— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
Embun menatap selembar kertas yang tergeletak di lantai, kertas tersebut melayang dari tas ransel Terra yang sedikit terbuka. Dia bergegas mengambil kertas tersebut untuk memastikan, dilihatnya surat undangan dari sekolah atas nama Nadin. Embun menatap ke sekitar, tidak ada siapa-siapa sehingga dia bisa menyembunyikan kertas itu.
Besok dia saja yang datang memenuhi surat undangan, kasihan kalau Nadin harus meninggalkan kelasnya. Nadin juga sebentar lagi akan lulus dari sekolah menengah atas, takutnya dia ketinggalan materi.
"Sebenarnya kamu siapa?"
Pertanyaan itu berasal dari Gempita, Embun melipat kertas undangan tersebut. Dia melangkah menghampiri Gempita, gadis itu sepertinya sudah mulai mengenali Bundanya, sudah mulai menyadari kalau yang saat ini bersama mereka bukanlah Bunda Starla.
"Jangan membodohi saudari-saudariku," ucap Gempita. "Di mana Bunda? Di mana Bunda Starla?"
Embun menggigit bibir bawahnya, ketika hendak meraih lengan Gempita gadis itu spontan mundur seperti enggan disentuh olehnya. Setelah menyadari kalau Embun bukanlah Bunda Starla, Gempita tidak lagi menundukkan kepalanya. Dia berani menatap Embun yang sedang berusaha mencari cara untuk menjelaskan segalanya.
Tapi tidak sepenuhnya akan ia ungkap dengan sejujur-jujurnya.
"Kamu mau menemui Bunda kamu?" tanya Embun dengan penuh hati-hati.
"Tidak." Gempita menjawab dengan cepat. "Jangan bawa Bunda kembali, Bunda akan melukai adik-adik, tidak."
Embun terdiam seketika. Dilihatnya Gempita yang gelisah, jemarinya bertaut satu sama lain sebagai pelampiasan dari kegelisahan itu.
"Kamu mau panggil saya Bunda bukan masalah, kamu mau panggil saya pakai sebutan apapun juga bukan masalah," tutur Embun. "Tapi, kamu lihat, kan? Sejauh ini saya tidak pernah melukai siapa-siapa."
Gempita mengangguk, dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Embun. Bahkan semenjak Embun datang, rasanya rumah ini menjadi lebih hidup lagi.
"Kalau ada waktu buat cerita soal Bunda-mu, saya mau dengar," kata Embun. "Saya cuma tau dari sisi Bunda kalian saja, saya baca semuanya di buku catatan yang tersimpan di laci."
"Tidak." Gempita menolak.
"It's okay, kita bisa bicara nanti saja, saya cuma memastikan saja. Kalau kamu sudah siap, temui saya dan ceritakan semuanya."
Gempita mengangguk, dia kembali menatap Embun untuk memastikan ketulusan pada dirinya. Dan dari sorot matanya saja, Gempita tidak menemukan sedikit pun celah kebohongan itu. Embun merupakan perempuan dengan hati yang lembut.
"Bunda, Kak Gempita, ada lihat kertas, ngga?"
Pertanyaan itu berhasil memecah keheningan di antara Embun dan Gempita. Nila terlihat mencari-cari kertas yang disebutkan, mengetahuinya membuat Embun segera menyembunyikan kertas itu ke belakang punggungnya.
"Surat apa memangnya?" tanya Embun.
"Surat undangan dari sekolah buat Kak Nadin," jawab Nila di sela mencarinya. "Ya ampun! Terra bilang jangan kasih tahu, Bunda!" Nila mengutuk mulutnya yang sudah lancang menjawab.
"Jatuh di luar mungkin," dusta Embun. "Kalau begitu, Bunda masuk ke kamar sebentar, nanti Bunda bantu cari."
"Eh, jangan!" pekik Nila. "Tidak boleh, ma-maksudku tidak usah, Bunda. Nila bisa cari sendiri, nanti juga Terra akan bantu mencari."
"Baiklah kalau begitu."
Embun tidak mau berbohong pada mereka, tapi dia penasaran akan maksud dari undangan yang diterimanya saat ini. Mereka bilang kalau Nadin selalu bertanggung jawab atas semua masalah yang dihadapi adik-adiknya. Nah, barangkali surat undangan ini juga masalah yang harus diselesaikan.
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Nadin, kamu kenapa?"
Nadin menyeka cairan yang membekas di sekitaran bibirnya, ia menoleh ke arah Embun dengan sorot mata yang sendu. Melihat wajah pucat serta keringat dingin di wajahnya, tentu membuat Embun khawatir dan peka terhadap kondisinya.
"Maaf, Nadin sakit," ungkap Nadin.
Embun meraih punggung Nadin dan mengusapnya, Nadin tidak reflek menepis sebab dia membungkuk atas rasa mual yang timbul. Sebelah tangan Nadin berpegangan pada pinggang, nyeri di sekitar sana akhir-akhir ini. Kelelahan sedikit pasti pusing dan kadang sampai blank.
"Ke rumah sakit, ya?"
Nadin menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, besok juga sembuh."
"Kamu tahu apa masalahnya?"
Nadin menggelengkan kepalanya sekali lagi.
"Biar tahu apa masalahnya, kita harus periksa ke rumah sakit," saran Embun. "Atau mau dipanggilkan saja dokternya ke sini?"
"Tidak Bunda, tidak apa-apa, besok juga sembuh, Nadin janji." Nadin berucap sembari menahan rasa sakit di perutnya.
Embun melipat kedua tangan di bawah dada, beberapa detik kemudian Nadin kembali muntah dan hampir tumbang karena pusing. Beruntunglah ada Embun di belakangnya, Embun siap menopang tubuh Nadin yang hampir jatuh.
"Kalau dibiarkan saja tidak akan baik buat kesehatan kamu, jadi jangan ngeyel!" seru Embun. "Ayo, Bunda antar kamu ke rumah sakit sekarang."
"Ah, Bunda!" pekik Nadin, ia menahan langkahnya saat Embun menarik lengannya. "Tunggu, Nadin ngga bisa jalan, sakit~"
"Kan, ini bahaya, nih!" Embun dengan segera menggendong Nadin ke punggungnya. "Kamu harus ke rumah sakit pokoknya, harus ketahuan sakitnya apa."
Nadin tidak tahu kalau Bundanya akan sebaik ini, bahkan sampai menggendongnya.
"Nadin minta maaf, Nadin seharusnya ngga sakit," sesal Nadin.
"Apa, sih?" protes Embun. "Orang sakit itu ya sakit, kenapa harus minta maaf segala?"
"Dulu, Bunda bilang kalau Nadin ngga boleh sakit, Nadin harus kuat biar adik-adiknya bisa dijagain," beber Nadin. "Jadi, maafin Nadin, Nadin ngga mau sakit."
Embun membawa Nadin ke kamarnya, merebahkan tubuh anak gadis itu.
"Bunda," panggil Nadin.
"Bunda telepon dulu Dokternya, kayaknya mending datang ke sini saja."
"Tapi—"
"Jangan pikirkan apapun, jangan sampai kamu tambah sakit nantinya," potong Embun cepat. "Duh, anak Bunda kenapa bisa sakit begini? Jangan lama-lama, ya..."
Nadin terpaku membisu, dia melihat ketulusan di mata Embun.
"Halo, saya butuh bantuan sekarang, nanti saya kirim alamat rumahnya, terima kasih."
Setelah selesai, Embun kembali menatap Nadin yang masih belum berubah posisinya sejak tadi. Yang berubah hanya satu, sebelumnya dia terus menatap Embun, kalau sekarang dia memalingkan pandangannya. Gengsi.
"Nadin," panggil Embun. "Apapun yang akan terjadi nanti, jangan benci Ibumu."
Nadin mengerutkan dahinya bingung.
"Ibumu adalah ibu terbaik, Ibumu itu mau yang terbaik untuk kalian, dan semua itu terbaik," celoteh Embun. "Jadi, jangan takut lagi, ya?"
Nadin mengangkat pandangannya untuk memastikan, dulu dia tidak pernah berani menatap langsung mata Bundanya. Berbeda dengan sekarang, mereka bisa terus terang untuk melihat.
"Bunda jadi baik," ucap Nadin. "Jangan berubah, tetap menjadi Bunda yang baik."
Embun mengangguk, ia lantas merengkuh tubuh Nadin dan mengecup dahinya. Dia merasa lebih tenang setelah mengetahui respon Gempita tentang dirinya. Setidaknya Gempita juga tidak ingin membuat saudari-saudarinya menderita.
Sumber derita dan luka mereka itu berasal dari orang tua mereka sendiri.
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fanfiction[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
