Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jovan terkejut bahwa Kafka tiba lebih dulu darinya. Padahal kesepakatan mereka adalah jam 9, sedangkan sekarang baru jam 8. Studio Dryad sebenarnya baru akan buka pada pukul 10 pagi, namun karena Jovan kenal pemiliknya dan memang sudah menganggap tempat tersebut sebagai rumah kedua, bisa dibilang dia memiliki hak istimewa.
Kafka duduk di kursi depan resepsionis dengan tas hitamnya. Dia sendirian. Bang Kir, sang penjaga studio tersebut, kemungkinan membukakan pintu, mempersilakannya masuk lalu kembali tidur. Entah bagaimana studio tetap bisa aman dengan dia sebagai penjaganya masih menjadi sebuah misteri.
Dua hari yang lalu, Jovan kembali ke apartemen setelah kelas dari sore hingga malam dan mendapatkan informasi mengejutkan dari kembarannya bahwa Kafka menerima tawarannya. Jovan yang awalnya lesu langsung membulatkan mata. Mengingat akhir dari pertemuan mereka saat itu, dia tidak menyangka bahwa hal tersebut ternyata ampuh dalam meyakinkan Kafka. Kira-kira apa yang membuatnya berubah pikiran?
Rival lalu memberikan nomor teman sekelasnya itu dan Jovan pun menghubunginya, memintanya untuk datang ke Dryad pada hari dan waktu yang sudah ditentukan. Jovan bertanya sedikit di chat, tentang apa yang membuatnya ingin ikut bergabung. Jawaban Kafka singkat dan jelas:
"Band lo menarik."
Seangkuh itukah dia untuk menjadikan itu satu-satunya alasan?
Jovan melepas earphone yang tersangkut pada telinganya. Satu tangan membawa casing besar berbahan keras. "Lo udah dateng dari kapan?"
"Sepuluh menit yang lalu," Kafka berkata. "Kecepetan, ya?"
"Nggak pa-pa sih. Yang penting gue udah dateng. Mau langsung ke studio, nggak?" Jovan sudah berjalan melewatinya menuju tangga.
"Tunggu!"
Kaki jenjang Jovan berhenti melangkah. Dia memutar balik badannya dan menghadap Kafka, yang mana lelaki itu sudah berdiri dan tampaknya masih sangat bimbang. Bukankah dia sendiri yang sudah menyetujui tawarannya untuk masuk ke Masquerade? Jika ini adalah pengunduran diri lagi, Jovan akan benar-benar histeris. Dia tidak punya waktu untuk itu semua.
"Apa yang membuat lo langsung percaya kalo gue adalah orang yang buat komposisi itu semua?" tanya Kafka dengan raut wajah serius. Dahinya mengerut. "Masukin sebuah orkestra ke dalam lagu yang bahkan nggak akan dirilis itu aneh, kan? Lo nggak mempertanyakan ini semua apa? Lo bener-bener ngajak gue gabung tanpa banyak perkiraan."
"Lo kuliah di tempat yang sama dengan Rival dan salah satu idola lo itu B3rmuda, of course gue percaya lo segabut itu untuk nyewa satu orkestra." Alis Jovan terangkat. "Nah, sekarang gue mau liat secara langsung keahlian lo. Studionya di atas. Kita sebaiknya sih ke sana sebelum Farez dan Noel dateng."