— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Pergi, jangan ikuti aku!"
"PERGI DARI HADAPANKU!"
"AKU MEMBENCIMU!"
"JANGAN MENYENTUHKU!"
Embun mengangkat kedua tangannya, ia mundur selangkah sebab tubuhnya tiba-tiba saja hampir kehilangan keseimbangan. Ia menatap Nadin dengan penuh harap, tentu saja berharap agar Nadin tidak lebih marah setelah mengetahui kebenaran itu.
"Nadin, dengarkan dulu. Bunda kalian—"
"PEMBUNUH!" jerit Nadin frustrasi. "Kamu pembunuh! Jadi selama ini kamu berpura-pura baik kepada kami karena kamu yang membuat Bunda meninggal, iya? PENJAHAT!"
Embun menggelengkan kepalanya. "Bunda kalian masih hidup, Nadin. Bunda kalian masih ada, belum meninggal."
"Tidak!!!" teriak Nadin tak terbantahkan. "Jangan berbicara omong kosong, kamu bukan Bunda, kamu pembunuh! Aku tidak menyangka, ternyata pembunuh itu berada di hadapanku."
"Nadin, dengarkan dulu."
"Tidak perlu!!!"
Nadin tidak butuh penjelasan apapun, ketika seperti ini dia merasakan nyeri yang teramat sangat di bagian perutnya.
"Kamu kenapa, Nadin?" tanya Embun khawatir. "Nadin, hei."
"Jangan sentuh aku!" peringat Nadin.
"Nadin, perut kamu sakit? Ayo ke rumah sakit, kita periksa, Dokter akan membantu kamu, ayo." Embun berusaha membujuknya. "Jangan melawan dulu, kamu bisa kenapa-kenapa kalau memaksakan diri."
"Hentikan, jangan menyentuh atau mengkhawatirkan diriku, aku tidak butuh!" cetus Nadin.
"Tapi kamu bisa kenapa-kenapa!" tandas Embun. "Ginjal kamu bermasalah, kamu harus segera ke rumah sakit, sekarang. Ayo, biar aku antar, ya?"
"Apa?"
Embun terpaku membisu. Tidakkah barusan dirinya sudah mengungkap tentang kondisi Nadin? Sesuatu yang sudah dia tahan-tahan akhirnya terungkap juga. Malam ini, selain ketahuannya Embun sebagai pelaku penabrak malam itu, Nadin pun mengetahui fakta di balik rasa sakitnya selama ini.
"Apa maksudmu?"
"Kamu sakit, Nadin," ungkap Embun. "Jadi jangan melawan dulu, biarkan aku mengantarmu ke rumah sakit, ya?"
"Tidak." Nadin menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak mungkin."
"Ayo."
"Tidak, tidak, tidak~" lirih Nadin. "Tapi sakit~"
Embun menggapai tubuh Nadin yang hampir tumbang, Nadin yang sekarang tidak lagi melawan karena rasa sakitnya membuat tubuhnya melemas. Embun melambaikan tangannya pada taksi yang berlalu, ia menuntun tubuh Nadin masuk ke dalam.
"Pak, cepat antar kami ke rumah sakit!"
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Embun!!!"
Jelita berlari, gadis itu berakhir memeluk Embun yang tengah duduk di bangku panjang depan ruang pemeriksaan. Dia meraba-raba wajah tirus Embun, menatap Embun dengan penuh harap. Sahabatnya ini semakin kurus saja, terlebih ada luka membiru di bagian lehernya yang kelihatan oleh Jelita.
"Yang sakit Nadin, kenapa kamu peluknya aku?" tanya Embun.
"Masa aku peluk Nadin, sih!" Jelita berucap sembari melepas pelukannya. "Luka lebam kamu kelihatan, tuh! Kira-kira, ada di mana lagi lukanya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fanfiction[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
