— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Nila!!!"
"Nila!!!"
"BRENGSEK, KEMBALIKAN NILA!"
"BRENGSEK, CEPAT KEMBALIKAN NILA!"
Starla dan Embun datang ke lokasi. Setelah Starla ke rumah dan tidak menemukan anak-anak, dia menghubungi Embun untuk mencaritahu di mana keberadaan mereka. Lokasi ini diterima Embun melewati pesan masuk dari nomor tak dikenal, nomor yang dapat dipastikan milik Si Brengsek itu. Maka Embun segera menemui Starla, mengajaknya ke tempat ini.
Benar saja, di pertengahan jalan mereka bertemu dengan Gempita dan Terra. Dua anak gadis itu segera dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. Biarlah Gempita dan Terra ditangani oleh pihak rumah sakit, sekarang yang harus mereka selamatkan adalah Nila.
"Kamu serius?" tanya Starla. "Aku bisa sendiri, aku takut kamu kenapa-kenapa, Mbun."
"Tapi aku khawatir sama Nila," jawab Embun.
Terdengar suara rintihan serta isak tangis dari sebelah kiri, keduanya melangkah perlahan agar tidak kehilangan suaranya.
"Nila!!!"
Gadis itu tergeletak lemah dengan pakaian yang sudah berantakan, selain itu ada begitu banyak luka membekas di sekitar wajahnya. Nila menangis, dia semakin histeris ketika dihampiri dan dipeluk oleh Sang Bunda.
Embun sendiri masih berdiri, ia berjaga-jaga takutnya Si Brengsek itu melakukan serangan yang tak terduga. Kedua tangannya mengepal, dia marah melihat keadaan Nila yang sudah dihancurkan. Tak beberapa lama, pihak kepolisian datang menghampiri, mereka langsung berpencar untuk mencari keberadaan oknum yang dilaporkan oleh Embun.
"Sebelah sini!" seru Embun pada petugas kesehatan yang datang bersama polisi. "Tolong, ayo cepat bawa Nila ke rumah sakit sekarang."
Starla tidak bisa melepaskan tangan Nila, dia terus berjalan di sebelah Nila dengan masih menangis-nangis. Anak gadisnya dihancurkan, setelah dia melihat kondisi mengenaskan Terra, kini dia harus melihat keadaan lainnya dari salah satu putrinya.
DOR!
DOR!
DOR!
Tiga tembakan melayang, saat itu juga terdengar raungan kesakitan milik Sam. Embun masih ingat suara pria itu, dan dia pun dapat mendengar teriakan penuh peringatan dari beberapa petugas kepolisian. Dan beberapa detik setelah ambulans pergi, Sam diseret dengan kedua tangan yang terborgol, kedua kakinya dipenuhi oleh darah setelah menerima tembakan.
"BRENGSEK!" umpat Sam begitu berhadapan dengan Embun. "SIALAN!"
Embun melipat kedua tangan di bawah dada. "Suka? Aku pastikan, kamu akan mati secara tragis, seperti kedua orang tuaku."
"BRENGSEK, LEPASKAN!" teriak Sam, tetapi berontak sudah bukan lagi kemampuannya sekarang.
Kepala Embun terasa berdenyut, ia memijat pangkal hidungnya guna mereda pening. Lalu, dia mengikuti langkah salah seorang polisi untuk segera keluar dari tempat ini. Seharusnya memang tidak memaksakan diri, tetapi rasa khawatir Embun jauh lebih besar. Menghapus semua rasa sakitnya.
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Embun!!!"
Embun hanya diam, dia bahkan tidak protes ketika Jelita memeluk tubuhnya bahkan sampai mengguncangnya. Embun tahu ini akan terjadi, sahabatnya pasti lebih mengkhawatirkan dirinya dibanding dengan siapa pun. Pelukan erat ini, Embun biarkan saja sampai waktu di mana Jelita merasa puas.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fanfiction[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
