[GeminiFourth Fanfic/Royalty AU]
Pangeran Mahkota kerajaan Rouguemont, Pangeran Louis, sebentar lagi akan memasuki umur dewasa. Sang raja sedang berada dalam misi menjodohkan anaknya karena ia meyakini bahwa seorang pemimpin itu membutuhkan pasangan...
Sejak kejadian di perpustakaan utama beberapa hari yang lalu, Gavin tidak pernah lagi menyentuh buku itu. Firasatnya buruk. Dia penasaran, namun ia belum siap. Dia tidak membaca bukunya lebih jauh. Malahan, yang ia lakukan adalah secepat kilat menutup buku indah namun usang itu, dan memasukkannya kembali ke dalam rak.
Berhari-hari pula dia tidak berhenti memikirkan gambar itu. Sangat mengusiknya, pagi dan malam.
Namun dia menyembunyikan semuanya dari semua orang. Tentu tidak sulit baginya yang minim akan ekspresi itu untuk menyembunyikan kegundahan hatinya. Dia berusaha berkegiatan senormal mungkin, tak ada menciptakaan kecurigaan dari keluarganya.
Dan pada hari ini, ada hal lain yang harus ia urus. Suatu hal yang lebih penting.
Ruangannya sudah selesai sejak dua hari yang lalu. Kepala proyeknya mengatakan padanya untuk membiarkan ruangan itu kosong sementara waktu agar membiarkan bau cat dan kayunya menghilang terlebih dahulu, membuka jendela-jendelanya agar ruangannya dimasuki oleh angin dari luar.
Dan masa mendiamkan ruangan itu telah usai. Sudah saatnya ia menunjukkan ruangan itu kepada Laninya. Dia tidak sabar. Ingin sekali melihat bagaimana reaksi dari Nolan. Apakah dia akan suka? Apakah dia akan tersenyum? Apakah Gavin akan melihat binar itu kembali pada matanya yang indah, dan melihat raut kebahagiaan terlekat kembali pada wajahnya?
Apapun, apapun yang dapat membuat Nolan senang, akan Gavin lakukan.
Maka disanalah mereka. Berjalan perlahan dengan kondisi Gavin menuntun Nolan karena matanya ditutup dengan kain hitam.
Nolan tak dapat melihat apapun, seluruh gerakannya menunggu aba-aba dari Gavin.
"Hati-hati, di depan ada tiga anak tangga." Gavin melihat Nolan meraba langkah di depannya dengan kaki kanan, lalu menaikkan kakinya satu-persatu.
"Gavin, memangnya kita mau kemana? Setahuku aku sudah mengunjungi seluruh tempat di istana ini." Dari tadi pertanyaan Nolan belum dijawab, sedikit frustasi walau hanya karena didominasi oleh rasa penasaran.
"Tunggu sebentar lagi. Pintunya ada di ujung lorong. Aku harap Lani suka." Ucap Gavin sambil tersenyum. Walaupun Nolan tak dapat melihatnya, Nolan dapat mendengar senyuman itu, maka ia meniru ekspresi Gavin.
Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini. Maka Nolan akan menerima apapun yang akan Gavin lakukan dan rencanakan. Nolan yakin dia akan menyukainya. Apapun tentang Gavin pasti akan ia sayang sepenuh hati.
"Sebentar aku buka pintunya." Gavin melepaskan tangannya dari Nolan lalu membuka kedua daun pintu lebar berlapiskan emas itu. "Ayo masuk." Dia kembali menuntun Nolan. Tangannya ia gamit ke lengan Gavin, ikut berjalan dengan perlahan.
"Aku buka penutup matanya ya." Suaranya berasal dari belakang tubuh Nolan, lalu ia mengangguk.
Sedetik kemudian Nolan merasakan ikatan pada matanya melonggar, perlahan turun lalu diangkat naik untuk dilepas dari kepalanya. Seketika cahaya mulai memasuki indera penglihatannya, membuatnya sedikit mengernyit akibat silau yang datang secara tiba-tiba.
Ketika matanya sudah beradaptasi, Nolan melihat ke sekitar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.