Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
10 years ago 03.08 AM
Kamar tersebut gelap dan satu-satunya cahaya berasal dari lampu luar yang menembus langsung melalui jendela. Hanya ada satu kasur yang berada di dekat jendela, lantas Rival pindah dari ranjangnya ke kasur Jovan untuk mendapatkan cahaya. Besok mereka akan pergi berkemah sebagai salah satu kegiatan sekolah. Kedua anak kembar tersebut mendapati diri mereka tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat.
"Val, kamu pernah penasaran nggak sih siapa di antara kita yang bakal mati duluan?" tanya Jovan, dengan ekspresi wajah yang terlalu antusias untuk sebuah pertanyaan seperti itu. Mereka duduk sila saling berhadapan di atas kasur. Cahaya lembut dari luar membasuh setengah wajah mereka.
Namun hal tersebut nyatanya berhasil membuat Rival merenung. Dia dan Jovan lahir ke bumi di hari yang sama, dan mereka tidak pernah benar-benar terpisah dengan satu sama lain lebih dari beberapa jam; itupun terjadi hanya karena mereka ditempatkan di kelas yang berbeda.
Bagaimana jika... berpisah selamanya?
Rival merinding. Dia tidak mau terlalu memikirkannya.
"Kayaknya aku nggak sih?" ucapnya. "Aku lebih sering sakit daripada kamu."
Jovan memiringkan kepalanya untuk berpikir, kemudian tersenyum. "Masa sih? Tapi menurutku, aku yang bakal pergi duluan."
"Kenapa?"
Kembaran Rival itu beranjak berdiri dari kasur dan mulai melompat-lompat ringan. "Don't you see? Aku nggak suka peraturan! Aku bakal selalu melanggar aturan dan itu berarti aku hidup dengan nekat!"
"Kamu pingin masuk penjara, ya?"
Jovan tertawa mendengarnya, yang kemudian langsung mendapatkan desisan tajam dari Rival karena dia bisa saja membangunkan orangtua mereka. Jovan turun dari kasur dalam satu lompatan tinggi dan mendarat di atas kedua kakinya. Dia menghadap kembarannya sembari berkacak pinggang.
"Nggaklah! Aku bukan kriminal!" sahutnya. Senyum lebar kemudian terukir di wajahnya. "Aku pengambil-risiko! Itu berarti aku akan ambil banyak risiko! Yang paling menantang sekalipun! Kamu liat nggak sih orang yang terjun dari pesawat di TV kemarin--"
Rival menggeleng keras. "Nggak mau!"
"Hah?" Senyum Jovan lenyap dan dahinya mengernyit heran.
Kedua tinju Rival terkepal di atas lututnya. "Aku nggak mau kamu jadi pengambil-risiko! Aku nggak mau kamu ambil tantangan! Aku nggak mau... kamu pergi duluan..."