Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Apa yang Jovan tidak pertimbangan lebih dalam adalah fakta bahwa gadis yang ditemuinya di kafe--sosok yang menawarkan Masquerade sebuah gig baru, merupakan putri dari seorang pengusaha tajir melintir. Bernama lengkap Laura Marie-Agnès Rahardja, perempuan blasteran yang hendak merayakan ulang tahun ke-20 tahunnya itu berasal dari keluarga Rahardja yang terkenal kaya secara turun temurun.
Bagaimana caranya Laura berakhir di sebuah kafe terpelosok malam itu? Tidak ada yang tahu. Satu hal yang pasti, Masquerade harus mulai berlatih dalam waktu singkat dengan hanya tiga hari untuk memberikan penampilan yang sepadan. Terutama ketika ini adalah Ulang Tahun Emas sang gadis Rahardja; sebuah waktu yang mana angka usia dan tanggal lahir selaras.
Mereka sungguh berharap pesta ini akan berlangsung dengan lancar.
"Anjir, ini rumah apa istana?!" desis Noel sewaktu dihadapkan dengan rumah besar keluarga Rahardja. Diperiksa berkali-kali apakah mereka salah alamat pun tidak akan berguna karena mereka memang sudah tiba di tempat tujuan.
Kenyataannya, apa yang dikatakan Noel sama sekali tidak melebih-lebihkan karena rumah tersebut benar-benar besar, lebih menyerupai hotel ketimbang rumah. Mobil-mobil mewah pun memasuki area pintu. Para petugas berseragam hitam membukakan pintu mobil, mempersilakan orang-orang yang kemungkinan besar tidak pernah menaiki kendaraan umum itu untuk masuk ke dalam, lalu mencarikan tempat parkir untuk mereka.
Sesuai dengan tema pesta Laura, setiap tamu datang memakai sebuah topeng mata. Barangkali nama band mereka merupakan salah satu aspek yang menarik perhatian gadis itu, karena ini adalah pesta topeng, alias masquerade.
Tidak terkecuali, seluruh anggota Masquerade pun juga menggunakan topeng melingkari mata mereka.
"Lo yakin kita nggak dijadiin tumbal di sini, kan, Kak?" bisik Farez.
Jovan menoleh ke arahnya dengan alis bertaut. Mengapa pula dia berpikir seperti itu?
Namun, bagaimana jika iya?
"Dah ah! Jangan ngadi-ngadi lo mikirnya!"
Tak lama kemudian seorang wanita dengan gaun biru tua menghampiri mereka. "Kalian band yang diundang oleh Nona Laura, kan?"
Mata Jovan membulat seketika. Senyum lugas terukir di wajahnya. "Benar."
"Baik. Bisa lewat sini." Wanita itu lalu menuntun keempat pemuda tersebut untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Di aula utama, samar-samar terdengar senandung musik klasik dimainkan dan tawa berduit berkumandang di udara--sebuah tawa yang meliuk dan berkilap. Seolah dilempar balik ke abad 18, suasana dan latar rumah tersebut sangat mendukung adanya revolusi Prancis. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu senantiasa menaruh tekanan pada pundak Masquerade untuk tampil sempurna.