Setelah mengantar Cilla yang tertidur di pangkuannya. Shera memilih pamit pulang. Namun, lagi-lagi Tiara meminta Rian untuk mengantar kepulangan gadis itu. Shera berdecak lirih. Ia masih kesal pada Tiara yang tampak memaksakan Shera dan Rian untuk akur dengan membawa Cilla di tengah-tengah mereka.
"Maafin kaka, ya Sher... Tapi, kakak gak mau kehilangan kamu." Ucapnya tampak tulus.
"Iya, Shera ngerti kok, Kak. Tapi kan Rian..."
"Ayok..." Ucap Rian memotong kalimat Shera kepada Tiara.
"Makan disini dulu..." Mama Rian datang dari arah dapur.
"Em... Tadi udah makan sama Cilla juga." Jawabnya jujur.
"Shera... Kalau Rian nyakitin kamu, langsung bilang sama Tante. Kalau udah gedek sama anak Tante, tinggalin aja, ya..." Ucap Mama Rian menggebu-nggebu namun malah berhasil membuat Shera terkekeh. Dia menjulurkan lidahnya ke arah Rian sembari bergelayut manja di tangan Mama Rian.
"Iya siap... Ini lagi proses buat ninggalin Rian kok, Tan..." Jawab Shera.
"Sher... Ayolah..." Rian merajuk namun malah mendapatkan hadiah jeweran dari tangan Mamanya.
"Aws... Ah. Sakit, Mah!" Seru Rian mengaduh.
"Makanya gak usah kekanakan jadi laki! Untung Papa belum tau... Kalau udah kamu digantung di jemuran." Omel Mamanya, sedang Rian masih mengelus telinganya yang memerah.
"Shera pulang dulu, ya Tan..." Pamit gadis itu. Dia merogoh tasnya mencari kunci mobilnya.
"Kunci di gue... Buruan gue anter." Ucap Rian yang sudah siap masuk di bidang kemudi mobil Rian.
"Ck. Gue bisa sendiri, Ish!" Kesal Shera, namun akhirnya memilih enggan berdebat dengan lelaki itu.
Shera memilih mode diam sepanjang jalan menuju rumahnya. Dia sudah cukup lelah berpura-pura baik di depan Rian selama ada Cilla di antara mereka.
Rian juga fokus pada gagang setirnya. Ia berusaha memutat otak untuk mendapatkan kata maaf dari Shera.
Rian sadar, kesalahannya sangat besar. Ia benar-benar telah menyakiti Shera berulang, dengan sadar dan tidak sadar.
Mungkin akan lebih sulit, namun Rian tak boleh menyerah. Semua demi kebahagiaan kedua orang tuanya. Rian tak boleh lagi membuat mereka kecewa. Terutama Omanya.
Tak terasa Rian berhasil membelokkan kendaraan roda empat itu masuk ke pekarangan rumah Shera.
Sebelum Shera mencapai gagang pintu mobilnya, Rian terlebih dahulu mengangsurkan boneka lolipop "perdamaian" ke arah Shera.
"Ck. Gak mau!" Ucapnya.
"Ayolah, Sher... Kita udah damai. Pleaseee..." Pinta Rian menuh harap
"Ck. Gak segampang itu Rian! Jangan loe kira gue udah terima maaf loe, ya! Semua karena ada Cilla." Ucap Shera sembari melipat tangannya.
"Sher..."
"Loe masih memahami bahasa gue, kan? Gue tuh gak hanya kesel, tapi sebel banget sumpah!" Ucap Shera yang mulai menampilkan wajah kesalnya ke arah Rian.
"Loe ngapain sih masih mau ngelanjutin hubungan kita?! Gue gak pernah minta di perjuangin kok. Toh kalau emang mau lepas, okay gas!" Seru Shera.
Rian memilih diam dia paham posisi Shera yang terluka karena dirinya.
"Gak usah ikutin gue! Gue mau menikmati hidup gue. Buruan pulang, kunci kasih ke Mama aja." Ucapnya diikuti suara mobil yang tertutup dengan keras. Rian berjengit namun berusaha mengontrol diri. Lelaki itu berjalan di belakang Shera. Mama Shera sedang sibuk melakukan pembukuan melalui tablet di tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
WEDDING IMPOSSIBLE
Storie d'amore"Gak boleh nyerah! Kalau gagal harus maksa buat jadian! Nangis hanya milik cewek-cewek lemah!" Shera Khanza "Loe bisa berhenti gangguin gue gak sih?! Gue gak akan pernah putus sama Bianca! Gue harap pertunangan kita gak pernah terjadi!" Rian Pratama
