Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Tolong jangan lupa klik bintang vote dan tinggalkan jejak komentar, ya~
Selamat membaca!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jovan?" Indra permana menatap anaknya yang duduk di seberang meja makan penuh tanda tanya.
Arya mengangguk. "Aku denger saraf jari-jarinya paralyzed. Akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sembuh. Kemungkinan, dia akan absen di festival Goldwing dan berhenti main musik untuk sementara ini."
Indra Permana menarik napas dalam dan menyandar pada kursi rodanya seraya dia mencoba untuk memproses informasi yang baru saja dia dengar. Lebih dari kondisi fisik, dia lebih mengkhawatirkan kondisi batin yang kemungkinan besar Jovan lalui. Membayangkannya bukanlah suatu hal sulit, karena Indra Permana sendiri telah mencicipi bagaimana rasanya mengalami kelumpuhan pada anggota tubuh.
Namun Jovan masih sangat muda, dengan masa depan yang masih sangat panjang. Kejadian ini sudah pasti memukulnya jauh lebih keras ketimbang orang lain.
"Apa kesan pertama kamu saat ngeliat Jovan, Arya?" Indra Permana akhirnya angkat bicara setelah terdiam lama.
Arya mendongak dari piringnya. Dia meletakkan kedua sikunya di atas meja dan berpikir sejenak. "Menurutku dia gigih, tapi kayak ada sesuatu yang nahan dia."
Indra Permana mengangguk setuju. "Ibunya dan dia memiliki dua pandangan yang berbeda. Ibunya pingin dia untuk fokus kuliah, sementara Jovan pingin terus melanjutkan musik."
"Orang tua yang maksa anaknya ke bidang tertentu; mengingatkan aku dengan seseorang," kekeh Arya, yang mana sang ayah menanggapinya dengan tenang. "Tapi Jovan dan Masquerade adalah musisi-musisi muda yang berbakat. Bakal sayang banget kalo orang-orang pada nggak tau mereka. Karena jujur aja, firasatku mereka bakal melakukan banyak hal untuk industri musik."
Benar. Sayang sekali.
Potensi sebesar itu tidak seharusnya dipadamkan begitu saja.
Indra Permana menjadi lebih peka terhadap hal tersebut berkat anak bungsunya. Arya melalui cukup banyak tantangan berat hanya untuk sekadar meyakinkan orang tuanya bahwa pilihannya adalah yang paling tepat untuk hidupnya. Pada mulanya, Indra Permana takut untuk melepaskan anaknya dan membiarkannya berada di dunia yang berbeda dengannya. Namun seiring berjalannya waktu, dia menyadari bahwa percikan putranya tidak menyala di dunia musik. Sebaliknya, Arya bersinar sangat terang saat dia memasak--seolah memang itulah tujuan dia lahir ke dunia ini.
Sebuah panggilan, dan seperti sebutannya, suara itu akan terus memanggil sampai kapan pun.
"Arya, Ayah boleh minta tolong?" ucap Indra Permana saat putra bungsunya itu beranjak dari kursi meja makan untuk mengembalikan piring mereka ke dapur.