— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Sam bukan Ayahnya anak-anak."
"Apa?"
Starla meringis saat tiba-tiba saja Embun menyahut sampai beranjak duduk. Masalahnya, posisi Embun itu sedang tiduran di ranjang rumah sakit, ada infusan pula di lengannya, jadi saat dia tiba-tiba beranjak pastilah Starla kaget sekaligus ikut meringis.
"Bisa santai, kan?" tanya Starla. "Si Brengsek itu menikahi aku karena aku punya warisan dari Mendiang Suamiku, yaitu Ayahnya anak-anak."
Embun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tunggu, pantas saja sifatnya sangat berbanding terbalik dengan anak-anak. Si Brengsek itu? Argh, sungguh?! Aku tidak jadi sepupuan dengan mereka, dong?"
"Hartaku habis dipakai oleh dia untuk berjudi, duniaku hancur setelah mengetahui ternyata dia hanya memanfaatkan aku," beber Starla. "Sejak saat itu, aku merasa keadaan mental-ku tidak lagi sama seperti dahulu. Aku banyak memarahi anak-anak, bahkan parahnya aku melakukan itu secara sadar."
"Ya ampun, kenyataan apalagi ini?" tanya Embun seraya menyibak rambutnya ke belakang. "Sungguh? Pantas saja dia sangat terobsesi dengan anak-anak, dia bukan ayah mereka."
Starla mengangguk.
"Apa kamu tahu, apa saja yang sudah dilakukan oleh Si Brengsek itu pada anak-anak?" tanya Embun.
Starla menggelengkan kepalanya.
"Kepalaku pusing hanya memikirkan kehidupan kalian semua," keluh Embun, ia memijat pangkal hidungnya mereda pening. "Ya ampun~"
"Bunda~"
Suara lirih itu milik Nadin, Starla kontan beranjak dari kursi dekat ranjang Embun dan beralih menghampiri Nadin yang sadar lebih lambat dibanding Embun. Starla menggenggam jemari Nadin, ia mengecup punggung tangan Putri Sulungnya lamat.
Nadin tersenyum tipis. "Nadin sudah dijemput Bunda, ya? Pulangkan Nadin dulu, Bun."
"Nadin," panggil Starla.
"Adik-adik masih butuh Nadin, Bun."
Starla mengangguk paham. "Ini Bunda, Sayang. Maafin Bunda, maaf untuk semua sikap Bunda sama kamu dan adik-adik, ya? Kita perbaiki semuanya mulai dari sekarang."
"Bunda, Nadin mohon~" Nadin memohon dengan suara yang terdengar gemetar. "Jangan jemput Nadin sekarang, adik-adik masih butuh Nadin, Bun."
"Hei, kita masih di dunia yang sama, Sayang," ungkap Starla. "Bunda masih hidup, Sayang."
ARGH!
Pekik Nadin saat seseorang mencubit kakinya, oknumnya sedang berdiri sambil cengengesan sambil memegangi tiang infusan.
"Halo," sapa Embun. "Sakit? Benar, ini bukan mimpi. Dia Bunda kamu, dan Bunda kamu ini masih hidup, paham?"
"A-apa?"
"Hai," sahut Starla, ia makin erat menggenggam tangan Nadin. "Bunda di sini, Sayang. Bunda minta maaf karena sudah membebani kamu selama ini."
"Ja-jadi?"
Starla mengangguk. "Ya, bukan mimpi."
"Bunda~"
Starla tidak bisa menyembunyikan kerinduan serta rasa ingin memeluknya, dia peluk Nadin yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit tersebut. Akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup rumit kini mereka menemui kebahagiaan satu sama lain.
Tapi, mereka yang sedang melepas rindu di sini tidak tahu kondisi mengenaskan tiga anak gadis lainnya. Mereka yang sedang asyik berpelukan mesra ini, tidak tahu ada tiga anak gadis yang disiksa tanpa perasaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fanfiction[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
