Jika tuhan memberikan kebahagiaan sebuah takdir pada hambanya, mungkin salah satunya itu elo, terima kasih ya sudah menghadirkan payung di atas kepala yang putus asa ini, dan terima kasih untuk memberikan pelangi pada langit yang kelam ini.
-R
Selepas semua hal yang terjadi, Rafi kini masih melamun berbaring menghadap langit-langit kamarnya.
Ia sudah tidak tau lagi harus melakukan apa, ia sangat kebingungan sebab fakta yang baru saja dirinya ketahui. Ternyata selama ini ia adalah anak kandung dari tuan Kusuma, dan anehnya pria itu baru tau jika dirinya adalah anak kandungnya, darah dagingnya.
Tapi terlepas dari fakta itu, ada satu fakta lagi yang harus Rafi terima dan mungkin harus ia berikan kata terima kasih. Benar itu adalah pertolongan dari si bapak kost nya, siapa lagi kalau bukan Sena.
Pemuda itu adalah manusia paling berhati lembut yang pernah Rafi temui, atau mungkin manusia dengan segala keajaiban nya. Rafi merasa kali ini tuhan telah menjawab semua doa-doa nya, Sena pemuda itu bagai jawaban akan segala putus asa nya Rafi.
Rafi yang awalnya hanya seorang pemuda gagal dan selalu tak beruntung akan hidup nya, dipertemukan oleh Sena dan ke 5 orang lainnya yang memiliki tingkah absurd, berisik, drama 24/7 dan segala keanehan lainnya.
Jika Rafi bertemu Sena lebih awal, apakah ia akan bebas dari sangkarnya lebih awal juga? Tidak-tidak boleh seperti itu. Ingat Rafi, jika kamu mulai bergantung itu juga gak baik buat Sena dan diri sendiri raf.
Satu hal yang Rafi tau, Sena adalah salah satu manusia paling gila yang Rafi temui, masalah yang hampir 4 tahun ia atasi dan pendam sendiri an bisa selesai hanya dalam waktu 3 hari, gila hanya itu yang mendeskripsikan seorang Jagawana Nawasena.
Rafi bersyukur karena bisa hidup, tinggal dan mengenal Sena beserta para penghuni Jagawana House, mereka yang menerima Rafi dengan tangan terbuka, menerima Rafi dengan senyum di wajah mereka, dan mereka yang melihat Rafi apa adanya tanpa meminta imbalan. Bunda sepertinya Rafi sudah bisa belajar memulai untuk berjalan di atas kaki Rafi sendiri, karena Rafi tau bunda. Sekarang Rafi harus pulang kemana.
Rafi sudah menemukan keluarga yang menginginkan Rafi tanpa perlu Rafi beri imbalan, bunda mereka menerima Rafi dengan tulus.
~~~~~~~~~~~~~•••••~~~~~~~~~~~~~~
Setelah permasalahan yang ada sudah Ter atasi baik Sena dan para penghuni sudah mulai terlihat kembali ke setelan awal, iya malam ini Sena sudah mulai kembali pada rutinitas nya lagi, masak di bantu Rafi dan chakra, Janu dan Hida bagian nata meja makan, jaya di suruh diem aja sama abang-abang nya trauma mereka tuh sama si bungsu udah ada kali kalau dihitung mah, 5 piring jadi butiran debu, dah mana piring nya ada yang piring kesayangan Sena hadeuhhh.
Madha dimana? kalau kalian bertanya, madha baru balik abis ngurus masalah tadi pagi, karena kasusnya yang tidak ringan madha harus kerja ekstra.
Dan disini lah madha, dengan handuk yang tersampir di pundak, rambut yang setengah kering, kaos dan celana pendek menjadi pelengkap pemuda tertua itu.
"Wih wangi bener ini masakan Roman nya, masak apa sen?" Tanya madha.
"Diem yang tua gak di ajak" itu chakra yang menjawab
"Heh"
"Hehehe" yang di sauti hanya cengengesan
"Pisss becanda bang dha" ungkap chakra
"Udh udh, pada duduk dah udh rebes nih" ucap Hida.
"Asik" ucap madha dan jaya berbarengan
"Idih, macem bocah aja ini dua keladi" ucap Rafi.
"Jan, tolong ini bantu hidang in ke meja makan" ungkap Sena meminta tolong pada Janu.
"Wokee"
Usai makan dan bercengkrama sebentar di ruang TV, kini ke 7 pemuda beda umur itu sedang bergelut pada kegiatan masing-masing.
