✨17✨

302 36 5
                                    

Selamat membaca

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Taufan dan Thorn duduk bersebelahan di kursi tunggu yang disediakan di IGD. Mama masih menangis atas kepergian papa di dalam IGD. Suasana di ruang tunggu IGD sangat hening. Wajar saja, Taufan dan Thorn baru bertemu kembali setelah 3 tahun lamanya membuat mereka merasa canggung satu sama lain.

Taufan memilih angkat suara untuk memecahkan keheningan. "Papa kenapa meninggal?"

Thorn menceritakan semua yang terjadi dengan Papa hingga beliau dinyatakan meninggal kepada Taufan.

"Jadi papa meninggal karena penyakit jantungnya?"

Thorn mengangguk.

Setelah itu, Taufan dan Thorn kembali terdiam sejenak sebelum akhirnya Thorn mulai bertanya kepada Taufan.

"Kenapa baru pulang sekarang? Kemana aja selama 3 tahun?"

Taufan hanya terdiam. Ia bingung ingin menjawab apa.

"Kakak marah dengan papa dan mama karena mereka gak mempercayai sama kakak, bukan?"

"Itu juga salah satu alasannya. Selain itu, kakak juga takut banget kalo kamu gak mempercayai kakak dan malah membenci kakak, sama kayak papa dan mama."

"Jadi kakak mengira kalo Thorn percaya dengan berita dan juga omongan murid-murid tentang kakak di sekolah?"

Taufan mengangguk.

Thorn menghela nafas pelan sebelum ia berkata, "Thorn gak benci sama kakak kok karena Thorn tahu kakak gak mungkin melakukan hal itu karena Kakak itu orang yang baik dan selalu peduli dengan orang lain. Thorn juga tahu kakak sering berkelahi di sekolah demi nolongin murid - murid yang menjadi korban bully."

Taufan terharu mendengar perkataan Thorn. Thorn adalah satu-satunya orang yang sangat memahami dirinya, lebih daripada siapapun. Taufan merasa sangat beruntung memiliki adik seperti Thorn. Taufan langsung memeluk Thorn lalu menelungkupkan kepalanya di bahu Thorn, lalu menangis untuk meluapkan semua emosi dan perasaan yang telah dipendam selama 3 tahun. Thorn dapat mendengar tangisan pilu tersebut, ia mengeratkan pelukannya sembari mengelus punggung Taufan dengan lembut.

Setelah Taufan merasa agak tenang, Taufan mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya 3 tahun yang lalu. Thorn senantiasa mendengar semua cerita dari kakaknya. Thorn terkejut setelah mengetahui cerita tersebut.

"Kakak serius? Kak Zella pelakunya?"

"Iya, kakak serius kok. Awalnya kakak juga gak percaya kalo Zella bisa ngelakuin hal sejahat itu."

"Kok bisa iya Kak Zella ngelakuin hal itu? Padahal kak Sunny itu sahabatnya sendiri."

"Makanya, kakak pun juga heran."

"Thorn jadi kasian sama Kakak Sunny."

"Kakak juga."

"Oh iya, gimana kabar kamu selama 3 tahun kakak gak ada?"

"Kabar Thorn baik kok."

"Mereka masih suka bicarain kakak di sekolah itu?"

Thorn mengangguk.

My Savior Brother ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang