8. The Golden Birthday (3)

1K 122 13
                                        

• ARC TWO •

—— The Golden Birthday ——

• ● | 3 | ● •

Semenjak pesta ulang tahun emas Laura, pendengar Masquerade bertambah cukup banyak dan pekerjaan terus berdatangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Semenjak pesta ulang tahun emas Laura, pendengar Masquerade bertambah cukup banyak dan pekerjaan terus berdatangan. Tidak dalam dua tahun terbentuknya band tersebut mereka pernah sesibuk ini. Selain tampil pun mereka juga harus terus latihan dan sesuai dengan saran Jovan, merekam lagu-lagu baru sesegera mungkin.

Kehadiran Kafka di Masquerade luar biasa membantu, karena selain bermain musik, pemuda itu juga memiliki ilmu untuk producing. Sebelumnya, sebagian besar lagu mereka adalah hasil dari Jovan dan Haris yang saling bereksperimen pada saat rekaman. Namun sekarang, tampaknya mereka bisa memproduksi lagu dengan cara yang setidaknya lebih efisien.

Jovan juga menyarankan agar mereka memasukkan beberapa lagu Kafka ke dalam album mereka yang berikutnya.

"Lagu-lagu gue belum ada liriknya sama sekali," balas bassist mereka tersebut pada salah satu sesi latihan mereka di studio Dryad.

Farez yang berdiri dengan gitar terkalung di bahunya itu mendengus dan tersenyum lebar. "Berarti lo dateng ke tempat yang tepat, Kak. Kak Jovan suka bikin lirik."

"Oh ya?"

"Rata-rata lirik lagu-lagu kita kan yang nulis Kak Jovan," tambah Noel seraya dia memutar-mutar stik drumnya. "Gue pernah kontribusi satu kalimat doang dan kayaknya Kak Jovan masukin cuma karena kasian sama gue."

"Lo nggak serius nulisnya!" ujar Jovan, dan Noel pun terkikik geli. Bahkan lelaki itu sendiri pun tahu seberapa konyol lirik yang dia ajukan. Yang berhasil lolos adalah satu-satunya yang normal.

Kafka menatap sang ketua Masquerade tersebut. "Yang mana yang menurut lo cocok untuk dikasih lirik?"

Seolah sudah menanti-nanti pertanyaan tersebut, Jovan tersenyum. "Banyak. Tapi, kalau 'Blue Fire and Mist' gimana? Gue sempet nyatet beberapa bait yang menurut gue cocok untuk lagu lo itu."

"Lo baru denger sekali, bukan?"

"Iya?"

Mulut Kafka terbuka sedikit seraya dia diam tertegun. Jovan hanya bisa mengerutkan kening terheran. Apakah ada yang aneh dari itu? Baginya menemukan lirik tidak sesulit mencari melodi, namun barangkali Kafka berpendapat sebaliknya.

"'Blue Fire and Mist'? Kayak gimana lagunya?" tanya Farez berantusias.

Kafka melepas bassnya dan menyandarkannya dengan sangat hati-hati pada dinding. Dia lalu mendekati tas hitamnya untuk mengeluarkan laptop dan duduk sila di atas karpet studio.

"Farez, lo kayaknya bakal keren banget mainin solo gitar ini," ujar Kafka setelah mengingat seperti apa komposisi lagunya. Dia tersenyum. "Lebih baik lagi kalo lo juga masukin ciri khas lo."

MASQUERADE [ ✓ ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang