07. "Mau Pilih Mana?"

505 86 36
                                        

— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —

Wanita itu terbaring lemah di ruang ICU dengan segala peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Dia menjadi orang pertama yang tubuhnya terkena mobil, meskipun ia tidak terpental begitu jauh, tapi lukanya tentu lebih serius dibanding anak-anaknya. Ada retakan di kepala bagian belakangnya.

"Apa yang kamu lakukan pada anak-anak kamu?"

"Mereka semua ketakutan."

"Ada berapa banyak luka yang kamu berikan kepada mereka?"

"Aku merawat mereka, aku menjaga mereka, seperti yang kamu inginkan sesaat sebelum kamu menutup mata."

Embun menghembuskan napas berat, ia hanya bisa memandang wanita itu dari balik jendela. Sebenarnya dia bisa saja masuk ke dalam, tapi untuk saat ini dia harus kembali ke ruangan di mana Gempita beristirahat. Anak itu mengalami tekanan yang membuatnya kesulitan mengontrol diri hingga tidak sadar.

"Embun."

Suara lembut milik Jelita terdengar, Embun menoleh dan menghadap ke arahnya. Dokter spesialis kanker itu merupakan sahabatnya sejak SMA, dia satu-satunya teman Embun yang masih sering bertemu. Jika tidak bersamanya, Embun tidak tahu harus bagaimana menjalani hidup sebagai penderita kanker.

"Aku bakalan selamat dari tuntutan, kan?" tanya Embun.

"Bisa," jawab Jelita. "Tapi aku tidak janji."

"Ya sudah, deh." Embun berucap sembari mengangkat kedua bahunya masa bodoh. "Kalau bukan masuk penjara, paling aku mati karena penyakit ini."

"Embun, ih!" pekik Jelita tak menerima, ia bahkan melayangkan satu pukulan pada lengan Embun. "Jangan mati dulu aku bilang, ih! Kita harus menua bersama, nanti aku mau curhat pas rambut kita sudah memutih."

Embun cekikikan, sedang Jelita memandang dengan tatapan tidak terima. Setelah dinyatakan menderita kanker darah, Embun jadi sering membahas soal kematian, bahkan malam itu dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sebab sudah frustrasi menghadapi kondisinya.

"Istirahat, gih!" suruh Jelita.

"Kamu ngapain di sini?" tanya Embun. "Kamu mau bunuh wanita itu biar nanti dia tidak menuntut aku ke penjara?"

"Embun!" tukas Jelita sembari menepuk lengannya. "Jangan gila! Aku ke sini karena mau memastikan kamu ngga apa-apa, soalnya kamu ngga ada di ruang umum."

"Gempita sudah bangun?"

"Sudah."

"Eh, serius?!"

Jelita mengangguk, detik itu juga Embun berlari untuk segera menemui Gempita. Melihat tingkah Embun membuat Jelita geleng-geleng kepala, nanti pasti mengeluh mual atau sakit kepala, sehabis kemoterapi malah bertingkah. Memang dasar Embun!

Embun memasuki ruang umum, ia melewati beberapa orang dan menarik korden bilik Gempita. Dilihatnya Nadin sedang membelai wajah Gempita dengan penuh kasih sayang, dan dilihatnya juga Terra beserta Nila yang hanya berdiri.

"Bunda habis dari mana?" tanya Terra, tapi dia menunduk seperti tidak berani menatap Embun.

"Biasa, cari angin sebentar," jawab Embun. "Gempita, kamu sudah lebih baik, Sayang?"

Gempita mengangguk pelan, ia sedikit khawatir saat Bundanya datang. Tangannya bergerak gelisah mencari sesuatu untuk digenggam, Embun yang peka pun meraihnya dan menggenggamnya.

"Dingin banget, Sayang," ucap Embun, ia mengecup punggung tangan Gempita. "Kamu mau makan apa? Nanti Bunda minta belikan ke Nila."

"Ti-tidak usah," jawab Gempita gugup. "Pulang saja."

"Memang sudah boleh pulang?" tanya Embun. "Sebentar dulu, kalau sudah benar-benar stabil baru boleh pulang, Dokter juga belum periksa kamu lagi."

"Bagaimana dengan biayanya?" tanya Nadin. "Bunda itukan—"

"Jangan pikirkan itu, deh," kata Embun. "Sekarang Bunda kalian kaya raya, bisa beli apapun, kecuali beli pulau, ya. Ini kalian kalau mau jajan juga boleh, ambil kartunya, nih."

