29. What Do You Want? (8)

674 106 59
                                        

• ARC FIVE •

—— What Do You Want? ——

• ● | 8 | ● •

"Tolong keluar kali ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Tolong keluar kali ini."

Mata Kafka senantiasa terpejam tatkala dia mendengarnya--permohonan yang terkandung di dalam kalimat sang ayah dari balik pintu kamar. Kedua tinjunya terkepal di atas lutut. Sesuatu seolah baru saja menggores hatinya tanpa belas kasih dan pelaku tersebut adalah dirinya sendiri.

Sungguh ironis. Bukankah dulu dia harus sampai memohon untuk dikeluarkan?

Bel pintu rumah tiba-tiba berbunyi, dan kelopak mata Kafka perlahan membuka. Dia beranjak berdiri dari tepi kasur dan menyikap tirai kamar untuk mengintip keluar melalui jendela. Kedua bola matanya membulat sempurna saat dia menangkap sosok familiar berdiri di depan pintu rumah mereka.

Ngapain dia ke sini? Malem-malem juga?

Bunyi derap langkah kaki mulai menjauhi pintu kamar Kafka, dan baru pemuda itu menyadari bahwa ayahnyalah yang akan membukakan pintu. Rasa panik mulai membanjiri sekujur tubuhnya. Tanpa perlu lebih banyak pertimbangan, dia menarik gagang pintu kamarnya dan keluar.

Ketika Kafka tiba di lantai bawah, dengan napas yang sedikit terengah-engah, dia melihat sosok tersebut setelah sekian lama: Jovan. Lelaki itu sudah berhadapan dengan Hendro dan tampaknya sedang membicarakan sesuatu. Sebelum ayahnya menanggapi, Kafka angkat bicara.

Jovan dan Hendro serentak menoleh ke arahnya. Ketika mata Jovan bertemu dengannya, ekspresi wajah pemuda itu terjatuh. Namun alisnya kemudian menekuk serius saat dia berkata: "Boleh ngomong? Sebentar aja. Please."

Apakah ini sudah waktunya? Senja sempat mengatakan bahwa cepat atau lambat, dia harus menghadapi masalahnya. Kafka setuju dengan pernyataan tersebut, karena dia memang berniat bertemu dengan Jovan keesokan harinya. Benar. Esok hari. Bukan malam ini. Dia belum menyiapkan apa-apa.

Hendro memperhatikannya skeptis saat Kafka hendak berjalan keluar rumah. Pria itu menahan lengannya dan mencondongkan tubuhnya untuk berbisik dengan nada menuntut. "Siapa ini?"

Alis Kafka bertaut sedikit. Papa nggak kenal?

Apakah karena Jovan tidak ikut hadir di Surya Suara waktu itu?

"Cuma sebentar." Kafka dapat merasakan Hendro mengendurkan cengkeramannya. Aku nggak akan ke mana-mana, Pa.

Taman halaman rumah adalah jarak yang cukup jauh untuk tidak didengar dan cukup dekat untuk tidak mengkhawatirkan ayahnya. Sebagian besar rumah di perumahan tersebut sudah mematikan lampu mereka. Kondisinya sunyi senyap. Malam itu pun angin tidak berhembus kencang.

Setelah diperhatikan lebih seksama, Jovan tidak banyak berubah; ekspresinya hampir selalu yakin dan tak pernah terganggu oleh apa pun tantangan yang dihadapinya. Bukankah Senja bilang Masquerade akan bubar? Bagaimana Jovan bisa melalui itu semua tanpa gentar?

MASQUERADE [ ✓ ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang