Gak usah, sok kenal!

1.4K 136 35
                                        

Shera tertawa lebar menanggapi celoteh random Sean yang berjalan bersisian. Dia baru saja keluar dari kelas repeater dari makul yang di ulangnya.

Benar, Sean telah menjadi kesatrianya pagi ini.

Tidak sia-sia Sean menjabat sebagai komsting seumur hidup. Jadi dia bisa mendapat banyak akses jadwal anak-anak dari semester 1-7.

Sean menukar jadwal Shera, dan membantu gadis itu ikut masuk kelas repeat dengan jadwal yang berbeda.

"Kenapa.... Ubur-ubur gak boleh di kejar?" Tanya Sean memberi tebakan random kepada Shera.

"Kan dilaut... Gak punya kaki..." Tebak Shera. Sean menggeleng penuh.

"Terus... Kenapa?" Tanya Shera polos.

"Kalau dikejar jadinya... Buru-buru dong..."

"Plak... Hahahaha"

"Awsss... Sakit, Sher..." Keluh Sean mendapatkan geplakan di lengan kekarnya. Shera masih tertawa sampai memegangi perutnya mendengar tebakan random Shean.

"Nih bekasnya udah kayak kenak setrikanya Iron Man..." Keluh Sean lagi, namun Shera lagi-lagi menertawakan kosa kata random Sean.

Suara tawa Shera yang sedang memasuki area kantin kampus berhasil menarik atensi seseorang.

"By... Aku ke toilet dulu ya..." Ucap Bianca pada Rian yang sedang mencuri atensi ke arah lain.

"Iya... Gak usah lari-larian bisa kan? Nanti kamu jatuh lagi, By..." Peringat Rian. Bianca tersenyum senang.

Rian masih perhatian seperti biasanya.

Namun, lagi-lagi suara tawa Shera berhasil mencuri atensinya.

Gadis itu tampak beberapa kali menertawakan tingkah random laki-laki di sampingnya.

"Gue tau, loe penasaran kan sama tuh cewek! Namanya Shera Kanza si queennya FKIP... Dan cowok di sampingnya adalah sohibnya. Gue denger mereka kejebak friendzone sejak semester pertama... Akibat beda agama..." Pras tetiba menjadi pembaca biodata Shera.

"Ck. Siapa juga yang keppo sama cewek gila kayak dia!" Jawab Rian namun tatapan pada Shera belum juga teralihkan.

"Gue tau Shera emang cakep... Tapi inget loe udah ada Bianca!" Tambah Pras sembari menepuk bahu Rian.

"Cakep darimana sih?! Bianca gak akan pernah terganti di hati gue..." Balas Rian sembari meneguk habis es kopi espressonya.

Pras hanya tertawa, sebenernya dia hanya berniat menggoda sohibnya itu.

"Kamu mau makan apa, Sean?!" Shera menyengaja berdiri dua meja dari tempat Rian duduk.

"Gak usah ngaco deh loe?! Loe paham kesukaan gue..." Balas Sean menyentil dahi Shera. Gadis itu hanya membalas dengan menampilkan deretan giginya yang putih.

Sera mengabur ke arah jajaran etalase yang menyediakan berbagai makanan disana. Shera tampak sibuk membuat catatan pesanan dan berbincang asyik dengan penjualnya.

Di sisi lain, Bianca kembali dari toilet langsung duduk bersandar di bahu kanan Rian.

"Habis ini kuliah, By?" Tanya Rian sembari memainkan ujung rambut bianca yang tergerai indah.

"Iya... Tapi males... Mana bestie-bestie aku gak ada yang ambil makul ini lagi... Nyebelin!" Keluh Bianca membuat Rian terkekeh. Kembalinya Bianca membuat atensi Rian kepada Shera teralihkan.

"Buciiin terus!" Goda Pras terkekeh.

"Iri? Cari pacar sono!" Jawab Rian bangga.

Disisi lain, Shera sudah kembali membawa senampan makanan dan menaruhnya di atas meja mereka.

WEDDING IMPOSSIBLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang