Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tumben amat lo dateng duluan," ujar Bang Kir, sang penjaga studio Dryad.
Seperti biasa, pemuda itu hanya mengenakan kaos putih longgar dengan celana pendek selutut seolah studio itu adalah rumahnya sendiri. Ya, tidak sepenuhnya salah. Rumahnya memang terletak tepat di belakang studio.
Noel berdiri di depan meja resepsionis dengan ekspresi wajah tersinggung. Memangnya dia sering terlambat apa?!
"Yaelah kenapa sih? Gue juga rajin tau," semburnya. Namun sebenarnya, alasan utama mengapa dia datang lebih dulu di studio hari itu adalah untuk tiba sebelum Jovan. Dia ingin setidaknya terlihat bahwa dia adalah anggota yang bertanggung jawab dan tidak egois.
"Jovan udah ada di atas," Bang Kir berkata sembari menyalakan televisi di ruang tunggu studio. Matanya masih saja mengantuk meskipun kesehariannya adalah tidur dan tidur dan tidur. "Bisa nggak sih lo semua ngikutin jam standar studio ini? Jangan kepagian, Pe'A. Gue jadi harus bangun pagi mulu."
Jovan sudah di studio? Ah, mengapa dia selalu datang yang pertama?
Noel mengerutkan dahi, jelas kesal dengan sikap Bang Kir, tetapi secepatnya mengingatkan dirinya sendiri untuk bersabar. Orang ini memang selalu menyebalkan, namun keputusan boleh atau tidak bolehnya Masquerade berlatih dan merekam lagu di studio tersebut ada di tangannya.
"Makasih ya, Bang, udah mau bangun pagi. Sangat diapresiasi. Gue ke atas, ya."
"Yaude sono."
Noel berbalik badan menuju tangga dan di sana dia akhirnya merotasikan bola matanya. Ada saja ujian dia di pagi hari itu.
Studio B adalah studio yang biasa digunakan Masquerade, terletak di lantai dua Dryad. Begitu tiba di depan pintunya, Noel menarik napas dalam. Jovan ada di sana, dan dia tidak tahu bagaimana harus memulai. Benar, Calista memang sudah menyarankannya untuk jujur saja pada ketua mereka itu, namun entah mengapa rasanya tetap saja sulit. Bagaimana jika Jovan tetap kesal dan malah mengeluarkannya dari Masquerade?
"Kalo lo mau tampil paling depan, lo jadi solo!"
Mata Noel terpejam. Sesungguhnya, dia tidak akan pernah mau menukar posisinya di Masquerade dengan tawaran menjadi solois. Bermusik dengan seorang sahabat jauh lebih seru ketimbang sendiri.
Dengan tarikan napas dalam, dia membuka matanya dan hendak mendorong gagang pintu ketika sebuah suara terdengar dari belakangnya.
"Ternyata bener. Lo yang dateng habis gue."
Noel memutar tubuhnya ke belakang dan kini Jovan berdiri tepat di depannya. Pemuda itu tidak membawa gitarnya; itu berarti dia sudah masuk ke dalam studio namun keluar lagi.