Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jovan," panggil Rival yang tiba-tiba datang dari belakang. Jovan yang tengah asyik merenung, duduk di sebuah bangku kecil dekat telaga tempat mereka biasa memancing seketika tersentak. Namun sebelum dia dapat memprotes, Rival melanjutkan dengan intonasi cemas, "Ayah kayaknya lagi capek banget deh. Seharusnya kita di rumah aja nggak sih?"
"Kapan sih Ayah nggak keliatan capek," ujar Jovan acuh tak acuh. Tangannya spontan memutar reel pancingan meskipun tidak ada satu ikan pun yang menangkap umpannya. "Setiap libur kan kita biasanya emang mancing."
"Iya sih... Tapi..."
"Lo gampang khawatiran deh. Santai aja."
"Emang kenapa? Bukannya lo yang susah banget peka?"
Jovan menoleh cepat dengan alis bertaut, jelas tersinggung. "Gue? Susah peka? Gue punya intuisi yang cukup baik, ya. Mohon maaf aja."
"Ada progres?" Sebuah suara di belakang kedua remaja berusia 15 tahun itu terdengar. Jovan dan Rival sontak memutar tubuh mereka. Nyatanya sang ayah tengah berjalan mendekati dua putranya setelah meninggalkan mereka sebentar. "Gimana, Jovan? Udah dapet berapa?"
Jovan hanya bisa menghela napas pasrah. "Enol."
"Masih belum dapet juga?" Kenzo menautkan alis terheran saat sudah berada di dekat kedua putranya. "Mungkin posisi kamu kurang cocok, atau kamu yang kurang sabar."
"Ini udah paling ekstra sabar, Yah!"
"Rival nggak ikut mancing?" tanya sang ayah setelah melihat bahwa Rival tidak memegang pancingan sama sekali.
Rival menggeleng sembari tersenyum tipis. "Lagi nggak terlalu mood, Yah."
"Oh, ya?"
"Kata Rival, kita lebih baik di rumah aja," umbar Jovan walau fokusnya tetap pada pancingan yang tidak kunjung membuahkan hasil. "Katanya dia khawatir sama Ayah, soalnya Ayah keliatan capek banget."
"Jov--" desis Rival kesal.
"Rival," ujar Kenzo, serius. Bukan hanya sang pemilik nama, namun Jovan pun kini juga ikut memperhatikan ayah mereka. Pria itu menepuk pundak Rival pelan. "Denger baik-baik. Ini justru istirahat Ayah--menghabiskan waktu bareng kalian. Mau habis kerja tanpa henti pun, Ayah mustahil akan capek kalo bareng kalian. Justru... Ayah sering merasa bersalah karena terlalu sibuk dan jarang punya waktu untuk kalian berdua. Jadi, jangan pernah anggap ini sebuah pengorbanan karena sama sekali bukan."
Seolah baru saja membaca kecemasan terdalam Rival, ayahnya berhasil membuat kembaran Jovan itu lebih rileks. Sepertinya yang membuat Rival tidak tenang bukan hanya perihal kondisi ayah mereka, saudaranya itu merasa bersalah karena dia mengira kegiatan ringan mereka ini tidak terlalu penting. Padahal kenyataannya, ayah mereka sendiri yang memang menginginkan momen kebersamaan tersebut.