06. "Aku Harus Bertanggung Jawab."

532 84 38
                                        

— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —

"Aku harus bertanggung jawab."

"Mereka tidak ingat dengan wajahnya, tapi mereka masih ingat dengan perlakuannya."

"Mereka masih terlalu muda untuk memiliki luka batin dari seorang ibu."

"Ibu itu citranya penuh kasih sayang, yang apabila tanpa ibu maka anak-anak tidak tahu harus bagaimana."

Jelita menoleh, ia mengangguk paham mendengarkan semua kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya. Dilihatnya Embun duduk dengan santai, menatap lurus ke depan.

"Tapi, aku akan menebus semua kesalahanku pada mereka mulai saat mereka menyebutku dengan sebutan itu," ujar Embun memecah keheningan.

"Tapi jangan lupa memperhatikan dirimu sendiri," pesan Jelita.

"Aku siap untuk menghadapi semuanya saat ini, yang aku tidak siap adalah saat mereka mengetahui akulah yang menabrak mereka malam itu," gumam Embun.

Jelita mengerucutkan bibirnya sedih. "Aku melindungimu sampai hari ini, semoga mereka tidak menuntut dan menggiring dirimu ke penjara."

Embun tersenyum sembari merentangkan kedua tangannya, saat itu juga Jelita memeluknya. Mereka ini bersahabat cukup lama, Embun mengetahui bagaimana Jelita melewati masa-masa sulit sebelum ia berhasil menjadi seorang dokter ahli.

"Aku pamit, deh."

Embun meraih pintu mobil, ia harus segera keluar dan bergegas masuk ke rumah. Anak-anak pasti menunggu dirinya, sebab seharian ini dia meninggalkan rumah.

"Terima kasih untuk hari ini."

"Ya, jangan lupa memperhatikan dirimu sendiri!"

"Iya bawel!"

Embun melambaikan tangannya sembari berjalan menuju ke rumah, dia tidak lupa menjulurkan lidahnya meledek pada Jelita yang kini geleng-geleng kepala. Jelita memang dihadirkan Tuhan untuk Embun, sifatnya yang bisa menjadi penenang tentu melengkapi kekurangan Embun.

"Anak-anak, Bunda pulang~"

Begitu membuka pintu rumah, Embun sudah disambut dengan aroma wangi yang menenangkan hati serta pikirannya. Selain itu, Embun juga mencium aroma masakan lezat yang memintanya untuk segera datang ke dapur sekarang juga.

"Nadin," panggil Embun.

"Eh, Bunda sudah pulang," balas Nadin. "Bunda capek, ya? Kalau begitu, Bunda bersih-bersih saja, biar Nadin yang urus semuanya."

"Ih, kenapa kamu memasak sendirian?" tanya Embun kasihan. "Kan, bisa pesan."

Nadin menggelengkan kepalanya. "Masih ada bahan di kulkas, kata Bunda kita harus berhemat supaya tidak membuang-buang uang."

"Itu dulu." Embun berucap sembari melipat kedua tangan di bawah dada. "Kalau sekarang berbeda, Bunda punya banyak uang di rekening, kamu bisa pakai untuk apa saja kalau mau. Kecuali beli pulau, ya, itu kemahalan."

"Hah?!" Nadin kaget.

"Iya, lho!" yakin Embun. "Oh iya, adik-adik pada ke mana? Mereka ngga kangen sama Bunda, apa? Gempita, Terra, Nila!"

Di saat Embun memanggil adik-adiknya, Nadin terbelenggu sebab Sang Bunda mengatakan tidak perlu khawatir soal uang. Dia pikir, setelah kecelakaan Bundanya mengalami pertukaran otak dengan orang lain.

"Bunda jadi baik banget," gumam Nadin dengan senyum tipisnya.

— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —

Embun ini bukan Bundanya anak-anak, dia bukan wanita yang melahirkan Nadin, Gempita, Terra, dan Nila. Dia hanyalah orang asing yang tiba-tiba harus menanggung hidup empat anak gadis tersebut. Itupun karena kesalahannya, sebab pada malam itu dia mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi, padahal hujan sedang turun deras dan menghambat pandangannya.

Lantas, bagaimana kabar dari Bundanya anak-anak?

Wanita itu berada di ruangan ICU, dia yang mendapatkan luka terparah hingga harus dirawat lebih serius. Dia masih berdetak, tapi kesadarannya dikabarkan semakin hari malah semakin menurun. Entah bisa bertahan atau tidak.

