Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jovan merebahkan diri di atas sofa apartemennya, menatap langit-langit dengan perasaan campur aduk. Sudah tiga hari semenjak Haris memutuskan untuk keluar dari Masquerade dan Jovan tidak tahu harus berbuat apa. Seolah dipicu oleh aksi pemuda tersebut, Farez dan Noel mendadak sibuk. Meskipun keduanya tidak berkeinginan untuk mengundurkan diri seperti pendahulu mereka, tampaknya mereka memang membutuhkan waktu kosong--lepas dari latihan dan juga rekaman. Sebagai ketua band, Jovan juga tidak dapat memaksa mereka sampai batas limit lantas Masquerade akhirnya hiatus untuk sementara.
"Astaga, ini lo masih di sofa sejak dua jam yang lalu?" celetuk Rival yang baru saja tiba di apartemen mereka. Entah bagaimana, saudara kembarnya itu masuk tanpa suara, atau Jovan saja yang kini sudah terlalu jauh dari realita.
"Hm," angguk Jovan. Matanya benar-benar masih terpaku pada langit-langit polos. Semangat hidup seolah dikuras dari tubuhnya.
Terdengar gerasak-gerusuk dari dapur. Kemungkinan besar Rival tengah menyediakan makan malam dari makanan yang dibelinya di luar. Pemuda itu memiliki urusan di kampusnya dan memang sering bolak-balik. Sungguh produktif dan bermanfaat. Jovan bisa paham mengapa ibu mereka selalu lebih menyenangi Rival ketimbang dirinya.
"Masih mikirin Haris, kah?" tanya Rival.
Jovan kembali meringis mendengar nama sosok itu. Yang paling menyakitkan adalah, dia tidak hanya kehilangan seorang anggota band namun juga sahabat karibnya sejak SMA. Tidak dalam seribu tahun dia dapat membayangkan suatu saat Haris akan bergabung dengan band angkuh yang telah menyenggol mereka berulang kali. Apa pula yang lelaki itu pikirkan? Sejujurnya, jika alasan Haris masuk akal, bahwa dia harus fokus kuliah atau bekerja, Jovan akan mengerti. Namun yang satu ini terlalu mirip dengan apa yang namanya pengkhianatan.
"Jangan nyebut nama itu di sini," gerutu Jovan.
"Lo mau nasi ayam atau nasi bebek?" tanya Rival.
"Bebek."
Mencium aroma sedap makanan yang telah tersaji, Jovan spontan bangkit dari sofa ke bar dapur dan duduk di kursi seberang Rival. Tampaknya, saudara kembarnya itu membeli makanan langganan mereka yang terletak di dekat kampusnya. Kampus Rival memang sepuluh kali lipat lebih bagus. Selain fakta bahwa dia masuk universitas negeri bagus sementara Jovan swasta standar, kuliner serta jajanan di sana jauh lebih bervariasi dan menggugah selera. Jika Jovan kuliah di kampus yang sama dengan saudara kembarnya itu, mungkin dia juga akan seaktif Rival perihal kegiatan kampus. Namun sayang sekali, meskipun kembar, cara kerja otak mereka sama sekali tidak identik.
"Lo mau refreshing, nggak?" Rival tiba-tiba bertanya.
Jovan mengerutkan keningnya, menghentikan makan malamnya seketika. "Refreshing?"