Jagawana House

531 24 0
                                        

Sudah hampir terlewati satu bulan setengah, sena berangsur memilih ikhlas tapi masih belum bisa sepenuhnya. Ia juga menolak ajakan paman dan bibinya untuk diadopsi.

Sebab menurutnya is sudah dewasa dan sudah bisa menjalani hidupnya sendiri, jadi dari pada ia nanti banyak merepotkan paman dan bibinya lebih baik ia menolaknya.

Dan meminta izin untuk pindah dari rumah keluarga besar Pangestu ke rumah milik mendiang ibu nya. Setelah berkemas dan paking sana sini, kini Sena sudah berada di depan pelataran rumah bergaya Belanda classical era kolonial itu.

Dihadapan nya ada sang bibi dan kedua paman nya. Mereka akhirnya menyetujui keputusan Sena untuk pindah ke rumah milik mendiang sang kakak iren.

"Sen, nanti disana mas Sena sering-sering kabarin bibi atau paman-paman mu ya ndok. Biar kita gak khawatir toh"

"Iya kabarin loh, walau om sultan dan om Jeff gak di Jogja tetap kabari Yo mas" ucap sultan

"Denger ya sen paman Jeff selalu ada buat mas Sena, begitu juga paman sultan dan bi Sri oke bro" lanjut Jeffry

Sena hanya tersenyum kini ia hanya memiliki paman dan bibi di hidup nya, tapi mereka tetap di pisahkan oleh benua. Sebab ke dua pamannya berada di luar negri dan luar kota. Sultan pindah sejak menikah ke Surabaya, Jeffry memilih menetap selama beberapa tahun di Aussie karena pendidikan anak-anak nya dan pekerjaan nya. Meski Sri bibi nya tetap menetap di Jogja wilayah mereka berbeda.

"Iya paman, bibi. Sena bakal terus kasih kabar kok, tenang aja Sena berharap paman dan bibi sehat terus ya, sekarang cuma kalian keluarga Sena heheh" ungkap pemuda itu, ke tiga orang dewasa itu sangat tersentuh dan berakhir memeluk sang ponakan.

Setelah pamit dan mengucapkan perpisahan Sena pergi dengan mengendarai mobil putih nya, menuju rumah yang akan ia tempati mulai saat ini hingga waktu yang tidak ditentukan.

Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam setengah, akhirnya Sena sampai di rumah milik mendiang sang bunda, Sena turun dari mobilnya setelah berhenti di depan pagar kawat. Disana ia dapati seorang pria paruh baya, yang sedang menyapu halaman rumput yang terbentang agak lumayan luas.

Sena sedikit berteriak karena posisinya yang agak jauh.

"Permisi, pak boleh tanya?"

Pria yang mendengar teriak an Sena segera berlari menuju pagar pekarangan.

"Iya den ada yang bisa dibantu?"

"Ini bener kan pak Alamat rumah ini?" Tanya Sena sambil menunjuk kertas bertuliskan alamat rumah milik mendiang sang ibu.

"Ouh bener den, kalau bapak boleh tau Aden siapa ya?"

"Saya Sena pak, anak nya mendiang ibu iren cucunya ibu Rosa."

"Oooo, ladalah. Tuan kecil cah bagus, aduh mamang lupa den, ya Allah udah gede ajaaa sampe gak ngenalin memang den "

"Loh nama mamang siapa?Sena juga agak lupa mang ?"

"Wes wes wes. Ini loh den mang cahyono, inget yang dulu pernah Aden ajak nyolong mangga nya tuan besar yang di tanam di belakang sana itu loh den. Dah inget den?"

" Oalah mang yonooo, Sena inget astaga mang. Maaf ya mang Sena udah agak lupa hehe"

"Loh Ndak papa namanya sudah lama, sek sek masuk den ayok"

"Oke mang, ini Sena masukin mobil dimana mang hehe"

"Belakang aja mas kalau didepan kejauhan mas"

"Oke mang"

Setelah bertukar salam dengan mang Yono, Sena mengemudi mobil nya masuk pekarangan rumah itu, luas adalah kesan pertama yang Sena tangkap. Sejauh ini Sena sangat rindu dengan ibu dan oma nya, suasana rumah ini sangat mencerminkan sang ibunda.

