-Ruas nya-
Awalnya aku pikir hidup ku selalu menapak di tanah penuh beton, seimbang dan cukup kokoh tapi aku salah ternyata, selama ini aku hanya sedang berjuang tetap berdiri pada perahu yang bergerak sesuai angin dan ombak. Tanpa kompas maupun peta.
Di malam itu Sena tengah duduk dengan mengangkat kakinya ketas sofa tempat nya duduk, Sena termangu tidak tau harus bagaimana setelah tadi Janu menangis selayaknya anak kecil yang kehilangan permen ditangan nya atau remaja yang kehilangan Tamia nya.
Pemuda 24 tahun itu benar-benar menceritakan segala hal yang terjadi di dalam hidup nya. Sena harus apa? Coba katakan, Sena memang akan menolong dan itu yg ia janjikan tapi, Sena harus apa bunda.
Monolog dengan diri sendiri adalah salah satu yang selalu Sena lakukan dalam proses hidup nya akhir-akhir ini, bertanya pada dirinya lalu menjawab pertanyaan tersebut dengan otak dan nuraninya.
Seakan fase menuju dewasa memang lumrah dengan kegiatan bermonolog dengan diri sendiri. Sampai lamunannya di buyar kan dengan kedatangan satu orang lagi yang menjadi house mate nya aka anak kost nya.
Bahu Sena di tepuk ringan, sisi sofa di samping Sena terisi oleh sosok itu, ia duduk dengan posisi bersila di atas sofa.
"Gue sama anak-anak lain denger semua nya" ucap nya.
Sena hanya melirik dan mengangguk singkat.
"Berat ya, gue pikir hidup gue doang yang pelik ternyata gue cuma baru sadar aja. Semua yang bernafas terluka dengan cara dan tempat yang berbeda" ungkap nya.
Sena masih diam, tenaga nya cukup banyak terkuras habis karena menenangkan emosional Janu yang sudah pada batas nya.
Kesunyian menghampiri ke dua nya, yang satu berkutat dengan jari jemari yang di main kan sambil banyak rasa yg tak bisa di ungkapkan. Sedang yang satu terdiam menatap pada bayangan nya sendiri yang terpantul pada TV yang mati.
"Raf, gue punya tanggung jawab yang menurut gue itu harus gue sendiri yang turun. Gue harus bilang kalau ini adalah sebaik-baik apa yang lakuin" Rafi menoleh pada wajah Sena yang masih terfokus pada entah apa yang sedang ia lihat.
Rafi pikir Sena terlalu banyak menahan segala hal tetap di tangan nya, Rafi masih berpikir bahwa Sena terlalu banyak turut ikut dalam hidup orang lain.
Tapi Rafi tidak tau yang sebenarnya dipikirkan oleh salah satu manusia ini, tindakan nya dan ucapannya kerap kali tak bisa di prediksi.
Rafi terkadang cukup takut dengan segala jenis pikiran-pikiran yang ada di otak pemuda seumuran nya ini, entah apa yang akan dia lakukan. Rafi tidak bisa protes maupun membenci tindakan teman nya ini, benar bagi Rafi Sena bukan hanya teman yang sapa dan pergi bagi Rafi yang sudah ditolak berkali-kali bahkan oleh keluarganya sendiri, Sena adalah salah satu dari 7 keajaiban dunia di hidup nya.
Rafi hanya bisa berdoa untuk setiap langkah yang di ambil pemuda ini agar, tak ada kata meleset dan tak ada kata gagal dalam proses nya membuka jalan untuk orang-orang yang dipaksa terpasung oleh hidup yang menyakitkan.
Bagi orang-orang yang bernasib seperti nya Rafi tau Sena bagaikan sebuah kacang di sepiring ketoprak, lucu bukan tapi itu perumpamaan yang pas karena jika hanya ada sayuran, lontong dan tahu maka tak ada yang mau melirik ketoprak itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
POLARIS
FanfictionKisah tentang sena dan teman-temannya. Luka nya, sakitnya, bahagia nya, tawa nya, marah, khawatir dan kecewa. kalian akan dibawa ke dalam banyak nya Lika liku kisah para pemuda ini. "Gue beruntung ketemu bapak kost kaya lo Na" -janu "Sebagai penghu...