"Mau," cicit Terra malu.

"Terra," tegur Nila sembari menyenggol lengan Sang Kakak.

"Mau jajan boba, tau," bisik Terra. "Nila juga mau, kan?"

Nila mengangguk kecil. "Tapi ngga pegang uang."

"Atau mau Bunda masakin saja?" tawar Embun. "Kalian sepertinya lebih suka masakan Bunda daripada jajan, ya?"

Terra dan Nila saling menatap satu sama lain, keduanya pun dengan kompak menoleh ke arah Nadin untuk meminta bantuan. Nadin sudah menelan ludah dengan susah payah di sana, Gempita sendiri keringatan di telapak tangan yang digenggam oleh Bunda Embun.

"Mau pilih mana?" tanya Embun. "Bunda pulang buat masak dulu, apa beli jajanan di luar?"

"Jajanan!" pekik keempatnya serentak.

Embun memicingkan matanya. "Masakan Bunda enak, kan?"

— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —

Ponsel wanita itu tidak dikunci, daya dari ponselnya pun terbilang cukup untuk digunakan. Embun ini penasaran, meski dia tidak suka merusak privasi seseorang, tapi untuk yang satu ini dia tidak bisa menahannya. Dia harus melihat setidaknya riwayat apa saja yang ada dalam ponsel tersebut. Barangkali ada jawaban dari semua pertanyaan dalam benak pikirnya, yakni tentang ketakutan anak-anak.

Di galeri ponsel ini terdapat begitu banyak foto Nadin, Gempita, Terra, dan Nila. Namun, dari sekian banyak foto yang ada, cara pengambilan fotonya tidak pernah disadari oleh mereka. Semua fotonya diambil secara diam-diam.

"Sepertinya ibu-ibu ini gengsian, makanya dia tidak pernah punya foto terbaik dari anak-anak," gumam Embun. "Tapi keren juga, atau mungkin karena anak-anaknya cantik."

Ketukan di pintu membuat Embun teralihkan, ia lantas turun dari ranjang dan membuka pintu kamar. Dilihatnya Nadin dengan kartu kredit yang ia berikan, anak gadis itu menyerahkannya tanpa sedikit pun menatap wajah Embun.

"Terima kasih, Bunda," ucap Nadin. "Makanannya sudah datang, ayo kita makan."

"Kamu duluan saja, Bunda mau periksa Gempita dulu," kata Embun. "Takutnya Gempita butuh sesuatu."

Dokter tidak menyarankan dirawat, jadi Gempita sudah di rumah sekarang. Nadin menahan langkah Embun dengan memegang lengannya.

"Ada apa?" tanya Embun.

"Jangan marahi Gempita, Bun," ucap Nadin. "Marahi saja Nadin, seharusnya Nadin jaga Gempita biar tidak sakit."

"Nadin," panggil Embun, ia menurunkan tangan Nadin dari lengannya. "Mana mungkin Bunda marah untuk keadaan Gempita, Bunda cuma mau memastikan Gempita istirahat."

"Tapi dulu Bunda selalu marah kalau ada yang sakit," kata Nadin, ia memejamkan matanya dan kedua tangan itu tampak mengepal. "Jadi Nadin mohon, jangan marahi Gempita."

"Bunda kamu ini punya banyak uang sekarang, tidak akan marah-marah selagi saldo di rekening masih penuh," tutur Embun dengan bangga. "Sana pergi, temui Terra sama Nila buat makan. Kalau makanannya tidak enak bilang, biar Bunda yang masak saja."

"Bunda," panggil Nadin.

"Iya?"

Nadin memeluk Embun secara tiba-tiba, Si Anak Pertama ini membiarkan dirinya memeluk Embun erat seperti besok tidak akan ada pelukan lagi. Embun terdiam sejenak, kemudian ia mengangkat kedua tangannya membalas pelukan Nadin. Gadis itu terkejut menerima balasannya, dia pikir yang akan ia dapat selanjutnya adalah dorongan. Tapi ternyata dia salah.

"Semua orang tua itu menyayangi anak-anaknya, tahu," ucap Embun. "Tapi mereka punya cara masing-masing untuk mengungkap rasa sayangnya."

"Bunda tidak menyesal melahirkan kami?"

Embun meringis, mau bilang apa dia? Sedangkan kenyataannya dia tidak melahirkan mereka berempat.

— ᴛʜᴇ ʙᴇꜱᴛ ᴍᴏᴍ —

The Best MomCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang