Sore hari menjelang malam saat itu Sang Raja, Ratu, dan Pangeran sedang berkumpul untuk makan malam di ruang makan istana. Ketiganya berbincang ringan mengenai hari-hari mereka seperti biasanya.
Sejujurnya Gavin adalah seseorang yang beruntung. Kebanyakan dari anak-anak bangsawan yang Gavin temui dan dengar ceritanya memiliki masalah kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Beberapa karena terlalu sibuk, beberapa memang tidak tahu cara memberikan kasih sayang karena memang orang tua mereka juga dibesarkan seperti itu, ada pula yang memang tidak perduli dan hanya haus akan kekuasaan.
Tapi beruntungnya Gavin tidak pernah merasakan itu. Tobias, sang ayah, selalu menyempatkan waktu untuk berbicara dengan anaknya, selalu memberikan nasihat-nasihat yang berguna bagi Gavin bahkan hingga di masa kehidupannya yang sudah menginjak umur kepala dua itu. Gavin bisa merasakan kehangatan dari sang ayah namun tetap melihat ayahnya sebagai pria terkuat dan tergagah yang pernah ia kenal. Dari ayahnya Gavin tahu, untuk mendapatkan wibawa dan rasa hormat, seseorang tidak butuh untuk menjadi kejam.
Lalu sang ibu? Tidak perlu ditanya. Natalie adalah rumah bagi suami dan anaknya. Dia ceria, dia anggun, dia penuh akan kasih sayang. Ketika hari-harinya buruk, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar dan tetap memberikan senyuman indahnya kepada sang anak ketika mereka bertemu. Natalie sangat menyayangi anak semata wayangnya itu.
Karena itu pula Gavin tumbuh menjadi seorang yang lembut, tetapi juga tegas. Walaupun sebenarnya ia tergolong tidak banyak bicara, dan masih sulit untuk mengutarakan perasaannya kepada orang lain. Perawakan luarnya yang pendiam dan dingin sangat jauh berbeda dengan hatinya yang lembut dan hangat.
Hidangan penutup telah disajikan ketika tiba-tiba Tobias yang duduk di kepala meja mengangkat topik yang telah Gavin hindari selama dua minggu belakangan ini. "Gavin, apakah kau siap untuk rencana yang telah ayah buat?" Gavin tahu kemana arah pembicaraan ini. Gavin kira mereka sudah melupakannya dan tidak akan memaksa Gavin untuk segera mencari pasangan lagi.
"Rencana apa, ayah?" Gavin bertanya, berpura-pura lupa.
"Perjodohan. Sebentar lagi umurmu duapuluh satu tahun, telah menginjak umur dewasa." Ucapnya, tapi malah disikut oleh sang istri yang duduk di kirinya, membuatnya beringsut menjauh. "Kenapa?" Dia malah berbisik kepada Natalie.
"Kan kita sudah sepakat untuk membiarkan Gavin memilih pasangannya sendiri terlebih dahulu!" Bisik Natalie kembali dengan wajah setengah marah.
Sebenarnya entah apa gunanya mereka berbisik seperti itu. Gavin bisa mendengarkan seluruh pembicaraan mereka tanpa perlu menguping ataupun menajamkan indera pendengarannya. "Ibu, ayah, aku masih disini." Dia terkekeh.
Tobias berdeham malu lalu kembali menatap Gavin yang duduk di samping kanannya. "Baiklah, apa kau sudah punya seseorang yang kau inginkan?"
Natalie tersenyum jahil, "Ada. Saat itu dia mengatakannya kepadaku." Jiwa bergunjingnya bangkit.
"Ibu!" Gavin seakan memohon kepada ibunya untuk tidak lagi mengungkit hal itu.
"Apa yang kalian sembunyikan dari ku?" Tobias menatap kedua kecintaannya curiga.
"Anakmu jatuh cinta. Tapi dia tidak tahu siapa namanya, dari mana asalnya. Jatuh cinta pada pandangan pertama, betul kan?" Natalie tidak ada keinginan untuk merahasiakan itu dari Sang Raja. Dia bocorkan semuanya bahkan melebihi dari apa yang Gavin ucapkan, walapun sebenarnya semua yang ia katakan adalah benar.
Gavin diam saja, menunduk sembari memakan pudding susu yang sangat lembut.
"Loh, tidak tahu siapa namanya? Lalu bagaimana kita mau mencarinya?"
Gavin masih diam, rasanya sangat tidak ingin lagi melanjutkan perbincangan itu.
"Kalau mendatangi satu-satu rumah rakyat kita, bisa memakan waktu berbulan-bulan." Natalie mulai berpikir.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Crown Prince
Fanfiction[GeminiFourth Fanfic/Royalty AU] Pangeran Mahkota kerajaan Rouguemont, Pangeran Louis, sebentar lagi akan memasuki umur dewasa. Sang raja sedang berada dalam misi menjodohkan anaknya karena ia meyakini bahwa seorang pemimpin itu membutuhkan pasangan...