Janu yang lagi nyusun laporan proyek, Hida yang lagi ngecek jadwal meeting besok dan buat ppt untuk meeting nya. Chakra lagi main game di kamar nya, jaya si bungsu itu lagi ngerjain tugas sambil dengerin lagu di earphone nya.
Madha pria itu butuh istirahat. Jadi setelah mengecek hp nya ia memilih tidur, fisik dan batin nya butuh istirahat karena kerja ekstra akibat mengurus kasus si mesum tua Bangka itu. Ah mengingat nya lagi bikin pala muter 7 keliling, sudah madha mau bobo gengs.
Rafi pemuda itu tengah duduk memandang keluar jendela, ia masih tidak percaya bahwa semua beban di pundak nya telah terangkat semua, kini yang ada dibenaknya hanya perasaan lega bercampur haru.
Lama ia melamun akhirnya pemuda itu memilih untuk keluar kamar dan beranjak ke lantai dua, tepat nya ia menghampiri kamar Sena. Diketuk nya pintu itu, sampai terdengar suara langkah kaki dari dalam menuju pintu.
"Eh raf kenapa?" Tanya Sena.
"Boleh bicara sebentar gak?" Tanya Rafi, Sena menatap pemuda itu, ya bisa sih pikir Sena.
"Boleh di rooftop aja raf, sorry kamar gue lagi berantakan banget heheh" ucap Sena.
"Ohh, ya udh"
Kini ke dua nya sedang duduk di sofa rooftop Jagawana House.
"Mau ngomong apa raf?" Tanya Sena memecah keheningan.
"Terima kasih banyak, tidak ada kata yang bisa gue ungkap selain terima kasih dan maaf. Maaf karena udah nyeret lu ke masalah strangers kaya gue sen"
Rafi merasa rendah diri tiba-tiba, pasal nya dia sudah bersikap tidak tau diri pada Sena. Ia juga hanya seorang pemuda yang baru di kenal sena selama beberapa bulan saja, tidak memiliki hubungan apa apa juga dengan Sena.
Sena mengerti kenapa Rafi seperti itu, tapi Sena tidak suka sikap merendahkan diri sendiri yang Rafi lakukan pada dirinya.
"Gue gak suka sama orang yang ngerendahin diri sendiri, raf gue cuma manusia yang menjalankan rasa tanggung jawab gue ke manusia lainnya. Dan asal lu tau raf, buat gue kalian itu udh bukan strangers lagi"
Sena menatap Rafi, begitu juga Rafi. Senyum kecil terbit dari Sena.
"Udah lah udh berlalu juga, gak usah dipikir in. Skrng lu pikirin aja kedepannya lu mau gmn raf"
"Iyaaa, thanks ya sen. Dan ajarin gue buat menjadi manusia yang punya rasa memiliki"
"Hahahaha, kalau itu belajar sendiri raf, lagian aneh aja. Dah ah gue gk mood sad sad nih. Masuk deh yuk udh malam juga takut si gadis juga kepo dia hahahah"
"SEN, ANJIR bisa gak jgn bahas gadis"
"Hahahahah" Sena tertawa sambil beranjak masuk ke dalam.
"Senaaaa setan ya nih bapak kost, tunggu in gua ye brengsek"
Hanya ada suara tawa yang menguasai malam itu, bagi Rafi kini ia telah menemukan apa yang telah hilang darinya selama 24 tahun hidupnya, dan ia telah menetap kan hatinya. Kemana pun ia pergi jauh akan selalu ada rumah tempat ia pulang, yaitu teman-teman tak sedarah nya.
Hai aku draf lagi, kayak nya gak bisa sering-sering ya aku up, soalnya udah di penghujung semester. Januari aku sempro doa kan selalu ya teman-teman online ku, buat yang sekolah semoga di lancar kan ya. Yang kerja juga dan buat yang kuliah semoga kalian juga selalu dilancarkan.
Semoga suka sama cerita ku kalau ada kritik aku open bngt, tapi tolong dengan bahasa yang baik ya.
Seperti biasa jgn lupa ⭐dan tandain ya kalau ada typo.
Babay sampai ketemu di chapter selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
POLARIS
Fiksi PenggemarKisah tentang sena dan teman-temannya. Luka nya, sakitnya, bahagia nya, tawa nya, marah, khawatir dan kecewa. kalian akan dibawa ke dalam banyak nya Lika liku kisah para pemuda ini. "Gue beruntung ketemu bapak kost kaya lo Na" -janu "Sebagai penghu...
