04. "Bunda Tolong."

592 92 42
                                        

- ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ -

Anak-anak mulai pergi ke sekolah, dan suasana rumah terasa sepinya. Tapi tidak lama, beberapa tukang datang ke rumah, membawa barang-barang yang dipesan oleh Embun sekitar beberapa hari lalu. Baru datang hari ini, bisa jadi kejutan buat anak-anak saat pulang sekolah nanti.

Melihat kondisi meja belajar serta meja rias di kamar mereka, Embun jadi kepikiran untuk menggantinya. Sudah banyak coretan serta retakan di sana, daripada menutupi lebih baik beli baru lagi.

"Terima kasih~"

"Ya~"

Embun menghela napas lega, kamar anak-anak sudah lebih baik dengan meja belajar dan meja rias yang baru. Mereka pasti senang, apalagi keempatnya sama-sama suka belajar. Dengan hal baru ini, semoga menambah semangat untuk mereka terus belajar.

"Eh? Inikan buku matematika Nila, kenapa di sini?"

Embun menyadarinya, ia berjalan ke arah jadwal pelajaran dan memastikan bahwa buku ini seharusnya dibawa ke dalam tas Nila. Si bungsu itu sepertinya lupa memasukan buku ini ke dalam tasnya.

"Masih belum jam pelajarannya, mending aku antar."

Sedikit kasihan juga melihat matematika ini ditaruh di jam terakhir, takutnya Nila sudah pusing dan tidak fokus. Tapi, Embun bukan gurunya, dia tidak bisa mengubah jadwal pelajaran begitu saja.

Begitu sampai di garasi, Embun mengambil helm dengan penuh keraguan. Anak-anak pergi ke sekolah naik taksi yang ia pesan, sebab tidak ada mobil di sini, hanya ada motor saja. Biar adil, anak-anak disuruh naik taksi saja.

"Tidak apa-apa, Embun. Ayo, demi Nila kamu harus sampaikan buku ini, semangat!"

Embun memasangkan helm, kemudian ia naik ke motor dan mulai membawa mundur motor tersebut dari garasi. Tenang saja, Embun tidak akan lupa bagaimana cara mengendarai motor. Ia bersenandung pelan di perjalanan menuju ke sekolah Nila.

"Eh, nanti pas ke sana bakalan ada guru ganteng, ngga, ya? Mau tebar pesona, siapa tahu ada jodohnya, ahahaha."

Embun mengernyit melihat gerbang sekolah yang tidak ditutup, padahal biasanya setiap sekolah selalu menutup gerbang saat jam pelajaran dimulai. Begitu mendekat, Embun juga tidak melihat adanya satpam yang berjaga. Sekolah ini kurang dana atau bagaimana, ya?

"Ahahahaha, ayo jadikan dia kue nastar!"

"Gunakan telurnya yang banyak!"

"Buka mulut kamu, makan telur mentah ini!"

"Buka mulut kamu cepat!"

"Mau buka sendiri apa dibuka paksa, hah?!"

"Cepat!!!"

Embun buru-buru turun dari motor mendengar keributan tak beres itu, ia menaruh sembarang helm dan hampir tercekik tali helm saking terburu-buru. Tapi tidak masalah, dia masih bisa lari dan bernapas, kok.

"Minggir!"

Embun mendorong beberapa orang yang berkerumun di sana, dia ingin tahu apa yang mereka ributkan. Sesampainya di barisan paling depan kerumunan, Embun melihat seorang gadis yang tubuhnya dipenuhi tepung serta dibasahi oleh telur. Tangan gadis itu terikat, ia dibuat mendongak dan mulutnya dibuka paksa.

"Keterlaluan!" geram Embun.

Embun melangkah lebar dengan napas tidak beraturan, ia menjambak rambut salah seorang oknum yang hendak menumpahkan sebutir telur ke mulutnya-Nila.

"Bunda tolong."

"KALIAN APAKAN ANAK SAYA, HAH?!"

Teriakan Embun berhasil menggertak para oknum, Embun kini menjambak satu orang lagi yang dengan kasar membuka mulut Nila. Dia marah, sangat marah!

The Best MomCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang