— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Cepat bangun, Sialan!"
Mengetahui fakta mengenai Ayah dari anak-anak membuat amarahnya memuncak. Begitu pagi tiba, Embun langsung pergi ke rumah sakit dan masuk ke ruang ICU untuk menjumpai Starla—Bundanya anak-anak. Wanita itu harus segera bangun, dia harus tahu kalau pria bejat yang telah merusak masa depan anak-anak sudah bebas dari penjara.
"Seret kembali pria bejat itu ke dalam penjara!"
"Hukum dia seberat-beratnya!"
"Cepat bangun, Sialan!"
Embun meremas selimut yang menutup sebagian tubuh Starla. Wanita ini pasti memiliki tujuan yang sama dengan dirinya, yakni sama-sama ingin menghukum pria bejat itu. Embun butuh bantuannya, mengingat Starla telah mengklaim kebenciannya terhadap pria itu melalui buku catatan yang tersimpan di laci.
Pria bejat itu telah menghancurkan semua orang. Bahkan Starla menyebutnya sebagai binatang buas yang tidak berperasaan, sebab yang pria itu inginkan hanyalah kepuasan dalam dirinya. Dalam buku catatan tertulis betapa Starla tersiksa menjalin hubungan bersama Si Brengsek itu.
Embun menunduk, air matanya mulai menetes ketika kembali dibayangi peristiwa nahas yang menimpa kedua orang tuanya di masa lalu. Hanya karena tidak mendapatkan posisi yang diinginkan, Si Brengsek itu dengan tega menusuk kedua orang tua Embun.
Sentuhan di bahu tidak membuatnya teralihkan dengan mudah, Embun masih marah dan masih ingin meluapkan amarahnya dengan menangis. Dan seseorang yang menyentuh bahunya tentu mengerti, hingga yang dia lakukan saat ini hanya sebatas mengusap-usap bahunya berharap bisa menenangkan.
"Jadi, kapan dia akan sadar?"
"Belum ada perkembangan sama sekali."
"Pria itu belum mati."
Embun akhirnya mengangkat kepalanya, ia menoleh ke samping tepat seseorang berdiri sambil mengusap bahunya. Siapa lagi kalau bukan Jelita, sahabat Embun yang memberinya izin masuk ke ruang ini padahal bukan waktunya memasuki ruangan ini.
"Dan pria itu Ayahnya anak-anak," ungkap Embun. "Wanita ini istrinya, dia harus segera sadar agar aku memiliki kekuatan melawan Si Brengsek itu!"
"Aku mengerti," ucap Jelita. "Embun, tenangkan diri kamu terlebih dahulu."
"Aku tidak bisa melakukannya sendirian, kasus kematian orang tuaku sudah ditutup," beber Embun. "Tapi wanita ini, dia bisa membantuku menyeret Si Brengsek itu ke penjara lagi!"
Embun beralih menatap Starla yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Pria itu memang tidak pernah menampakkan dirinya lagi, dia berhasil selamat dari hukuman karena masih di bawah umur kala itu. Terlepas dari semuanya, pria itu menghilang dari kehidupan Embun begitu saja.
Kedua orang tua Embun harus tiada, sedang Si Brengsek itu tetap menjalani hidupnya dengan tenang. Bahkan dia sampai memiliki keluarga, membuat Embun meradang ingin menjebloskannya ke penjara lagi dan memberinya hukuman setimpal. Yakni, nyawa dibayar dengan nyawa.
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
"Terra."
Embun ingat apa yang telah dia lakukan semalam, dia sudah membentak anak-anak dan bahkan mengabaikan mereka yang sedang terguncang. Dan, Embun masih ingat siapa yang paling marah kepadanya semalam.
"Bunda ampun!"
Embun terperanjat, buru-buru ia berjongkok guna mensejajarkan posisinya dengan Terra yang tiba-tiba saja berlutut kepadanya.
"Maaf, maafin Terra, Terra ngga bakalan bicara seperti itu lagi, maafin Terra, dan jangan pukul Terra~"
Embun meraih kedua bahu Terra, sedang Terra masih menunduk dengan tubuh yang gemetar seperti ketakutan. Maka Embun merengkuhnya, meski peluk yang ia berikan bukan pelukan seorang ibu, tetapi Embun tulus ingin menenangkannya.
Rasanya sudah tidak seperti orang asing lagi, Embun merasa nyaman berada di sekitar mereka. Dia yang mendadak jadi seorang ibu karena keadaan, mau tidak mau membiasakan dirinya hingga akhirnya terbiasa.
