— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Secepatnya, anak-anak harus mengingatku dan kembali kepadaku."
Embun terpaku membisu, rasanya waktu seperti berhenti saat ini juga. Dia menunduk dan hanya menatap jemarinya yang sedang bertaut satu sama lain. Dia tahu ini akan terjadi, dan dia tahu betul kalau dirinya tidak bisa selamanya bersama anak-anak. Karena sesungguhnya dia bukan ibu dari mereka, dia hanyalah orang baru yang disebut sebagai Bunda oleh Nadin dan diikuti adik-adiknya.
"Tapi aku minta satu hal," ucap Embun. "Kembalikan Si Brengsek itu ke dalam penjara."
"Siapa?" tanya Starla.
"Suamimu, Samuel. Ah, menyebut namanya membuatku tidak nyaman, aku lebih suka menyebutnya dengan sebutan Si Brengsek," tutur Embun. "Kau tidak lupa, kan? Dengan nama Suamimu itu."
"Dia sudah keluar dari penjara?"
"Ya."
"Kalau begitu, kenapa kamu di sini?" tanya Starla tidak habis pikir. "Segera, kembali temui anak-anak, jangan sampai dia menemukan anak-anak dan membawa mereka pergi!"
"Kamu akan membantuku mengembalikan dia ke penjara, kan?"
"Cepat, temui anak-anak, sekarang!"
Embun mengangguk setuju, ia beranjak berdiri dan segera meninggalkan ruang rawat Starla. Melihat raut wajahnya membuat Embun tidak bisa berpikir dua kali, dia benar-benar harus menurut pada Starla yang pastinya lebih tahu bagaimana sifat Si Brengsek itu.
Langkah Embun dibuat lebar, dia berlari agar bisa menemui anak-anak sebelum Si Brengsek. Tapi, di mana anak-anak sekarang? Embun berpisah dengan mereka, dia tidak tahu pergi ke mana anak-anak karena mereka tidak bilang apa-apa kepadanya.
"Jelita!" pekik Embun saat melihat sahabatnya. "Kamu lihat anak-anak? Si Brengsek itu berkeliaran di sini, aku khawatir sama anak-anak."
"Mereka ada di ruangan-ku," jawab Jelita. "Saat kamu masuk menemui Starla, aku melihat anak-anak kebingungan, jadi aku bawa saja mereka ke ruangan-ku."
"Terima kasih!" ungkap Embun dengan penuh rasa syukur. "Kalau begitu, aku boleh masuk? Aku harus membawa anak-anak pergi dari sini sekarang juga."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Itu—"
"Penting!" potong Jelita. "Keadaanmu penting, paham?"
"Aku baik-baik saja." Embun menepuk bahunya sekali, lalu ia bergegas pergi menuju ke ruangan dr. Jelita.
Entah apa yang ada di pikiran Embun saat ini, tapi Jelita terlihat geleng-geleng kepala saat melihatnya berlalu begitu saja.
"Tuhan... Jangan pertemukan anak-anak dengan orang yang tidak baik untuk mereka~" mohon Embun di sela langkah kakinya.
Embun membuka pintu ruangan tanpa ragu, dilihatnya anak-anak sedang duduk di sofa sambil menikmati camilan mereka. Sepertinya mereka akan sering datang kemari, mengingat mereka dapat banyak sekali camilan.
"Bunda!!!" pekik Terra antusias. "Bunda habis dari mana, sih? Kenapa tidak bilang dulu kalau mau pergi?"
Nila mengangguk setuju. "Bun, ayo sini! Dokter Jelita kasih semua makanan ini ke kita, lho."
Embun balas tersenyum, kemudian dia menatap Gempita yang sedang diam dengan perasaan bersalah sebab telah membodohi adik-adiknya. Padahal Gempita sudah mengatakan kalau Embun itu bukanlah Bunda mereka, tapi tidak ada yang mempercayainya.
"Nadin, bagaimana?" tanya Embun, ia berjalan menghampiri anak-anak. "Sudah lebih baik? Tidak mau dirawat satu malam lagi?"
"Kenapa Bunda tanya itu ke Nadin? Harusnya Bunda pikirkan dulu keadaan Bunda, karena Bunda pingsan lama banget tadi, huh!" Nadin protes di akhir kalimatnya.
