— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Enaknya dikasih pelajaran apa?"
"Bunda cuma jago pelajaran bahasa, ngga tau mereka jago juga apa engga!"
"Mentang-mentang orang tuanya suka donasi di sekolah, anaknya salah dipandang benar!"
"Sekolah macam apa, sih?!"
"Kenapa kamu mau sekolah di sana?"
Nila mengerucutkan bibirnya, saat hendak menjawab Bundanya selalu menyahut dan menggagalkan jawabannya.
"Boleh jawab?" tanya Nila.
"Boleh, kenapa?"
"Mereka bukan cuma jago merundung, mereka juga jago ngomong," jawab Nila. "Mereka selalu dibenarkan karena orang tua mereka berpengaruh di sekolah."
"Pindah!" yakin Embun. "Kamu harus pindah dari sekolah itu, nanti kewarasan kamu rusak!"
"Tapi bukannya Bunda sudah melunasi semua biaya sekolah Nila sampai beres?"
"Lho?" Embun terpantau memasang raut wajah dongkol sekarang. "Baru sadar, kenapa tadi dilunasi semua, ya?"
"Bunda punya uang banyak?"
Embun menoleh. "Ya jelas. Bahkan saldo di rekening masih banyak, mau apa? Mau pindah ke sekolah luar negeri? Ayo!"
Nila melotot dibuatnya, dia tidak tahu sejak kapan Bundanya memiliki uang sebanyak itu. Dahulu, Bundanya selalu menahan segala keinginan anak-anak karena kekurangan uang untuk hidup sehari-hari. Semenjak Ayah dipenjara, hidup mereka berubah drastis.
"Bunda," panggil Nila.
"Kenapa? Sudah kepikiran mau pindah ke negara mana? Tapi jangan, deh. Nanti kalo kamu ke sana, di sini Bunda sama siapa?" Embun jadi khawatir. "Sekolah yang dekat-dekat saja, biar tidak jauh-jauh."
Embun menggeser tempat duduknya jadi lebih dekat dengan Nila, ia merangkul lengan Nila seperti tidak ingin jauh-jauh darinya. Beruntunglah tidak ada luka di tubuh Nila pasca perundungan itu. Tapi, Nila khawatir jika besok ia bertemu lagi dengan mereka.
"Bunda jahat banget, ya?" tanya Embun di sela menyandarkan kepalanya pada bahu Nila. "Bunda membebankan semuanya ke Nadin, ya? Makanya tadi Nadin rela datang pas tau kamu bermasalah."
"Maaf, ya, Bunda." Nila berucap dengan hati-hati. "Otak Bunda tertukar sama siapa? Kok, Bunda jadi baik begini?"
Embun melotot, ia spontan melepas rangkulan dan memicingkan matanya. Melihat respon itu, Nila buru-buru menunduk dan menatap jemarinya yang mulai bertaut satu sama lain.
"Ma-maaf, Bunda."
"Sudahlah, tidak penting juga," kata Embun. "Oh iya, malam ini menu makanannya mau apa? Bunda mau siap-siap masak, deh."
"Bunda!" Nila mencekal lengan Embun. "Pesan go-food saja, ya?"
"Kenapa? Masakan Bunda ngga enak, ya?"
"Bu-bukan begitu, tapikan, itu, Bunda takut capek, jadi mending cari yang simple saja," saran Nila yang sekaligus menjaga agar ia dapat asupan lezat malam ini.
"Okay, nih hpnya. Kamu pilih saja mau pesan apa, terus kalau bisa sekalian buat kakak-kakak kamu."
"Bu-bunda?"
"Bunda samakan saja sama kalian, Bunda ini pemakan segala, kok!" yakin Embun dengan senyum cerahnya.
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Tidak seperti biasanya kamu datang pagi-pagi begini, ada apa?"
"Hari ini jadwal kemoterapi, kamu lupa? Ya ampun~"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fiksi Penggemar[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
