"Buruan Rian..." Shera berteriak geram pada lelaki yang tampak berjalan santai menyapa ibu-ibu di pasar yang saling menggoda.
"Ngapain buru-buru sih, sayang..." Seru Rian yang berhasil mendapat umpatan lirih dari Shera.
"Duh ... Manten baru ya... Masih anget-angetnya. Jadi pengen muda lagi, ibu ..." Ujar salah satu pedagang di pasar. Shera tampak geram, menatap Rian yang berbangga dengan sebutan dari ibu pedagang itu.
"Gak usah senyum-senyum deh ... Buruan bentar lagi ujan." Shera menarik paksa baju Rian, membuat lelaki itu mengikuti langkah buru-buru gadis itu.
"Ck. Kenapa sih? Gue lagi menikmati peran baru nih..." Ujar Rian tak terima di tarik-tarik Shera dengan tidak manisnya.
"Loe... Ngeselin, sumpah!" Teriak Shera kesal. Dia ingin menumpahkan isi keranjang belanjaan kalau tak ingat tatakrama.
"Gue? Salah apa?" Tanya Rian sok polos, padahal memang berniat mengerjai gadis di hadapannya.
"Hisssh!" Shera hanya bisa mendesis, enggan mendebat lelaki di hadapannya itu. Dia buru-buru membawa langkahnya berlari ke arah pinggiran ruko-ruko besar kala gerimis mulai berjatuhan memborbardir bumi.
"Kan.. Deres jadinya." Omel Shera, sedangkan Rian sibuk mengibaskan bajunya, ikut berlari menyusul Shera sekaligus menyelamatkan diri dari hujan yang tetiba menderas.
Shera masih sibuk memaki lirih kelakuan Rian, sedangkan lelaki itu kini tertawa sembari sesekali mengibaskan tangannya yang basah sembari menggoda Shera.
"Loe tuh ya.... Bisa brenti ngeselin gak sih?!" Kesal Shera menjauhi Rian sembari mendekap belanjaannya di depan dada.
"Kenapa sih?! Sensi amat?!" Tanya Rian masih terus berusaha menggoda Shera yang sudah kesal setengah mati.
"Hush... Hush... Sana! Loe gak boleh sedikitpun mendekati gue!" Seru Shera semakin bersembunyi pada pojok ruko menjauh dari cipratan air yang Rian lakukan. Lelaki itu tertawa puas melihat Shera yang memberengut kesal.
"Kenapa sih?! Masa kecil loe kurang bahagia ya?!" Goda Rian.
"Gak usah sok tau loe!" Ujar Shera menatap jengah pada suara tawa mengejek yang keluar dari mulut Rian.
Shera benci hujan. Entah mengapa dia tidak pernah suka. Baginya hujan yang turun dan menderas seperti sebuah penjara untuk setiap langkah kecilnya.
Bagi Shera hujan hanya menawarkan kedinginan. Dia juga takut pada petir.
"Ck. Kalau loe gak banyak tingkah gak bakalan kejebak hujan..." Ujarnya mengutarakan kekesalan yang memenuhi hatinya.
Rian bersidekap tak jauh dari tempat Shera menyembunyikan diri. Dia menatap hujan yang jatuh memborbardir bumi.
"Loe gak suka hujan?" Tanyanya. Lain dengan Shera Rian selalu menunggu hujan tiba. Dia suka menikmati suara gemericik hujan, seolah sebuah ritme musik yang indah. Bau tanah yang menguar seolah parfum terbaik yang memenangkan.
"Padahal hujan menurut gue adalah karya terbaik Tuhan..." Ujar Rian menatap Shera yang semakin beringsut menjauh dan duduk di pinggir ruko.
"Gak semua hal yang loe suka, gue harus suka kan?" Kata Shera. Rian tertawa mendengar ungkapan Shera.
"Kayaknya loe gak pernah main ujan-ujanan ya?" Tanya Rian. Gadis itu hanya diam, dia menatap air yang berjatuhan dari atap langit. Menderas, mengalir membasahi jalanan pasar. Di antara keributan manusia yang ingin menyelamatkan diri dari hujan.
Shera tak pernah sekalipun bermain hujan. Dia benci rasa lengket dan basah saat air hujan menyentuh tubuhnya. Maka dari itu sejak kecil Shera selalu menghindari hujan. Hujan terlalu beresiko bagi gadis itu. Ia tak suka saat harus demam tinggi hanya karena kehujanan.
"Udah agak reda... Mau nerabas aja? Apa nunggu sampai beneran reda?" Tanya Rian.
"Tunggu reda." Jawab Shera diplomatis. Rian hanya mengangguk mencoba mengerti. Bahwa gadis yang sedang bersamanya adalah si pembenci hujan. Mungkin hal-hal sederhana ini harus mulai ia pelajari untuk mendapatkan hati Shera. Rian kini ikut terdiam menikmati sisa-sisa gerimis yang berjatuhan. Membiarkan hujan mereda dengan sendirinya sebelum akhirnya membawa gadis itu pulang.
****
"Ya Ampunn... Kirain Mama kalian kena culik! Pergi pagi pulang hampir sore..." Goda Mama Shera melihat kedua muda-mudi itu masuk ke dalam pekarangan rumah.
"Hujan Mah..." Jawab Shera.
"Ck. Kebiasaan kamu... Mbok sesekali di terabas... Wong cuma gerimis aja." Jawab Mamanya yang sudah hapal dengan sifat putrinya itu.
"Maaf ya Nak Rian... Jadi kamu ikut-ikutan neduh lama... Kalau mamanya Shera kalau belum lihat matahari nongol sehabis ujan.. dia mah ga bakal milih pulang.. mending nginep aja sekalian di pasar..." Tawa Mama Shera pecah sembari.menjelaskan kelakuan Shera.
"Mamah..." Shera tampak sewot, ia tak suka Rian tau kelemahannya terlalu jauh.
"Gak papa Tante... Itung-itung menikmati peran sebagai calon suami yang baik..." Ucap Rian santai.
"Dih! Kek bakal jadi suami aja!" Ujar Shera lirih menanggapi ucapan Rian. Lelaki itu menoleh, dan Shera membalas dengan tatapan seolah berkata 'apa'.
Rian hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Em... Chila dimana Tante?" Tanya Rian mengalihkan pembicaraannya.
"Lagi bobo... Tadi sih sempet kesel karena Omnya ga pulang-pulang. Tapi setelahnya aman kok..." Ucap Mama Shera.
"Em... Kalau saya ajak pulang boleh ga, Tan? Soalnya Mamanya sudah kirim banyak pesan ke saya..." Kata Rian lagi.
"Eh... Kasian tapi. Biar nanti Shera yang antar aja sama Tante..."
"Kok aku sih, Mah?" Shera yang sedang mengaduk jus jeruknya tampak tak terima.
"Yang bikin lama Om Chilla pergi siapa?" Tanya Mamanya.
"Mama..." Jawab Shera santai.
"Kok Mamah... Kan kamu yang beralibi ngindarin hujan, padahal mah mau berduaan sama Rian..." Goda Mama Shera.
"Hish... Gak ya! Udahlah loe pulang aja. Entar Cilla gue antar ke rumah loe..."
"Beneran?!" Tanya Rian.
"Iyalah... Mama juga emang ada niatan mau main kan..." Tebak Shera. Mamanya hanya tertawa.
"Hish... Mama nyebelin!" seru Shera meninggalkan Rian yang sedang bersiap-siap pamit dari rumah Shera.
****
Udah gitu aja...
Seru ga seru
Yang penting abdet wakama
KAMU SEDANG MEMBACA
WEDDING IMPOSSIBLE
Romance"Gak boleh nyerah! Kalau gagal harus maksa buat jadian! Nangis hanya milik cewek-cewek lemah!" Shera Khanza "Loe bisa berhenti gangguin gue gak sih?! Gue gak akan pernah putus sama Bianca! Gue harap pertunangan kita gak pernah terjadi!" Rian Pratama
