[GeminiFourth Fanfic/Royalty AU]
Pangeran Mahkota kerajaan Rouguemont, Pangeran Louis, sebentar lagi akan memasuki umur dewasa. Sang raja sedang berada dalam misi menjodohkan anaknya karena ia meyakini bahwa seorang pemimpin itu membutuhkan pasangan...
Pagi itu matahari bahkan belum menampakkan wujudnya, langit masih gelap gulita, masih tampak bintang-bintang bertebaran. Udara di sekitar masih sangat amat dingin, jika tidak mengenakan jubah maka dapat dijamin semua orang akan menggigil.
Seharusnya di hari yang sepagi itu belum ada aktivitas, seharusnya orang-orang masih terlelap di dalam rumahnya masing-masing, masih hinggap di alam mimpi. Namun berbeda dengan kediaman keluarga Arthur yang sudah terdengar ricuh.
"Lani! Seharusnya kau membiarkan wanita terlebih dahulu! Dimana tata krama mu! Adik durhaka!" Setelah kalah dalam berebut urutan mandi, Talia Arthur, si sulung bersunggut-sunggut.
Sang adik, Nolan Arthur, atau yang biasanya dipanggil Lani oleh keluarganya menutup telinga dan tidak perduli. Wanita? Kakaknya bukanlah seorang wanita. Di rumah mereka jenis kelamin tidak berlaku. Jika peperangan terjadi, Nolan tidak akan pernah mau mengalah.
Nolan dapat membayangkan kakaknya pergi sembari menghentak-hentakkan kaki, mengadu pada ibunya. Dari dalam kamar mandi ia tertawa puas. Lalu kembali terdiam ketika ia melihat genangan air yang akan ia gunakan untuk mengguyur tubuhnya.
Dingin.
Pasti sangat amat dingin.
Pada akhirnya ia dengan cepat melakukan ritual paginya sembari mengutuk siapapun yang membuat peraturan, bahwa mereka harus berdoa di rumah doa terjauh yang pernah Nolan kunjungi.
Nolan tidak habis pikir. Kenapa harus pergi sejauh itu jika seluruh tetangga mereka pergi ke rumah doa di wilayah mereka? Jika keluarnya memperbolehkan dirinya ikut berdoa disana, maka dia tidak perlu bangun se pagi ini dan merasakan dinginnya air yang bisa membuat darahnya membeku itu.
Rumah berdoa yang jauh membuat keluarga Arthur harus bangun lebih pagi jika tidak ingin berdesak-desakan dengan orang lain ketika sampai di sana.
Belum lagi perjalanan ke sana, sangat merepotkan.
Nolan membuat pesan di dalam benaknya untuk mencoba merengek lagi kepada ibu atau ayahnya untuk membiarkan mereka — atau setidaknya hanya dirinya — untuk berpindah tempat berdoa. Dia sudah lelah hanya dengan membayangan kakinya berjalan berkilo-kilo meter untuk mencapai rumah doa yang indah itu.
Sejujurnya, jika Nolan berpikir kembali, ia tidak keberatan menempuh jarak se-jauh ini untuk berdoa di tengah kota. Dia bisa berjalan-jalan sepulangnya dari sana, membeli banyak makanan yang ia sukai. Dan juga, dia bisa melihat pemandangan yang menyegarkan mata. Menurutnya memang rumah doa ini adalah yang terindah yang pernah ia lihat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seluruh catatan dan rangkaian kata yang sudah ia susun untuk ibu dan ayahnya langsung sirna ketika matanya kembali disuguhkan bangunan putih yang diterpa cahaya matahari pagi. Pada akhirnya langit mulai membiru.
Nolan berjalan perlahan, telah berpisah dari orang tua dan kakaknya. Memperhatikan tiap dinding yang ia lewati. Tidak akan bosan melihat ukiran-ukiran di tiap sudut gedung. Setiap ia mengunjungi rumah doa itu, pasti ada saja hal baru yang ia temukan.