Pekarangan yang luas, pohon dimana mana dan dapat Sena lihat rumah bergaya Belanda classical era kolonial. Terpampang kokoh dan apik, Sena keluar dari mobil nya setelah memarkirkan nya dengan benar.

Mang Yono mendekat untuk membantu Sena mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil nya.

"Sena agak lupa mang sama rumah ini, tapi setelah ngeliat langsung beberapa ingatan samar soal kenangan Sena sama ibu mulai nusuk pala Sena. Dulu Saya sering kesini ya mang?" Tanya Sena pada Yono

"Hmm, lumayan den kalau ibu iren sama pak Bayu liburan dari Jakarta ke Jogja pasti kesini setelah berkunjung ke rumah utama"

"Hmmm gitu ya mang, hahah saya sudah agak lupa. Okeee mang saya lagi gak mau sedih heheh, langsung masuk aja mang gapapa kan?" Tanya Sena

"Mbok ya gpp toh mas, sek saya buka dulu kuncinya" bakas Yono

Setelah memasuki pintu utama Sena dapati ruang tamu yang luas dan banyak ukiran di dinding kayu tersebut, sigura-pigura yang terpajang di dinding kayu juga menjadi pelengkap untuk menambah ke estetika an suasan di sana.

Sepanjang mata berpencar semakin banyak ingatan yang masuk ke kepala Sena. Ia sedih tapi tak mampu mengeluarkan air matanya.

"Den barang udah saya taro semua di kamar utama ya den, ini kunci utama rumah terus ini kunci pintu belakang, gembok gerbang Aden pegang aja soalnya mamang udah ada satu kunci cadangan. Ini semua kunci kamar yang ada di rumah Jagawana ya mas"

"Terima kasih ya mang, udah setia ngurus rumah peninggalan ibu. Sena sangat berterima kasih sekali"

"Aduh den jangan gitu den, mamang yang harus nya berterima kasih masih mau mempekerjakan mamang yang sudah tua ini"

"Aduh mang kok jd melow ya hahah, ya udh mang berarti ini semua total ada 9 kunci ruangan ya mang, termasuk gudang. Berarti 7 kamar 1 ruang pendopo, sama 1 gudang ya mang bener?" Tanya Sena

"Betul den. Ouh den mamang tinggal ya kebetulan mamang ini jam kerjanya memang dari pagi sampai jam 4 sore aja den. Gpp mamang tinggal kan den? Kalau ada apa apa kabarin aja den pake telpon rumah pencet nomer 3 nanti kesambung sama telpon nya Marni ya den istri mamang" ucap mang Yono memberitahukan sang majikan muda

"Oke siap mang gampang itu mah, sekali lagi makasih ya mang" jawab Sena

"Yowes mamang ijin pulang ya den"

"Eh eh bentar mang, ini dikit dari saya buat kupi ya mang hehe"

"Aduh den gak usah"

"Husst udah mang ambil aja itung-itung buat tenaga mamang angkat koper Segede gaban saya mang hahaha" ungkap Sena

"Ya sudah makasih sekali lagi den mamang pulang ya den"

"Iya mang hati-hati"

Setelah kepergian mang Yono Sena mengunci pintu utama dan melangkah menaiki anak tangga menuju lantai 2 rumah Jagawana.






































Halo semua, aku mau coba nulis lagi kali ini tentang sena aka jaemin dengan anak dream lainnya. Genre kali ini lebih ke persahabatan dan keluarga.

Aku pakai visual mereka karena menurut ku cocok aja, untuk ngebangun jalan cerita nya dan karakteristik tokoh-tokoh di cerita aku, tapi sekali lagi kalau kalian keberatan dengan visualisasi tokohnya kalian bisa ganti dengan visualisasi lain.

Sekian terima kasih
7 Juni 24

Enjoy jgn lupa vote

POLARISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang