisa berharap agar Radhea bisa berdamai dengan keadaan dan kembali menjadi dirinya sendiri. 



Radhea merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya seraya mendengarkan sebuah lagu dari ponselnya. Kedipan lambat kelopak matanya menandakan bahwa ia tengah melamun atau memikirkan suatu hal.

Hingga lagu berganti, gadis itu bangkit terduduk dan mematikan lagu dari ponselnya.

Ia berjalan menuju meja belajarnya, mengeluarkan beberapa buku pelajaran kemudian mengerjakan tugas sekolah dengan serius.

HOMELESS (GxG) (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang