— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
Terjadi keributan di jalanan, beberapa murid SMA berlarian dengan masing-masing membawa senjata andalan, ada juga yang datang dengan tangan kosong. Terpisah menjadi dua kelompok, sebut saja aksi tak terpuji ini terjadi akibat dari perseteruan antar dua sekolah. Mereka semua saling memukul, saling menendang, saling melempar senjata, dan tidak membiarkan satu pun lepas.
Terra.
Dia bukan murid perempuan satu-satunya, tapi dia menjadi salah satunya. Bersama teman-temannya dia ikut serta dalam aksi perseteruan tak terpuji tersebut.
Terra ini memang anak yang terlihat menurut, tetapi nyatanya dia pembangkang. Dia tahu apa resiko yang akan diterimanya apabila melakukan semua ini, tetap saja dia turun ke jalanan dan mengikuti aksi tawuran di sana. Dia ikut memukul dengan balok kayu yang dibawa, benda tumpulnya itu berhasil menumbangkan beberapa lawannya yang lengah. Dia yang lengah juga sempat kena serangan, walau berhasil bangkit meski sudah penuh luka.
Dia kabur dari rumah.
Berbeda dengan saudari-saudarinya yang menurut pada Embun, dia keluar rumah saat Embun pamit pergi memenuhi janji temu. Tentu saja dia pergi tanpa sepengetahuan siapa pun, bahkan Nadin tidak tahu Terra keluar rumah.
Sirine mobil kepolisian terdengar, keributan di sana menjadi makin ribut saja. Namun mereka sudah tidak saling pukul lagi sekarang, tetapi mereka berlarian menyelamatkan diri dari kejaran polisi. Beberapa dari mereka ada yang tertangkap, beberapa lagi banyak yang berhasil kabur.
Terra juga tertangkap. Dia tidak bisa berkutik saat seorang polisi menangkap dirinya, membawanya pada oknum-oknum yang berhasil diamankan. Mungkin hari ini merupakan hari sial bagi Terra, sebab tak seperti biasanya dia tertangkap. Melakukan aksi tak terpuji ini bukan yang pertama kali buat Terra.
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Terra!"
Terra menoleh, dia sudah panik saat mendengar suara Sang Bunda. Dia sudah berpikir Kak Nadin yang akan datang, sebab biasanya selalu Kak Nadin yang menangani setiap masalah para adik. Tetapi tidak kali ini, yang memanggil namanya bukanlah Kak Nadin.
"Terra, kamu gapapa, kan?"
"Ya ampun, kenapa bisa begini, sih?"
"Ada luka lain?"
"Terra, Bunda khawatir sama kamu!"
Kepanikan Terra berangsur menghilang saat Embun datang dengan sejumlah pertanyaan khawatir, belum lagi sorot matanya yang terlihat begitu hangat.
"Ayo pulang!" ajak Embun.
"Bunda bayar jaminannya?" tanya Terra.
Embun mengangguk.
"Bunda maaf~" sesal Terra, dia tanpa ragu memeluk Embun sebagai bentuk terima kasih karena sudah membayar jaminan agar dirinya tak masuk ke jeruji besi itu.
Embun menghembuskan napas pendek, ia membelai kepala Terra dan mendaratkan sebuah kecupan hangat nan lamat. Di saat seperti ini yang Terra butuhkan memanglah pelukan Sang Bunda, di saat seperti ini yang Terra butuhkan adalah pembelaan Sang Bunda.
"Ini yang terakhir, kan?" tanya Embun. "Jangan lakukan lagi, jangan buat masalah lagi, mengerti?"
Terra mengangguk sebagai jawaban. Pelukan itu merenggang, akhirnya Embun membawa Terra pulang dari tempat ini. Dalam hati, Terra terus bertanya-tanya mengapa Bundanya bisa sampai sebaik ini kepada dirinya yang sudah berulah. Padahal biasanya selalu Nadin yang dikirim untuk menjumpai Terra, membantu Terra menyelesaikan masalahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fiksi Penggemar[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
