Hallo maaf gak update update aku beneran sibuk bngt, huhuhu udahlah curhat nya nanti aja cus ke cerita nyaaa sena and the geng.
Saat Sena duduk di bangku yang tersedia di rooftop Janu datang dengan baju yg bersih dan hidung yang masih sedikit merah. Ia berjalan dan mendudukkan diri nya di depan Sena, keduanya di batasi dengan meja bundar yang ada di sana.
Janu hanya diam, begitupun dengan Sena. Bapak kost nya itu masih bungkam hanya memandang hamparan taman rumput Yang ada di depan rumah nya, hampir 5 menit ke duanya saling diam tanpa kata.
"Gue gak mau maksa buat lu cerita, apalagi gue gak ada hak buat kepo dan ikut campur masalah pribadi anak-anak kost gue"
Ucap Sena membuka keheningan di antara ke duanya, Jani masih diam mendengar kan.
"Tapi dari apa yang gue liat ini udah keterlaluan, kemarin selama 2 Minggu full lu gak balik ke kost. Terus pas kmrn gue balik lu kayak orang linglung dan ketakutan, alibi nyari berkas yang aneh menurut gue"
"Gue cuma butuh lu jujur, andaikata lu gak mau jujur dan mau nyimpen semuanya sendiri an jangan libatkan gue ataupun anak-anak kost lain termasuk Hida." Ucapan itu membuat Janu agak gentar, dia terpojok marah rasanya Sena bicara seperti itu tapi, ada benarnya ia tak semestinya menyeret apa yang ada di luar lingkaran masalah pribadi nya.
Janu masih bungkam, Sena masih diam setelah berbicara seperti itu pada Janu. 10 menit dia menunggu Janu masih bungkam tanpa jawaban ataupun penjelasan tentang pertanyaan Sena padanya.
Muak itu yang Sena rasakan, memang benar itu masalah Janu tapi Sena cukup realistis ia tidak mau masalah yang di alami penghuni kost nya malah berdampak pada nya dan kehidupan nya. Siapa sih yang mau terseret dalam masalah orang lain yang bahkan orang itu baru kenal selama 5-8 bulan saja, tidak ada.
Mungkin Statement ini banyak menimbulkan kontra, selayaknya tidak punya rasa kemanusiaan atas masalah orang lain tapi, Sena tekankan lagi. Apapun yang datang tanpa ada kata meminta tolong berarti orang itu memang tidak perlu pertolongan, bagi Sena tidak semua manusia itu perlu kita tolong kalau bukan orang nya sendiri yang meminta, Sena pasti menolong tanpa di suruh tapi dia tetap tau batasan hal yg perlu dan tidak dalam bertindak.
Jangan jadi pahlawan jika tidak diminta, lucu memang tapi Sena bukan super Hiro kan? Menolong hidup nya agar tetap utuh saja Sena hampir gila apalagi menolong orang lain yang bahkan tidak minta di tolong. Sena selalu memberikan pilihan untuk orang seperti mereka, ingin di tolong atau tidak? Dua opsi yang sulit bagi si penolong atau yang di tolong karena, ke dua nya pasti menimbulkan reaksi dengan di ikuti resiko yang bahkan hanya tuhan saja yang tau.
"Hahhh" helaan nafas Sena keluar kan, melihat keter bisuan Janu Sena simpulkan Janu 'tidak butuh di tolong'.
Sena berdiri dari duduk nya hendak pergi meninggalkan tempat penuh kebisuan itu, jika seperti ini terus yang ada hanya ada acara pantomim saja, bagai kan pemeran Charlie Chaplin.
"Bokap gue" ucap Janu, melihat Sena hendak membuka pintu rooftop untuk kembali kedalam.
Sena diam masih memegang gagang pintu, ia diam dan tetap berdiri pada tempat nya.
"Dia minta gue untuk tanda tangan surat hak waris atas perusahaan ayah, dan dia dengan sepihak mindahin mama. Bukan dia jadiin mama sebagai sandera biar gue mau tanda tangan surat alih waris"
"Keluarga gue ancur sen, 7 tahun lalu waktu gue kehilangan ayah selamanya" Sena bungkam, otak nya langsung paham, ayah dan bokap yang menjadi duduk permasalahan Janu, ada dua kemungkinan mama nya Janu menikah lagi, atau bokap yang dimaksud ini seperti ayah angkat atau keluarga dari pihak ayah nya atau bisa saja, pihak ibunya sperti ayah baptis atas nama keluarga mungkin?
KAMU SEDANG MEMBACA
POLARIS
FanfictionKisah tentang sena dan teman-temannya. Luka nya, sakitnya, bahagia nya, tawa nya, marah, khawatir dan kecewa. kalian akan dibawa ke dalam banyak nya Lika liku kisah para pemuda ini. "Gue beruntung ketemu bapak kost kaya lo Na" -janu "Sebagai penghu...
