Pengunduran diri bassist band indie Masquerade enam bulan sebelum penampilan mereka di festival musik Goldwing membuat Jovan, sang ketua, kehilangan arah dan semangat untuk maju. Terutama ketika dia bukan hanya kehilangan seorang anggota, melainkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah yakin Rival tidak cukup penasaran dan curiga untuk mengikutinya, Kafka memperlambat langkahnya dan bertumpu pada dinding. Dia mencoba mengatur napasnya. Kepalanya berdenyut-denyut seolah akan segera meletuskan lava panas. Rival tadi bertanya apakah dia sakit. Barangkali dia memang benar-benar sedang tidak enak badan, karena kini seluruh tubuhnya terasa meriang--semua sejak dia menerima telepon paling tidak terduga-duga beberapa menit yang lalu.
Padahal belum juga bertemu muka dengan orangnya. Mendengar suaranya pun tidak. Hanya dengan menyebutkan namanya saja Kafka seolah diseret kembali ke waktu yang paling ingin dia lupakan. Apa yang terjadi apabila dia harus berhadapan langsung lagi, seperti dulu?
Lalu... apakah selama ini dia masih juga memikirkannya?
Kafka bersandar pada dinding dan memejamkan mata untuk menstabilkan kecepatan detak jantungnya. Tangannya masih sedikit gemetar saat dia mengangkat ponselnya. Pada layar tersebut, jam menujukkan pukul 10 pagi. Kelas selanjutnya akan diadakan empat jam dari sekarang. Masih sangat lama.
Jika dia pergi ke sana sekarang, dia masih sempat untuk kembali ke kampus dan mengikuti kelas. Toh, tidak mungkin akan berlangsung lama, bukan? Kafka hanya perlu memeriksa kondisi. Dia bahkan tidak perlu bertatap muka apabila tidak ingin.
Benar. Ini seharusnya mudah.
Lelaki itu menarik napas dalam untuk memperteguh niatnya. Sebelum dia dapat berubah pikiran lagi, dia pun bergegas menuruni tangga dan meninggalkan kampus.
# # #
"Astrid Indira Pramita?" tanya seorang perawat wanita yang berdiri di belakang meja resepsionis.
Kafka mengangguk pelan. Kedua tangan tenggelam di dalam saku jaketnya. "Saya anaknya."
Seketika mata sang perawat membuka membentuk lingkaran sempurna. "Ah, berarti Anda-lah yang saya telepon tadi pagi. Bisa tolong lihat KTP-nya?" Kafka menyerahkan kartu identitasnya dan perawat tersebut memeriksanya sebelum mengetik sesuatu di komputer. Setelah menyelesaikan semua prosedur, dia pun kembali menghadap Kafka dan tersenyum tipis. "Maaf minta Mas untuk datang secara mendadak. Saya kira mungkin kedatangan Mas bisa membantu Ibu lebih tenang."
Lebih... tenang...?
Yang ada justru Kafka-lah yang tidak tenang. Setiap bagian dari tubuhnya terasa lemas. Sesungguhnya, dia benar-benar ingin keluar dari tempat itu sekarang juga. Namun, terdapat secuil bagian dari dirinya yang sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya, terutama setelah mendengar laporan dari sang perawat di telepon tadi pagi.
Setelah tasnya diperiksa, Kafka akhirnya diperbolehkan berkunjung. Sembari dituntun menyusuri koridor menuju ruang kunjungan, dia bertanya, "Ibu saya... apa beliau baik-baik aja?"