— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Oh, jadi Anda orang tuanya Terra. Datang juga akhirnya, setelah beberapa kasus diselesaikan oleh Nadin."
"Ini peringatan terakhir untuk Terra, jika sampai dia berulah lagi, dia akan dikeluarkan dari sekolah."
Embun meringis dibuatnya. Dia pikir Terra itu anak baik-baik, melihat wajahnya saja sudah dapat dinilai kalau Terra itu memiliki watak tidak punya masalah. Tapi, apa yang sedang Embun hadapi hari ini justru mengungkap fakta tak terduga.
Terra terlibat dalam kasus kekerasan yang dilakukan kemarin sore sepulang sekolah, gadis itu menjadi bagian dari murid-murid yang berhasil mengacaukan sekolah. Beberapa jendela di sekolah pecah karena keributan kemarin sore.
"Terra ini anak yang susah diatur, sebaiknya Anda lebih memperhatikannya."
"Berapa kerugian yang harus saya bayar?"
Guru itu tertawa meremehkan, dia bahkan sampai menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Embun. Dia tidak tahu saja, Embun ini menaruh begitu banyak uang di rekeningnya.
"Saya akan bayar semua kerugiannya, tapi hukum tetap berjalan," tutur Embun. "Terra harus tetap dihukum, karena dia sudah berbuat salah."
"Ya ampun, lunasi terlebih dahulu beberapa bayaran yang masih menunggak," katanya. "Apa saya tidak salah dengar? Kerugian yang dibuat oleh Terra bisa mencapai satu juta lebih."
"Berapa nomor rekening Anda?" tanya Embun. "Saya akan ganti sekarang, tapi beri kesempatan untuk Terra memperbaiki sifatnya."
Guru itu benar-benar meremehkan Embun, dia dengan tidak minat mengulurkan nomor rekeningnya kepada Embun. Jemari Embun bergerak mengotak-atik ponselnya, kemudian ia mengulurkan ponsel tersebut menunjukkan transaksi.
"Kurang?" tanya Embun.
"Ya ampun!" pekiknya. "Serius?!"
Embun tersenyum picik. "Saya sudah melunasi kerugiannya, saya juga sudah melunasi tunggakannya, kalau kurang bilang saja."
Guru itu memeriksa ponselnya, dia ternganga menemukan saldo rekeningnya yang bertambah setelah ditransfer oleh Embun. Tidak disangka, ternyata Terra memiliki ibu sepertinya.
"I-ini uang sungguhan, kan?" tanyanya.
"Tidak, saya akan menumbalkan Anda," jawab Embun.
"Heh!!!"
"Ya sudah, sih!" cetus Embun. "Tetap hukum Terra atas tindakannya, jangan bilang padanya kalau saya datang dan melunasi semuanya."
"Baik, terima kasih!"
Embun tahu ini akan terjadi, dia tersenyum picik pada guru yang tiba-tiba saja berubah ramah setelah ditransfer uang. Dia merogoh tas kecilnya, mengusap bagian merk yang membuat guru itu melotot terkejut. Embun berdeham, menahan tawa karena telah membodohi. Tas ini tidak mahal, tapi dia mencari merk yang sekiranya terkenal saja.
"Biar saya antar," ucapnya ramah.
"Tidak perlu!" cetus Embun sembari memasangkan kacamata hitam yang semula bertengger di pucuk kepalanya. "Anda harus dipecat karena terlalu gila terhadap uang."
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
Terra menyapu lapangan umum sekolah yang luasnya benar-benar gila. Meski tidak sendirian, tapi ketika melakukannya di saat matahari menyorot, jelas Terra tidak bisa bertahan lebih lama. Kalau tidak diawasi, Terra inginnya menepi saja, kabur dari hukuman yang akan dilakukan selama dua pekan ke depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fanfiction[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