Maka jika hari itu tiba, hari di mana anak-anak mulai menyadari siapa Embun sebenarnya. Hari itu akan menjadi hari yang paling menyesakkan, terlebih jika Starla sadar dan anak-anak akan kembali padanya. Embun harus siap untuk hidup seorang diri lagi, bahkan mungkin akan berakhir di penjara apabila mereka menuntut dirinya atas kasus penabrakan malam itu.
"Gempita!"
"Gempita, kamu di mana?"
"Kak Gempita!"
Mendengar itu, pelukan Embun terhadap Terra perlahan merenggang. Keduanya sama-sama beranjak dan bergegas menghampiri sumber suara.
"Ada apa, Nadin?" tanya Embun.
"Gempita tidak ada di kamarnya," jawab Nadin. "Bunda, Gempita tadi masih di kamarnya, tapi sekarang dia tidak ada! Dia tidak boleh pergi sendirian."
"Sudah dicari ke tempat lain?" tanya Embun.
"Sudah, tapi tidak ada," jawab Nila.
Embun berlari ke kamar Gempita, barangkali Nadin dan Nila tidak mencarinya dengan detail. Embun juga masih tidak habis pikir pada mereka bertiga, hanya Gempita yang mengetahui siapa pemilik suara pria semalam. Sisanya terlihat kebingungan.
Mereka memiliki trauma yang begitu besar, bahkan mereka tidak bisa membedakan mana Bunda mereka yang sesungguhnya. Hingga Embun yang merupakan orang asing bisa mereka akui sebagai Bunda mereka. Mereka tidak begitu mengingat wajah orang yang sudah menorehkan trauma pada mereka, tapi yang mereka ingat adalah perlakuan orang itu.
"Kak Gempita!"
Seruan itu berasal dari luar, Embun bergegas keluar kamar Gempita untuk memastikan kebenarannya. Gempita datang, gadis itu datang dengan sorot mata yang kosong. Dia terlihat sangat frustrasi, atau mungkin bisa dibilang mendekati depresi.
"Hei, Gempita!" seru Embun sembari memegang kedua lengannya. "Hei, kamu habis dari mana saja?"
Gempita mengangkat pandangannya, ia menepis kedua tangan Embun dari lengannya.
"Gempita," panggil Nadin memastikan.
"Kamu siapa?" tanya Gempita pada Embun.
Nadin meraih lengan Embun. "Bunda, mungkin Gempita—"
"Bunda?" sahut Gempita. "Tidak, dia bukan Bunda kita."
"Bunda maaf," sesal Nadin. "Gempita pasti sedang terguncang, nanti Nadin tanyakan dulu keadaannya, Bunda jangan marahi Gempita dulu, ya?"
"Dia bukan Bunda!!!" tekan Gempita. "Dia bukan Bunda, dia bukan Bunda, bukan!!!"
"Gempita, cukup!" pekik Nadin. "Bunda maaf, Nadin bawa Gempita ke kamar dulu, biar Nadin yang urus Gempita, biar Nadin saja, ya?"
"Bukan!!!" teriak Gempita yang berusaha berontak ketika Nadin menyeretnya pergi dari hadapan Embun.
Embun menoleh ke arah Terra dan Nila, dia menatap satu persatu anak itu berharap menyadarkan mereka akan kebenaran tentang dirinya. Rasanya Embun tidak ingin bersembunyi lagi, Embun tidak ingin terus membodohi mereka. Namun, dua anak itu spontan menundukkan kepala mereka, tidak berani menatap Embun dalam waktu yang lama. Se-menakutkan itu peran seorang ibu bagi mereka?
Embun menghembuskan napas pendek, ia bergegas pergi tidak ingin berbicara lagi sekarang.
"Bunda selalu membebankan semuanya pada Kak Nadin."
"Bunda bisanya hanya marah-marah saja, kalau salah sedikit pasti dipukul."
"Kasihan Kak Nadin."
"Apa Kak Nadin juga dipukul sama Bunda?"
Terra dan Nila berbincang se-pelan mungkin ketika mengetahui Embun sudah tidak berada di hadapan mereka. Tapi percayalah, Embun mendengar semua percakapan itu. Dan dia menyayangkan sikap Starla yang telah menorehkan luka bagi anak-anaknya.
— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Mom
Fanfiction[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
