24. What Do You Want? (3)

685 116 31
                                        

• ARC FIVE •

—— What Do You Want? ——

• ● | 3 | ● •

Kehadiran sebuah mobil yang diparkir dan tirai jendela yang terbuka, membiarkan cahaya matahari untuk menembus masuk ke dalam rumah mengindikasikan adanya penghuni

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kehadiran sebuah mobil yang diparkir dan tirai jendela yang terbuka, membiarkan cahaya matahari untuk menembus masuk ke dalam rumah mengindikasikan adanya penghuni. Perumahan tersebut begitu sunyi dan tidak berwarna. Barangkali tidak ada satupun dari tetangga di sana yang memiliki seorang anak kecil. Biasanya bocil akan selalu membuat ramai tempat manapun yang mereka kunjungi. Entah itu tergolong hal baik atau hal buruk adalah persoalan lain.

Senja akui keadaannya masih sama seperti waktu pertama kali dia berkunjung. Sepertinya jika dia tidak memaksa datang saat itu, dia tidak akan tahu Kafka tinggal di perumahan seperti ini.

Berdiri di depan pintu kayu rumah bertingkat dua itu, Senja menekan bel untuk yang kedua kalinya, berharap bawa kali ini seseorang akan membukakan pintu. Setelah menunggu sekitar semenit, sebias suara akhirnya terdengar dari balik papan kayu tersebut. Senja merapikan penampilannya sekilas sebelum pintu di depannya itu terbuka.

Sosok yang menyambutnya adalah seorang pria jangkung dengan garis mata yang menyerupai kawan sefakultasnya itu. Dia menautkan alisnya. "Ya?"

"Selamat siang, Om!" sapa Senja riang. "Saya Senjana, temen Kafka dari kampus. Pernah ke sini juga! Om inget nggak? Saya mau ambil dan sekalian balikin beberapa buku yang Kafka pinjem dari perpustakaan. Seinget saya ini udah lewat tanggal tunggaknya, jadi kalau nggak mau didenda, sebaiknya balikin sekarang. Kafka-nya ada nggak, Om?"

Pria itu tampak bingung untuk sesaat, hingga akhirnya bola matanya membulat. "Ah. Kamu... yang pernah ke sini, ya? Senja namanya?"

Senja mengangguk cepat. "Bener, Om."

Namun meskipun sudah mendapatkan konfirmasi bahwa ayah Kafka itu mengenalnya, dia masih ragu untuk membiarkan Senja masuk--atau bahkan setidaknya, menjawab pertanyaan awal pemuda itu mengenai keberadaan putranya.

Senja menunggu untuk waktu yang terasa berabad-abad lamanya. Entah mengapa, dia merasa sangat sungkan untuk bertanya lebih lanjut. Ayah Kafka bukan seperti orang yang mudah dibohongi dan diajak negosiasi. Jika kunjungannya hari ini tidak membuahkan hasil apa-apa, dia tidak akan terkejut.

"Silakan masuk dulu."

Di luar dugaan Senja, pria itu membuka pintu rumahnya semakin lebar untuk membiarkannya masuk. Tidak mau berlama-lama di luar dan melewatkan kesempatan emas ini, Senja pun tersenyum sopan dan menginjakkan kakinya ke dalam rumah.

Begitu dia sudah berada di dalam, ingatannya seolah kembali terbuka karena ternyata dia masih merasa familiar dengan ruang tamu rumah tersebut. Sofanya yang berwarna krem; mejanya yang pendek; sebuah televisi besar menempel pada dinding; berserta laci-laci kayu dengan sebuah piring keramik di atasnya untuk menyimpan kunci dan pernak-pernik.

MASQUERADE [ ✓ ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang