— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
Embun meneguk segelas air penuh guna meleburkan sekitar lima butir obat yang masuk ke mulutnya. Ia menunduk dengan sebelah tangan yang berpegangan pada ujung meja makan, sedang satunya lagi ia gunakan untuk memegang gelas kosong. Ini sudah tengah malam, sudah saatnya beristirahat setelah seharian beraktivitas.
Namun, tidak bagi Embun. Ia harus melawan rasa sakit yang sewaktu-waktu akan timbul, sakit yang bisa mereda dalam waktu tertentu setelah ia meneguk obatnya.
"Tuhan, jangan sekarang~" lirih Embun.
Dia menaruh gelas itu pada meja, kemudian berjongkok seraya memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Lututnya sudah lemas sehingga ia tidak bisa berdiri lebih lama lagi, sakit di kepalanya belum mereda padahal obat sudah masuk ke perutnya. Peluh di dahi, bibirnya berubah pucat pasi.
"Bunda."
Suara lembut itu membuat Embun menoleh, tapi ia tidak menatap lebih lama pada seseorang yang datang itu.
"Butuh sesuatu?" tanya Embun, suaranya terdengar gemetar. "Kenapa belum tidur?"
"Bunda kenapa?"
"Masuk ke kamar kamu, Terra!"
Terra tersentak, ia mengangguk mantap dan secara spontan membalik tubuhnya. Gadis itu berlari meninggalkan dapur setelah menerima perintah tegas dari Sang Bunda.
Selang beberapa detik setelah Terra pergi, darah mengalir dari hidungnya. Embun baru bisa menghela napas setelah obat itu melakukan tindakannya. Ia baru bisa kembali berdiri, dan beralih duduk pada kursi terdekat.
"Hidup begini-begini terus, tapi kalau mati masih belum bisa hapus dosa," tutur Embun seraya memijat pangkal hidungnya mereda sisa pening. "Duh, tadi Terra mau apa, ya?"
Embun bergegas pergi dari dapur, ternyata Terra tidak pergi ke kamarnya, gadis itu baru berjalan ke kamar setelah melihat Embun.
"Tunggu!" tahan Embun.
Terra menegang, ia membalik tubuhnya dengan kedua tangan yang berpegangan pada ujung baju. Ia menunduk dalam, entah akan seperti apa nasibnya setelah ini.
"Kok, belum tidur?" tanya Embun.
"Ha-haus, Bunda," jawab Terra gugup.
Embun menghampiri Terra, saat menyentuh dagu Terra ingin melihat wajahnya, gadis itu dengan cepat malah menghindar. Kening Embun berkerut, sudah sampai sejauh mana mereka ketakutan seperti ini?
"Mau Bunda ambilkan airnya?" tanya Embun.
"Apa?" sahut Terra terkejut. "Tidak, Terra ambil sendiri saja. Maaf, Terra haus dan Terra tidak akan haus lagi, jangan pukul Terra, Bun."
Embun mengerucutkan bibirnya sedih, kemudian ia merengkuh tubuh kurus Terra ke dalam dekapannya. Terra terpaku membisu dibuatnya, dia tidak tahu mengapa semudah ini mendapatkan pelukan Sang Bunda.
"Bunda jahat, ya?" tanya Embun. "Sekarang tidak akan lagi, Bunda akan peluk, bukan pukul."
Terra masih terdiam, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Rasanya Terra ingin menangis, ingin menumpahkan rasa haru atas pelukan serta ucapan penuh kasih sayang dari Sang Bunda.
"Kamu haus, kan?" Embun melepaskan pelukannya. "Ambil saja airnya, Bunda mau tidur."
"Boleh?"
Embun mengernyit bingung, kemudian ia tersenyum. "Bolehlah! Masih bersyukur kamu bisa minum, ambil dan jangan sampai kamu tidur sambil menahan haus."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fanfiction[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