Dari wajah Embun dengan wanita itu tidak ada kemiripan sama sekali. Tapi, entah mengapa anak-anak malah memanggilnya dengan sebutan bunda, menganggapnya sebagai bunda mereka yang selalu bersikap jahat. Dengan mengenal mereka, mungkin Embun bisa membantu mereka lepas dari ketakutan menghadapi sikap tak baik Bunda mereka yang sesungguhnya.

Tidak ada foto keluarga di rumah ini, bahkan tidak ada satu pun foto anggota keluarga di dinding. Itu berarti, anak-anak memang sejauh itu dengan Bunda mereka.

"Apa yang membuat dia sebenci itu sama anak-anaknya, ya? Padahal mereka baik banget," gumam Embun.

Embun menoleh ke samping kanan, ia memandangi laci yang terkunci dan kuncinya bergerak tersapu angin seolah memancing dia untuk segera membukanya. Setelah berlarut dalam lamunan yang cukup lama, Embun bergegas menghampiri laci itu dan membukanya.

Ada sebuah album yang cukup tebal, sebuah ponsel genggam, serta buku catatan.

"GEMPITA!"

Pekikan itu membuat Embun urung mengambil salah satu benda di sana, ia kembali menutup laci dan menguncinya. Buru-buru Embun bergegas menuju ke sumber suara, dia harus memastikan apa yang sedang terjadi sehingga nama Gempita disebut sekencang itu.

"Ya ampun, Gempita!" pekik Embun terkejut. "Ada apa ini? Kenapa bisa seperti ini?"

"Bunda, Bunda tolong, untuk kali ini bawa Kak Gempita ke rumah sakit, ya~" mohon Terra. "Kak Gempi pucat banget, harus diperiksa ke dokter, Bun."

Embun mengangguk, saat hendak meraih wajah Gempita spontan Nadin malah menangkisnya. Anak sulung di keluarga ini terlihat was-was ketika Embun hendak menyentuh Gempita.

"Nadin, ayo bawa ke rumah sakit!" ajak Embun tanpa pikir panjang.

"Biayanya mahal, Bun," sahut Nila.

"Jangan pikirkan biaya!" tukas Embun. "Yang terpenting sekarang itu kesehatan Gempita! Tidak ada yang baik-baik saja kalau pingsan tiba-tiba!" yakin Embun.

Nadin, Terra, dan Nila memandang tidak habis pikir pada Bunda mereka. Padahal, dahulu Bunda sangat tidak peduli terhadap kondisi anak-anak. Jangankan peduli, kadang-kadang Bunda tidak pernah datang kalau ada apa-apa.

Mereka tidak ingat wajah Bunda mereka, tapi mereka masih ingat bagaimana Bunda mereka bersikap kepada mereka. Semuanya membekas dalam benak pikiran mereka.

"Ayo buruan!" desak Embun. "Minggir, biar Bunda yang gendong Gempita!"

Embun bertindak cekatan, ia benar-benar menggendong Gempita ke punggungnya. Meski dia masih dalam tahap pemulihan pasca kemoterapi, tapi rasa sakitnya ia abaikan sebab khawatir pada kondisi Gempita saat ini.

Embun tidak mau mereka kenapa-kenapa, Embun ingin mereka semua melanjutkan hidup karena usia mereka masih sangat muda. Dan anak-anak muda seperti mereka pasti punya mimpi. Ditambah dengan rasa bersalah karena sudah menabrak mereka secara bersamaan. Embun harus bertanggung jawab.

"Naik motor, Bun?" tanya Nadin kaget.

"Ya ampun!" pekik Embun baru sadar. "Ayo cepat cari taksi, cari taksi buruan!"

"Jangan lagi, Ayah~" lirih Gempita di punggung Embun. "Ampun, sakit~"

Embun menoleh sekilas, sedang tiga anak lainnya berlari mencarikan taksi untuk membawa mereka ke rumah sakit. Tidak ada yang baik-baik saja kalau terjadi pingsan secara tiba-tiba, apalagi Gempita tidak kenapa-kenapa saat makan bersama tadi. Takutnya ada yang tidak beres dengan fisik atau mentalnya.

"Bunda tolong, Ayah melakukannya lagi~"

"Melakukan apa?" tanya Embun reflek.

Gempita mengerjap pelan. "Tidak, kamu bukan Bunda."

— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —

The Best MomCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang