30. What Do You Want? (9)

817 102 32
                                        

• ARC FIVE •

—— What Do You Want? ——

• ● | 9 | ● •

• ● | 9 | ● •

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

...

Feel the rain on your skin
No one else can feel it for you
Only you can let it in
No one else, no one else
Can speak the words on your lips

—Unwritten by Natasha Bedingfield

...

"Menurut lo seru nggak sih buat lagu tentang itu?"

Kafka tiba-tiba saja berceletuk. Dia tengah duduk di atas panggung drum studio Dryad dengan sebuah bass di pangkuannya. Farez dan Noel ditugaskan keluar untuk membeli makan siang. Keduanya akan mengatakan bahwa ini adalah salah satu bukti konkrit penyalahgunaan kedudukan senioritas usia terlepas fakta bahwa Jovan dan Kafka hanya setahun lebih tua dari mereka.

Jovan meletakkan gitarnya dengan sangat hati-hati, menyandar pada stand. Alisnya menekuk saat dia menoleh ke arah bassistnya itu. Senyum miring terukir di wajahnya. "Apa? Tentang chef yang tantruman?"

Kafka terkekeh. Mereka baru saja membicarakan pengalaman Masquerade makan di sebuah restoran Italia. Mereka memutuskan untuk makan siang di sana, tepat setelah menyelesaikan salah satu gig di sebuah kafe tak jauh dari tempat tersebut. Jujur saja, bagi Jovan makanannya biasa saja; masih lebih enak masakannya sendiri. Namun, ada satu adegan unik yang melekat pada memori mereka masing-masing: sang koki.

Asli asal Italia, tampaknya salah satu koki junior di restoran tersebut tidak becus dalam bekerja dan hal tersebut mengundang amarah dari sang kepala koki. Alis tebalnya bertaut tajam, matanya melotot dan urat-urat lehernya mengencang. Koki tersebut menghadap juniornya dengan gestur mengerucutkan kelima jari dan menggerakannya ke atas-bawah sembari berseru: "Che vuoi?!"

"Menurut gue itu gestur dan frasa yang lucu," tukas Kafka, masih tertawa hanya dengan mengingatnya saja. "Kira-kira apa yang buat orang Italia gampang frustasi, ya?"

"Nggak ada yang nahan aja sih. Kalo gue boleh berlagak frustasi setiap detik juga gue akan niscaya lakuin."

"Bedanya apa dengan yang sekarang?"

"Bangke."

"Itu ide yang menarik juga sih," lanjut Jovan, memiringkan kepalanya sedikit untuk membayangkan lagu tersebut. "Tapi, akan sangat lawak dan nggak serius."

"Ah, gimana sih? Katanya pecinta avant-garde," ujar Kafka, tersenyum penuh arti. "Lagu yang funky dan whimsical dengan lirik yang nggak ada maknanya. Gue tau lo suka itu."

MASQUERADE [ ✓ ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang