Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Farez bahkan tidak membiarkan Jovan untuk mengucapkan sepatah kata sebelum dia menutup kembali pintu rumahnya. Terdapat suara seorang wanita dari dalam rumah yang terkejut dan bertanya mengapa tamu mereka itu tidak dibiarkan masuk. Farez hanya menjawab: "Bukan siapa-siapa, Ma."
Jovan setengah mati berusaha menahan emosinya. Kurang ajar banget ni anak!
Dengan menggunakan trik terakhir, dia pun berseru riang, "Apa kabar, Tante? Ini Jovan. Udah lama banget nggak ketemu."
Pintu rumah seketika langsung dibuka kembali. Farez yang melakukannya, namun matanya memelototi Jovan; kekesalan menampil dengan sempurna pada raut wajahnya. Jovan hanya bisa tersenyum saat ibu Farez menghampiri mereka dari belakang. Wanita itu mengenakan sebuah apron berwarna biru muda, kemungkinan tengah menyiapkan makan siang. Sewaktu dia melihat kehadiran Jovan di depan rumah mereka, wajah ibu Farez langsung berbinar.
"Oalah, Jovan! Kok nggak bilang-bilang mau ke sini?" Sang ibu langsung menyenggol lengan Farez dengan cemberut. "Gimana sih? Kok malah nggak dibolehin masuk? Ayo, Jovan. Masuk dulu. Udah makan siang, belum?"
"Belum, Tante."
"Ah! Pas banget! Tante hari ini masak ayam opor banyak. Harus makan, ya. Wajib. Kudu."
Dengan begitu, Jovan pun dipersilakan masuk ke dalam rumah keluarga Farez. Adik tingkatnya itu hanya bisa pasrah dan menuruti. Saat ibunya kembali ke dapur untuk masak dan meninggalkan dua pemuda itu di ruang tamu, Farez menghadap Jovan dengan tatapan dingin.
"Lo ngapain sampe jauh-jauh ke sini, Kak?" tanyanya ketus.
Dia masih marah banget, ya, batin Jovan.
Jauh--benar, perjalanan ke rumah orangtua Farez memang memakan waktu dua jam lebih. Selama ini adik tingkatnya itu tinggal di kostan yang dekat kampus mereka, namun berhubung mereka sedang libur semester, dia memutuskan untuk pulang.
Satu hal yang pasti, Jovan akan bertemu dengan Farez hari itu, tidak peduli sejauh apa jarak yang harus dia tempuh.
"Gue mau minta maaf langsung," ucapnya pasti. "Gue sangat nggak mikirin perasaan kalian sama sekali saat gue ngambil keputusan besar yang menyangkut Masquerade. Lo bener. Gue nggak berhak melakukan itu sepihak ketika Masquerade nggak akan jadi Masquerade tanpa kalian."
Farez masih terdiam, namun Jovan tahu pemuda itu menyimak. Dia pun melanjutkan, "Lo musisi dan gitaris yang sangat sangat bertalenta, Rez. Nemuin lo itu udah kayak nemu emas, tau nggak? Beruntung banget gue. Lo inget kan apa yang adek gue pernah bilang? Permainan gitar lo itu ibaratnya kayak sihir, mampu menyempurnakan sebuah lagu. Lo juga belajar tuh cepet banget. Bener-bener satset. Noel bilang lo mempelajari lagu Kafka di Surya Suara setengah jam sebelum tampil dan interpretasi lo bagus banget.