Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Udah lama banget Ziva nggak senyum selebar itu."
Haris menoleh cepat ke belakangnya. Hani, adik dari ibunya itu masih mengenakan seragam restoran--seragam kerjanya. Mereka semua benar-benar langsung meninggalkan apa pun itu yang tengah dilakukan untuk ikut hadir di rumah sakit dan merayakan berita baik yang telah lama dinanti-nanti.
Ziva duduk di tepi kasur ibunya bersama kedua adiknya yang lain dan bercerita panjang lebar. Meskipun respon sang ibu sangatlah minim, sekadar remasan ringan pada tangan dan lekukan kecil seulas senyum sudah sangat menggembirakan.
Haris berdiri cukup jauh dari kasur untuk bisa menyaksikan pemandangan menghanyutkan itu dan merasakan setiap detiknya tanpa harus bergabung. Dia yakin tawa yang berkumandang di ruangan tersebut memberikan semacam sensasi damai pada diri sang ibu; sebuah konfirmasi halus bahwa terlepas ketidakhadirannya selama beberapa waktu, anak-anaknya tetap berhasil tumbuh dengan baik.
"Ziva ngambil banyak tanggung jawab yang bahkan nggak perlu dia pusingin akhir-akhir ini," tukas Haris pelan. Matanya terus memperhatikan adik tertuanya itu dengan tatapan sendu. "Dia terlalu dewasa untuk usianya..."
"Mirip sekali dengan kakaknya." Hani kini berdiri di samping keponakannya itu dan tersenyum hangat. Haris menoleh dengan alis bertaut. "Kamu udah jadi tulang punggung keluarga bahkan sebelum ayah kalian itu bercerai dengan Kakak. Dan kamu nggak pernah mempertanyakan peran yang terpaksa kamu ambil. Yang kamu pikirin cuma kesejahteraan hidup ibu kamu dan adik-adik kamu. Apa pun perannya akan kamu ambil tanpa berpikir dua kali untukmereka."
"Kamu anak yang pekerja keras, Haris. Dari dulu sampai sekarang nggak berubah," lanjut sang bibi, kini intonasinya terdengar sedikit sendu. "Kamu jauh lebih muda tapi kamu udah menghidupi lebih dari empat orang. Tante jujur merasa sangat bersalah karena nggak bisa bantu lebih."
Haris menggeleng cepat dan menghadap bibinya dengan raut wajah serius. "Tante nggak diwajibkan untuk ngurus kita, tapi Tante tetep ngelakuin itu. Kalo itu bukan sebuah bantuan yang lebih, aku nggak tau lagi apa namanya. Tante justru berhak menggunakan uang Tante untuk diri Tante sendiri; untuk keluarga Tante nanti. Apa yang Tante lakuin untuk kita itu udah lebih dari cukup."
Mata Hani menjadi sedikit berkaca-kaca setelah mendengar penuturan tersebut. Dia memalingkan pandangannya ke arah tiga keponakannya yang lain dan menarik napas dalam, berusaha menata rapi emosinya. Seulas senyum kini terpatri pada wajahnya.
"Yah... mereka berharga bukan cuma untuk kamu, Har," ucapnya pelan. Haris pun mengikuti arah pandang bibinya tersebut. "Nggak perlu nunggu nanti, kalian adalah keluarga Tante.... Kalian adalah orang-orang yang mau Tante perjuangin sampai kapan pun."