Selama seharian ini Nolan telah menghadiri kelas etika, bersama dengan seorang wanita paruh baya berperawakan tinggi dan kurus. Namanya Anne.
Jujur, bagi Nolan Anne sedikit menyeramkan. Tubuhnya yang jangkung membuatnya terintimidasi. Wajah datar dan tegasnya mampu membuatnya bergetar ketakutan. Sehingga seharian ini dia mencoba fokus ke semua pelajaran yang diberikan oleh wanita itu, tidak ingin memberikan celah kepadanya untuk memarahi dirinya. Nolan tidak akan tahu bagaimana keadaannya ketika wanita itu marah. Mungkin ia akan buang air kecil di celananya sendiri.
Pada akhirnya, di sore hari kelasnya bersama Nyonya Anne selesai. Ia keluar dari ruang makan, meninggalkan jenis-jenis sendok, pisau, garpu, dan piring-piring dengan berbagai ukuran yang membingungkan itu di sana.
Namun baru saja ia membuka pintu, ia telah ditunggu oleh Winona, Catherine, dan Kaila. Diam-diam dia menghela napasnya gusar. Kapan dia bisa ditinggal sendirian di istana ini selain ketika dirinya tertidur?
Ia berjalan lebih dulu, diikuti oleh tiga orang yang setia mempertahankan jarak setengah meter di belakang. "Aku sudah boleh kembali ke kamar, kan?"
"Sudah, tuan. Apakah anda membutuhkan sesuatu?" Winona bertanya.
"Tidak. Saat ini tidak. Aku lelah."
"Hari ini melelahkan ya, tuan?" Kaila yang sudah lebih santai beberapa hari belakangan ini semakin banyak bicara. Membuat Nolan menjadi sedikit lebih tenang dan senang karena artinya dia memiliki orang lain untuk diajak berbincang. Akhirnya istana besar ini menjadi sedikit lebih ramai, mengisi kekosongannya.
"Sebenarnya bukan melelahkan." Nolan melihat kebelakang, mengisyaratkan kepada ketiga pelayan pribadinya untuk mendekat. Ketiga wanita itu mempercepat langkah mereka, mengejar Nolan yang seperti sudah siap untuk bergosip. Mereka mendekatkan kepala penasaran ketika Nolan berbisik, "Nyonya Anne sangat menyeramkan."
Winona hanya tertawa kecil sedangkan Catherine dan Kaila yang belum mengetahui bagaimana perangai Nyonya Anne tercengang ketakutan. "Tuan, apakah Nyonya Anne semenakutkan itu?" Catherine dengan wajahnya yang ketakutan bertanya.
"Sungguh, kakiku bergetar seharian karena ketakutan." Masih berbisik, membuat ceritanya semakin menakutkan.
"Tuan, tidak baik membicarakan orang seperti itu." Dengan senyuman geli Winona memperingati. "Nyonya Anne tidak menyeramkan. Beliau memang jarang tersenyum, namun dia tidak bukan pemarah." Winona memberitahu Nolan dan dua pelayan yang ikut ketakutan akibat ceritanya.
"Benarkah?" Nolan memastikan.
"Beliau adalah seorang bangsawan yang baik hati. Saya mengenalnya." Saat ini langkah mereka menjadi sejajar, berjalan beriringan ketika mereka melewati area utama istana, dekat dengan pintu keluar, menunjukkan taman istana yang diterpa cahaya sore. Dipenuhi dengan bunga dan kupu-kupu berwarna-warni.
Langkah Nolan melambat, melihat dari jendela yang terbuka ke arah taman indah itu. "Bolehkan jika aku ingin berjalan-jalan sebentar di luar?"
"Tentu saja tuan, kita masih memiliki banyak waktu sebelum jadwal anda bersiap-siap untuk makan malam."
"Ayo keluar. Aku butuh udara segar."
Maka mereka berjalan, ketiga orang itu kembali menjaga jarak di belakang Nolan. Mengekorinya kemanapun ia pergi.
Nolan berjalan menuju sembarang arah. Mengikuti taman bunga yang hampir menjadi sebuah labirin itu dengan tanaman setinggi pinggangnya. Hari yang telah sore membuat udara tidak begitu panas, namun masih ada matahari yang menerpa. Matahari yang berwarna lebih keemasan dari biasanya.
Langkahnya membawa dirinya ke area taman yang dihias dengan bunga-bunga merambat melengkung ke atas. Membuat cahaya matahari tidak sepenuhnya menembus tempatnya berdiri, namun terdapat secercah cahaya berhasil mendorong masuk. Nolan memetik satu bunga berkelopak merah jambu dan sedikit transparan. Ia bawa bunga itu ke atas, mengarahkannya ke area yang dilewati cahaya matahari. Memicingkan sebelah matanya untuk melihat bunga yang semakin terlihat transparan ketika diterpa cahaya. Lalu bunga itu ia bawa turun, tepat ke hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Crown Prince
Fanfiction[GeminiFourth Fanfic/Royalty AU] Pangeran Mahkota kerajaan Rouguemont, Pangeran Louis, sebentar lagi akan memasuki umur dewasa. Sang raja sedang berada dalam misi menjodohkan anaknya karena ia meyakini bahwa seorang pemimpin itu membutuhkan pasangan...