"Anak-anak," panggil Embun. "Boleh minta peluk?"
Bingung.
Anak-anak saling menatap satu sama lain, mereka bertanya-tanya atas sikap Sang Bunda yang jarang mereka lihat ini. Hanya Gempita yang terlihat santai, malah dia senyum-senyum melihat adik-adiknya kebingungan begitu.
"Ayo!" ajak Gempita. "Bilang terima kasih sama Bunda, Bunda adalah yang terbaik!"
"Bunda yang terbaik!" seru keempatnya serentak, tentu setelah pelukan itu tercipta.
Embun tidak bisa membayangkan bagaimana dia harus merelakan anak-anak kepada Starla. Dia tidak berhak atas mereka, Starla yang lebih berhak. Tapi, Embun sangat menyayangi mereka, sudah nyaman dan tidak ingin kehilangan.
Jemari Terra tidak sengaja menarik rambut Embun, dia sedikit mengernyit saat mendapat beberapa helai rambutnya rontok. Tepat setelah pelukan itu usai, Terra memasukan rambut rontok Embun ke dalam saku celananya saja.
"Kenapa Bunda baru baik sekarang?" tanya Nila. "Apa karena kecelakaan itu? Makanya Bunda jadi baik banget sama kita."
"Semua ibu itu baik, kok," ungkap Embun. "Tidak ada ibu yang jahat, cuma kadang kalau marah suka kelebihan sedikit."
Anak-anak terdiam dan mendengarkannya.
"Ingat, ya. Semua ibu itu baik, jika bukan karena seorang ibu, kalian tidak mungkin berada di dunia ini," tutur Embun.
"Tapi dulu Terra sering dipukul," aku Terra sedih. "Bunda selalu pukul Terra pakai gagang sapu, dan itu sakit sekali."
"Bunda juga tidak pernah peluk Nila, Bunda tidak pernah mengantar Nila ke sekolah, Bunda tidak pernah datang ke sekolah Nila untuk sekadar melihat keadaan Nila di sana," sahut Nila.
"Kamu puas-puasin dipeluk sama Bunda, deh!" seru Embun. "Ayo sini, mana yang mau Bunda peluk, hm? Ayo ke sini, biar nanti tidak merengek minta lagi."
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Kakak beneran gapapa, kan?" tanya Terra di sela memijat pinggang Nadin. "Kok, sering banget ngeluh sakitnya."
"Ngga tau," jawab Nadin. "Bunda ngga bilang apa-apa setelah diperiksa, pasti tidak ada apa-apa juga."
"Beneran, ya?" Terra bertanya lagi. "Jangan sampai Terra mendesak ke Bunda buat minta jawaban dari semua keluhan Kak Nadin."
Gempita dan Nila datang dari arah dapur dengan membawa makanan serta minuman. Mereka punya acara kecil-kecilan, yakni menonton drama yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh banyak orang.
"Sekarang Nila tahu, betapa hangatnya pelukan Bunda," gumam Nila. "Kalian juga merasakannya, bukan?"
Sebab Nila menjadi anak yang tidak pernah mendapat pelukan dari Bunda Starla, dia jadi tidak bisa membedakan mana pelukan orang lain atau justru bundanya. Gempita menatapnya miris, sedang yang lain hanya manggut-manggut setuju saja.
"Kalau nanti tahu, jangan kecewa, deh," ucap Gempita.
"Eh, dramanya sudah mulai, tuh!" pekik Nadin bersemangat.
Keempatnya asyik menikmati drama yang dinanti-nanti, beberapa kali mereka menjerit salah tingkah pada adegan romantis, kemudian tangan Nadin secara naluriah menutupi mata Nila agar terhindar dari tayangan tidak baik. Yah, walaupun Nila masih tetap bisa melihat lewat celah di jemari Nadin.
Menyenangkan memiliki saudara itu, tidak akan merasakan sepi.
Keributan berubah hening saat satu persatu tumbang karena mengantuk. Saat keheningan itu tiba, Embun baru keluar kamar untuk memastikan. Jika anak-anak berisik berarti mereka tidak ada masalah, tapi kalau hening patut dipertanyakan.
Tetapi Embun tidak perlu khawatir, anak-anak hening karena ketiduran.
"Bagaimana cara memberitahu mereka?"
"Aku harus bagaimana?"
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fiksi Penggemar[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
