32. Bite The Bullet (2)

677 97 54
                                        

• ARC SIX •

—— Bite The Bullet ——

• ● | 2 | ● •

Kafka tidak pernah ragu perihal masa depan sejak usianya masih 5 tahun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kafka tidak pernah ragu perihal masa depan sejak usianya masih 5 tahun. Dia sudah memiliki segalanya--dukungan, komunitas, keahlian, serta pekerjaan dan pengakuan yang stabil sebagai seorang musisi. Berbeda dengan anak-anak lain yang bahkan belum terlalu memusingkan masa depan mereka, kerangka hidup Kafka sudah dirancang dengan sangat amat rapi dari awal sampai akhir sehingga dia tidak perlu melalui fase tidak tahu harus apa.

Kebimbangan pasti merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Lantas, mengapa Kafka justru melihatnya sebagai keistimewaan?

Gurunya pernah berkata bahwa merasa bimbang itu adalah suatu hal yang wajar dan manusiawi, terutama ketika terjadi pada anak-anak.

Untuk merasa ragu--untuk diperbolehkan merasa ragu, seseorang setidaknya diberi kebebasan untuk memilih. A atau B. C atau D. Kafka menganggap ruang kosong untuk merasa ragu tersebut sebagai suatu tempat yang istimewa; tempat yang membebaskan. Setidaknya, di sana dia diharapkan untuk memilih alih-alih pasrah dengan apa pun jalan yang diharuskan untuknya.

Kafka tetap percaya akan hal itu, namun ketika dia akhirnya diperbolehkan untuk memilih, ternyata merasa ragu juga sangatlah menyiksa. Dia semakin tidak tahu siapa dirinya. Dia semakin tidak mengenali dirinya sendiri.

Selama bertahun-tahun, setiap memulai hari, Kafka merasa dia menjalaninya hanya untuk bertahan hidup; bukan benar-benar hidup. Dia sungguh merindukan masa di mana dia tahu dia harus menjadi apa--menjadi siapa.

Kafka Mahaswara, seorang musisi dan putra dari Astrid Indra Pramita. Seseorang yang dikagumi. Seseorang yang dibanggakan. Seseorang yang dirayakan.

Tetapi di sisi lain, dia sungguh tidak ingin kembali ke waktu tersebut dan melalui semua kegelapan itu untuk yang kedua kalinya.

Apakah pilihan yang tersedia benar-benar hanyalah 'mengetahui dirimu namun terkekang' atau 'bebas namun meragukan dirimu'?

Sebuah Dilema Palsu, Kafka mengira dia hanya bisa memilih satu penderitaan di atas penderitaan lainnya. Namun, semenjak Jovan datang ke hidupnya dan sederet peristiwa terjadi setelah dia bergabung dengan Masquerade, tampaknya terdapat alternatif ketiga.

Sesuatu yang tidak linier. Sesuatu yang abu-abu.

Bahwa kebebasan tidak dapat hadir tanpa adanya kondisi yang mengekang, begitu juga dengan keyakinan tanpa adanya keraguan.

Kemungkinan ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama Kafka dengan yakin menginginkan sesuatu, dan sosok terpenting dalam hidupnya bersedia untuk mengerti. Rasanya luar biasa melegakan, untuk Kafka dan ayahnya sendiri; sampai pemuda itu bertanya-tanya sebesar apa beban tak terucap yang mereka pikul dan sembunyikan selama ini. Mereka sama-sama takut untuk menyakiti satu sama lain, namun ternyata itu jugalah yang menyakiti mereka lebih dalam.

MASQUERADE [ ✓ ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang