09. "Melakukan Apa?"

541 80 41
                                        

— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —

Embun memegang erat lengan Nadin, ia menunduk dengan kepala yang sudah terasa berat. Nadin lantas meraih bahu Sang Bunda, memegangnya takut jatuh.

"Bunda," panggil Nadin.

"Tunggu sebentar, Nad," ucap Embun dengan suara yang gemetar.

"Bunda kenapa?"

Embun menelan ludahnya dengan susah payah, ia merasa mual sekarang. Kemudian, Embun melepaskan tangan Nadin dari bahunya, ia berlari ke arah wastafel dan berakhir muntah di sana. Nadin tidak tinggal diam, ia menghampiri Embun untuk mengusap-usap punggungnya.

"Bun, berdarah," lirih Nadin. "Bunda kenapa?"

Embun menggelengkan kepalanya, ia menyalakan kran air agar cairan yang keluar dari mulutnya itu segera mengalir. Ia menoleh ke belakang, sorotnya begitu sayu sekarang.

"Jangan di sini dulu," kata Embun.

"Tidak." Nadin menolak dengan cepat. "Nadin ngga bakalan tinggalin Bunda, ngga akan!"

Embun kembali muntah, ia berpegangan pada tepian wastafel sebelum pada akhirnya kedua lutut itu jatuh sebab ia terlanjur lemas. Nadin memegangi lengan Embun dari samping.

"Bunda," panggil Nadin. "Bunda!" pekik Nadin panik, sebab Embun hilang kesadarannya.

Nadin kelabakan di sana, dia sangat panik sebab Sang Bunda tidak bisa dibangunkan bahkan setelah ia menepuk-nepuk pipinya.

"Bunda!"

Seruan itu berasal dari Terra, mungkin dia merasa ada yang tidak beres sebab Bunda Embun dan Nadin tidak kunjung kembali. Ternyata benar tidak beresnya, Terra lantas menghampiri dan membantu Nadin untuk mengangkat tubuh Embun.

"Kakak bakalan kuat?" tanya Terra saat Nadin berinisiatif ingin menggendong Embun.

"Daripada Bunda kenapa-kenapa, ayo cepat bantu!"

Embun mengerjap sebelum Terra mengangkatnya ke punggung Nadin, ia menahan dirinya sebab kesadarannya perlahan kembali.

"Maaf," sesal Embun. "Saya lagi ngga enak badan, jadi sedikit pusing."

"Nadin gendong Bunda, ya?" kata Nadin.

Embun menggelengkan kepalanya. "Gapapa, udah baik-baik aja, kok."

"Beneran?"

"Iya, maaf karena udah membuat kalian khawatir."

Nadin dan Terra saling menatap satu sama lain. Bukan sifat Bunda kalau meminta maaf seperti ini, Bunda itu sangat gengsian.

"Ayo pulang," ucap Embun. "It's okay, udah lebih baik sekarang."

"Bunda, jangan sakit~"

— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —

Embun tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak, setelah didiagnosa penyakit itu, Embun kehilangan banyak sekali berat badannya. Pola hidupnya sudah ia usahakan untuk teratur, tapi karena rasa sakitnya yang selalu datang kapan saja, keteraturan itu berubah menjadi berantakan.

Ketukan pintu memecah keheningan di sana, Embun menoleh dengan perasaan tidak enak. Siapa yang bertamu malam-malam begini?

"Setan!" pekik Embun spontan, ia juga langsung membekap mulutnya sendiri karena takut bukan main. "Iya, iya, iya aku akan tidur sekarang, aku tidak akan begadang lagi, maaf~"

Embun beranjak dari sofa, ia berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri. Kemudian, dia tersentak saat ketukan pintu berubah menjadi gebrakan yang kuat dan kasar.

The Best MomCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang