26. What Do You Want? (5)

695 103 34
                                        

• PART FIVE •

—— What Do You Want? ——

• ● | 5 | ● •

Jovan menghentikan laju motornya saat tiba di depan sebuah gerbang putih besar yang menjulang tinggi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jovan menghentikan laju motornya saat tiba di depan sebuah gerbang putih besar yang menjulang tinggi. Dari awal memasuki perumahan tersebut saja dia sudah tahu bahwa para penghuninya pasti merupakan orang-orang penting. Areanya mirip sekali dengan rumah keluarga Laura.

Dia turun perlahan dari motor dan melepas helmnya sebelum melangkah ke depan interkom rumah tersebut dan menekan tombolnya. Tak lama kemudian, suara seorang pria terdengar melalui speaker-nya.

"Jovandra Tirtayasa Putra, bukan?" ujarnya sebelum Jovan dapat mengucapkan sepatah kata. "Tolong parkir motornya di dalam aja. Silakan masuk."

Dan dengan begitu saja, gerbang putih tersebut bergeser ke samping secara otomatis tanpa ada seorang pun yang menariknya, menyisakan sedikit ruang bagi motor untuk masuk ke dalam. Jovan tidak menyangka semua akan terjadi secepat itu. Dia bahkan tidak perlu meyakinkan siapa pun yang menyapanya tadi melalui speaker bahwa dia adalah sosok yang menghubungi mereka kemarin. Bagaimana jika dia ternyata penipu? Apa mereka tidak membutuhkan pengamanan yang lebih ketat?

Tak mau membiarkan gerbang tersebut terbuka lebih lama lagi, Jovan pun kembali ke atas motornya dan memasukkan kendaraan tersebut ke dalam rumah seorang Indra Permana.

Benar. Itu adalah rumah idolanya.

Halaman rumah tersebut luas dengan taman dan gazebo yang terbuat dari kayu. Ada pula air mancur kecil dengan sebuah patung penari balet di tengahnya. Dilihat dari betapa berwarna dan segar tanaman-tanaman di sana, sudah pasti ada yang setia merawat mereka dengan baik.

Jovan memarkir motornya di luar namun tak jauh dari bagasi luas yang sekiranya dapat memuat setidaknya empat mobil. Sekilas, dia mendapati dirinya masih kesulitan mempercayai bahwa dia sedang berada di tempat yang sama.

Dia melepas jaket windbreaker-nya dan merapikan kemejanya sebelum menaiki tangga menuju pintu utama. Nyatanya, dia tidak perlu mengetuk sama sekali karena kini seorang pria dengan jas hitam yang sekiranya berusia pertengahan 30 berdiri di ambang pintu, menyambutnya dengan senyum hangat.

"Ada kesulitan dalam perjalanan?" tanyanya santai.

Jovan menggeleng singkat walau sedikit kikuk. "Nggak kok. Semua lancar."

"Baguslah kalau gitu." Pria itu kemudian mengulurkan tangannya ke depan. "Ah ya, nama saya Arya. Saya anak ketiga dari Bapak Indra Permana."

Mata Jovan seketika membulat sempurna. Oh! Dia tentunya pernah dengar bahwa Indra Permana memiliki tiga orang anak--lantas yang satu ini adalah si bungsu. Lagi-lagi, otaknya masih kesulitan memproses situasi yang hadir di depannya.

MASQUERADE [ ✓ ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang