— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Bunda,"
"It's okay, semua akan baik-baik saja."
Nadin sedikit terkejut, tapi dia tidak bisa berbuat apapun selain diam dalam dekapan Bunda Embun. Belaian lembut yang Embun berikan pun menambah kenyamanan Nadin, gadis ini belum tahu apa-apa. Embun meminta bantuan Jelita untuk merahasiakan penyakitnya sendiri.
"Bun, Nadin baik-baik saja, Bunda tidak perlu bawa Nadin ke rumah sakit begini," ucap Nadin sesaat ketika pelukan mereka merenggang.
Embun mengangguk, ia membelai wajah Nadin dengan penuh kasih sayang, sorot matanya menunjukkan ketulusan. Nadin yang biasanya akan menunduk pun tidak bisa mengalihkan atensinya dari pandangan ketulusan Bunda Embun. Menatap Bunda itu tidak pernah lama, tapi sekarang rasanya nyaman melihatnya.
"Iya," kata Embun sambil terkekeh. "Namanya juga khawatir, Nad. Bunda takut kamu kenapa-kenapa."
"Bunda," panggil Nadin.
"Iya?"
"Nadin suka Bunda yang sekarang, Nadin nyaman dengan Bunda yang sekarang, tolong jangan berubah," pinta Nadin. "Janji, ya, Bun? Tetap menjadi Bunda yang seperti ini."
Embun balas tersenyum sebagai jawaban, ia meraih tangan Nadin dan menggenggamnya. Nadin tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Embun, tapi yang pasti dia tidak perlu takut karena sudah beberapa pekan ini Bundanya bersikap baik.
Pintu ruangan terbuka, Jelita memasuki ruangan dan meminta pada Embun untuk berbicara dengannya di luar ruangan.
"Sebentar, Bunda mau bicara dulu," kata Embun.
"Iya, Bunda."
Embun berjalan keluar dari ruangan, ia duduk di samping Jelita yang sudah duduk lebih awal.
"Mbun, gimana?" tanya Jelita.
"Makin parah," jawab Embun. "Tiba-tiba pusing, terus kadang pandangan jadi buram. Ini ngga ada cara sembuh, kan? Sudah berusaha beberapa tahun masih begini-begini aja, malah lebih parah rasanya."
"Embun," panggil Jelita bersedih. "Kuat, dong. Jangan menyerah lagi, ingatkan kamu mau bertanggung jawab atas kesalahan kamu? Ingatkan, kamu mau mengurus empat anak itu karena sudah membuat Bunda mereka celaka."
Embun menghembuskan napas berat, dia yang semula bersandar pun kini mengambil posisi duduk tegak. Jelita bingung, lalu dia dibuat terkejut oleh pelukan mendadak yang diberikan oleh Embun.
Bahu Embun bergerak naik-turun, dia menangis tanpa suara sembari mencengkram baju Jelita sebagai pelampiasan dari segala rasa sesak di dadanya. Dia ditinggal orang tuanya saat masih kecil, dia bangkit seorang diri di saat anak-anak lainnya mendapat begitu banyak perhatian dari orang tua mereka. Dan setelah dewasa, Tuhan memberinya penyakit yang tidak bisa disebut biasa saja.
"Ya, menangis saja, kamu juga boleh menangis, bahkan harus menangis," tutur Jelita sembari mengusap-usap punggungnya.
"Aku tidak mau mati~" lirih Embun. "Aku masih ingin hidup, tapi sakitnya tidak bisa aku kendalikan~"
Jelita mengangguk paham. "Terus, kamu boleh menangis sepuas kamu, lakukan saja."
Nadin membuka sedikit pintu ruangan, dari celah yang dia buat, ia bisa melihat air mata Embun yang mengalir membasahi kedua pipi. Melihatnya menangis seperti itu, tentu membuat Nadin ikut menangis. Nadin pikir, Bundanya ternyata serapuh itu.
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Gelap~"
"Tolong, nyalakan lampunya~"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fanfiction[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
