Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo seharusnya ngasih tau ke gue dari awal!" seru Jovan pada sosok yang duduk di sofa seberangnya, tidak peduli lagi dengan pelanggan lain yang mungkin menguping percakapan mereka. "Gue seenggak terpercaya itukah sampe lo nyembunyiin ini dari gue?"
"Justru karena gue tau banget sifat lo, Jov, gue nggak mau ngasih tau lo."
"Kalo gue tau kan gue bisa bantu, Har!"
"That's exactly it," lanjut Haris tanpa jeda. Jovan diam tertegun di sofanya. "Lo akan memusatkan seluruh fokus lo untuk bantuin gue, apa pun caranya--karena itu kecenderungan lo meskipun lo nggak perlu ngelakuin itu sama sekali. Lo punya mimpi-mimpi besar di Masquerade, Jov, dan gue nggak akan mau jadi alasan lo nggak bisa berkembang dengan pesat." Senyum tipis senantiasa terlukis di wajah Haris. "Dan bener kan? Semenjak Kafka bergabung dengan kalian, Masquerade terkenal cepet banget. Karena sekarang nggak ada yang nahan lo untuk maju. Apa yang terjadi pada keluarga gue adalah tanggung jawab gue."
Melihat ekspresi bangga Haris namun kemudian teringat akan kondisi Masquerade saat ini menyisakan sensasi pahit di lidah Jovan. Kini telah terungkap bahwa pengunduran kawannya itu tidak berdasarkan keinginan sendiri, bahkan bisa dibilang, Haris masih ingin berkarya di band yang mereka bangun bersama-sama itu; sampai sebuah peristiwa terjadi dan dia terpaksa harus memilih salah satu saja.
Hal tersebut mengingatkan Jovan akan posisinya sekarang.
"Kalo gitu, gue mau minta maaf," Jovan berkata pelan. Sesuatu seolah menghimpit paru-parunya. Dadanya sakit. "Setelah semua pengorbanan lo... gue malah berhenti." Dia mengangkat kepalanya perlahan, menyaksikan wajah bingung Haris secara langsung. "Gue berhenti jadi musisi."
"Apa?!" Bahkan ketika dia sudah berusaha untuk tidak menarik perhatian para pengunjung, suara Haris masih terhitung keras. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lo serius nggak sih? Kenapa?!"
Jovan menarik napas lelah dan bersandar pada sofa. "Lo kan tau orangtua gue nggak pernah setuju gue main musik. Gue tau kok, cepat atau lambat, gue bakal harus ambil keputusan ini. Gue udah memberontak terlalu lama. Mungkin udah saatnya gue tobat dan ikutin kemauan orangtua gue."
"Tapi..."
"Gue nggak nyalahin nyokap gue kok," tukasnya, tersenyum tipis, "dan gue bersyukur dengan semua pengalaman yang gue dapetin dari Masquerade. Meskipun... gue nggak seharusnya memberontak dari awal dan membuat kenangan-kenangan itu kalo ujung-ujungnya gue akan ngecewain Farez dan Noel."
Haris masih terlalu tercengang untuk memberikan reaksi cepat. Saat dia akhirnya berkata, suaranya terdengar parau: "Jadi... Masquerade nggak akan ada lagi?"