01. "Semua Ini Salahku."

1.3K 116 37
                                        

— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —

"Semua ini salahku."

Embun Selina, perempuan itu duduk di ranjang rumah sakit sembari memandang ke arah empat ranjang rumah sakit yang berada di hadapannya. Ia sengaja meminta posisi ranjang seperti ini di dalam satu ruangan, sebab dengan begini ia bisa memantau empat anak gadis di sana.

Wajahnya terlihat pucat, dia seperti pasien sakit pada umumnya.

Cukup lama bergelut dengan lamunannya, pandangan Embun mulai teralihkan pada seseorang yang telah membuka matanya. Tidak ada yang lebih membahagiakan dibanding dengan sadarnya salah satu dari empat anak gadis di sana. Akan lebih bahagia lagi apabila keempatnya tersadar.

"Nadin!" pekik Embun tertahan sebab ia membekap mulutnya sendiri.

Buru-buru Embun turun dari ranjang rumah sakitnya, ia berlari kecil menghampiri Si Anak Pertama yang telah membuka mata. Namanya hanya Nadin, tidak ada kepanjangan.

"Syukurlah kamu sudah sadar, kamu—"

"Bunda maaf~" lirih Nadin dengan suara yang serak. "Nadin yang ajak adik-adik main hujan, Nadin yang ajak adik-adik pergi, jangan marahi mereka, Nadin yang salah."

Embun terpaku membisu dibuatnya.

"Bunda, ya?" sahut Nadin makin gemetar, bahkan air mata gadis itu mulai meluruh. "Jangan salahkan adik-adik, marahi saja Nadin, seharusnya Nadin larang mereka main hujan~"

Embun menelan ludahnya dengan susah payah. Bahkan Nadin baru membuka matanya, tapi dia sudah memohon maaf untuk semua kecelakaan yang menimpa mereka. Tiba-tiba saja Nadin memaksa untuk duduk, tapi kondisinya masih belum stabil sehingga dia harus tetap terbaring di sana.

"Ampun, Bun~" lirih Nadin. "Jangan marahi kami~"

Jantung Embun seperti berhenti berdetak saat ini juga, mendengar suara gemetar serta melihat air matanya membuat hati Embun terenyuh.

"Ti-tidak apa-apa, kok," sahut Embun setelah beberapa menit berdiam diri dengan keraguannya. "It's okay, tidak masalah. Sebaiknya kamu beristirahat."

Nadin menoleh dengan raut wajah terkejut, perkataan yang keluar dari mulut Embun seolah menjadi hal yang baru baginya. Kemudian, jemari lentik Embun terulur dengan sedikit keraguan, ia membelai wajah Nadin yang pucat, dia juga mengusap air mata yang menjejak di sana.

"Kamu, kamu istirahat saja," ucap Embun. "Apa perlu panggil Dokter?"

Nadin terpaku membisu.

"Nadin?"

Nadin hanya bergeming.

"Hei, Bunda panggil kamu, lho. Nadin?"

"Tidak, ti-tidak perlu, Bunda," jawab Nadin gugup. "Tidak perlu, tidak apa-apa, Nadin baik-baik saja."

Embun menggigit bibir bawahnya sendiri khawatir, kemudian ia menoleh ke samping kanan tepat pada tiga anak gadis lainnya. Dia terperanjat kaget, kalau mau dia bisa saja melompat ke ranjang Nadin sebab saking terkejutnya melihat mereka yang sudah duduk sambil menatap ke arahnya.

"Kalian ini mengagetkan saja," kata Embun sambil cengengesan. "Hampir saja Bunda jantungan."

Nadin menggelengkan kepalanya saat tiga adiknya menatap dengan penuh tanda tanya. Dia juga tidak tahu mengapa Bundanya bisa sampai berubah seperti ini.

"Ini kalian mau dipanggilkan Dokter?" tanya Embun.

"Kamu bukan Bunda, kan?" sahut Gempita. "Iyakan? Kamu bukan Bunda!"

The Best MomCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang