Shera dengan telaten membantu memakaikan pakaian Cilla, setelah dia berhasil memandikan gadis berusia 3,5 tahun itu.
"Hummm... Udah wangi.." Ucap Shera berganti menyisiri rambut gadis kecil di pangkuannya. Cilla masih terus berceloteh riang, membiarkan jemari Shera menghias rembutnya dengan berbagai jepit lucu.
"Tante Sella kapan tinggal sama Om Ian? Bial Cilla gak dipaksa bangun pagi-pagi..." Cicitnya terdengar polos. Shera terkekeh geli mendengar ungkapan gadis di pangkuannya.
"Emang Om Ian beneran mau sama Tante Shera? Om Ian kan gak sayang sama Tante Shera..." Ucap Shera menanggapi ucapan Cilla sembari tertawa.
"Kata Om Ian, Om Ian sayang banget.. nget.. nget... Sama Tante Sella..." Ucap gadis kecil di pangkuannya. Wajah menggemaskannya tampak lucu di pantulan cermin rias milik Shera.
Shera terkekeh, tidak dapat membayangkan cerita halu yang Rian buat untuk membujuk Cilla.
"Oh ya..." Shera menanggapi ucapan Cilla kembali.
"Kalau Tante Sella... Sayang enggak sama Om Ian, aku?" Tanya Cilla lagi. Shera kali ini tak dapat membendung tawanya. Dia tidak habis pikir siapa yang mengajari Cilla untuk menjadi seorang perayu seperti ini.
"Nah... Udah cantik! Sekarang boleh kita main di luar ya..." Ujar Shera enggan menanggapi pertanyaan terakhir Cilla. Ia malah mengalihkan dengan menatap puas hasil karyanya di rambut Cilla.
"Tapi Tante belom jawab!" Cilla memberengut kesal sembari melipat kedua tangannya, saat di turunkan dari pangkuan Shera.
"Cilla mau coklat, apa es krim? Nanti Tante ajak jalan-jalan, mau gak?" Tawar Shera berusaha mengalihkan pertanyaan Cilla. Mendengar tawaran Shera kedua bola mata Cilla membulat sempurna. Bibir kecilnya membuat sebuah lengkungan, lalu dia berteriak senang.
"Mau!!" Seru Cilla sembari berlompatan riang di depan Shera.
"Ya udah... let's gooooo" seru Shera menggandeng tangan mungil Cilla. Cilla buru-buru membuka pintu kamar Shera untuk segera keluar.
Brugh...
"Awwss..." Rian meringis sembari menatap kedua bola mata Shera dan Cilla yang membulat sempurna, keduanya tampak shock mendapati Rian tersungkur di hadapannya.
"Om Ian?!" Cilla menjerit lalu berjongkok di hadapan Rian, dia seolah ingin membantu Rian berdiri.
"Ngapain sih?!" Shera tampak mencebik ke arah Rian. Sedangkan cowok itu hanya dapat meringis malu. Hampir seperempat jam ia berdiri menguping percakapan Shera dan Cilla di balik pintu kamar itu. Dan tidak sadar saat pintu di buka secara tiba-tiba oleh Cilla dan membuat dirinya tersungkur dengan cara yang konyol.
"Hehe ... Sorry, g-ue .. em, nyari Cilla..." Jawabnya dengan gugup.
"Ck. Alasan..." Jawab Shera sewot.
"Yuk Cil... Kita nyari es krim di cooler box punya Tante..." Ajak Shera mengabaikan Rian yang masih menepuk-nepuk kedua telapak tangannya dengan posisi masih terduduk di lantai.
"Ayook... Tapi Om Ian di bagiin kan, Tante? Om Ian kan Balu jatoh... Kasian." Ungkap Cilla. Shera yang enggan memperpanjang waktu dengan Rian terpaksa mengangguk mengiyakan tawaran Cilla.
"Aduh... Duh ... Cup.. cup, Om Ian jangan menangis ya ... Nanti Cilla kasih es klim..." Ujar Cilla yang tetiba duduk di pangkuan Rian, sembari berusaha seolah-olah menenangkan cowok itu. Seketika tawa Shera meledak. Dia menatap lucu ke arah Rian yang masih di peluk tubuh kecil Cilla dan di tenangkan.
Rian tampak kesal dengan Shera yang bukan membantunya berdiri, malah terus menertawakannya.
"Om gapapa, kan?" Tanya Cilla kembali memastikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
WEDDING IMPOSSIBLE
Romance"Gak boleh nyerah! Kalau gagal harus maksa buat jadian! Nangis hanya milik cewek-cewek lemah!" Shera Khanza "Loe bisa berhenti gangguin gue gak sih?! Gue gak akan pernah putus sama Bianca! Gue harap pertunangan kita gak pernah terjadi!" Rian Pratama
